Komite Seleksi Film pada Selasa (17/9) telah memutuskan memilih Kucumbu Tubuh Indahku sebagai perwakilan Indonesia di ajang Best International Feature Film atau dulu yang dikenal sebagai Best Foreign Language Film.
Ketua Komite Film Indonesia Christine Hakim memandang Kucumbu lebih layak, dibanding 42 film lainnya yang juga diseleksi, karena sebagai karya lebih lengkap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, dia mencontohkan bahwa adegan percintaan dalam film ini digambarkan tidak seperti biasa sebagaimana orang bercinta yang vulgar.
Bukan hanya itu, CNNIndonesia.com sebelumnya menilai Kucumbu Tubuh Indahku berani mengangkat kisah bernuansa LGBT di tengah suasana Indonesia yang sensitif dengan kelompok marjinal tersebut.
Dengan cerita yang mengangkat kelompok LGBT, hal ini akan bisa menarik perhatian juri Oscar. Ditambah nama Garin Nugroho juga tergolong akrab bagi sebagian kritikus dan sineas di Hollywood.
Beragam hal tersebut setidaknya membuat Kucumbu Tubuh Indahku memiliki modal yang cukup untuk membuat juri Best International Feature Film, setidaknya, berkenan melihat lebih lanjut.
Meski begitu, sejumlah alasan lainnya pun bisa jadi hambatan Kucumbu menari luwes di hadapan para juri dan membuka jalan menjadi nominasi Oscar.
'Komite Seleksi Film' pada Selasa (17/9) telah memutuskan memilih Kucumbu Tubuh Indahku sebagai perwakilan Indonesia di ajang Best International Feature Film atau dulu yang dikenal sebagai Best Foreign Language Film. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
AMPAS sendiri diketahui memiliki jumlah anggota mencapai sekitar enam ribu orang. Sebagian dari mereka direkrut oleh pihak the Academy untuk menjadi juri Oscar.
Sedangkan dalam kategori tersebut, setidaknya ada 89 negara peserta yang masing-masing mengirim satu film. Artinya, persaingan awal yang harus dihadapi Kucumbu Tubuh Indahku adalah melawan 88 film lain untuk mendapatkan perhatian juri.
Untuk mengatasi hal ini, sejumlah strategi perlu dilakukan. Nia Dinata pernah berbincang dengan CNNIndonesia.com pada 2016 lalu tentang kesulitannya mempromosikan film Ca Bau Kan yang pernah dikirim untuk kategori Best Foreign Language Fim dari Indonesia.
"Harus bikin DVD, bagikan satu per satu ke jurinya, publikasi dengan bagus supaya ditonton. Kalau mereka enggak menonton, bagaimana mau memilih?" tuturnya Nia, waktu itu.
Nia pernah merasakan beban setelah Ca Bau Kan dipilih mewakili Indonesia masuk Oscar. Grup bentukan pemerintah kala itu tidak menyiapkan paket promosi. "Saya kebingungan ditelepon Academy. Bikin itu [promosi] kan mahal," katanya.
Bukan hanya membuat DVD. Catatan Komite Seleksi Film 2019 menunjukkan tim yang diutus mengawal film perwakilan dari Indonesia pada 2018 lalu memasang iklan pada sejumlah media di Los Angeles dan menggelar acara penayangan khusus untuk meningkatkan peluang jangkauan film ke juri.
Kucumbu Tubuh Indahku sendiri tercatat masuk ke Venice Film Festival untuk kompetisi Orizzonti, yang merupakan di luar kompetisi utama. (dok. Fourcolours Films) |
Akan tetapi, sebenarnya materi promo ini akan bisa terbantu bila film yang diwakilkan memiliki prestasi di festival-festival film internasional. Khususnya, festival yang 'terpandang' di mata sineas Hollywood, seperti Venice International Film Festival dan Cannes Film Festival.
Prestasi tersebut pun bukan hanya sekadar ditayangkan di festival itu, melainkan memenangkan penghargaan atau mendapatkan sorotan media secara luas juga jadi perbincangan.
Roma berhasil memenangkan penghargaan tertinggi di Venice Film Festival yaitu Golden Lion, sedangkan Shoplifters memenangkan penghargaan tertinggi di Cannes Film Festival yaitu Palme d'Or.
Sedangkan tiga nomine lainnya, yaitu Capernaum (Libanon), Cold War (Polandia), Never Look Away (Jerman), masing-masing juga punya prestasi.
Capernaum berhasil masuk seleksi kompetisi Palme d'Or di Cannes Film Festival dan memenangkan Jury Prize, Cold War juga premier di Cannes Film Festival dan menarik perhatian para kritikus selain memang karya dari sutradara pemenang Oscar di kategori Best Foreign Language
Sementara itu Never Look Away mendapatkan nominasi Golden Lion Venice Film Festival.
Sedangkan modal Kucumbu Tubuh Indahku sendiri tercatat masuk ke Venice Film Festival untuk kompetisi Orizzonti, yang merupakan di luar kompetisi utama.
Pada kategori itu pun, Kucumbu Tubuh Indahku kalah dari film Thailand, Manta Ray, yang mengisahkan polemik Rohingya dan dituturkan dengan cara yang puitis. Seperti diketahui, masalah Rohingya memiliki kekuatan nilai kemanusiaan yang tinggi dan sempat jadi isu internasional.
Situasi ini juga yang menjadi beban selanjutnya Kucumbu Tubuh Indahku bisa meraih nominasi, yaitu persaingan antar film.
Tampaknya hanya keajaiban yang membuat Kucumbu Tubuh Indahku mampu menang dari 'Parasite' dari Korea Selatan. (dok. CJ Entertainment/Korean Film Council) |
Pesaing paling dekat dengan Kucumbu Tubuh Indahku dari segi negara asal adalah Manta Ray dari Thailand. Walaupun peluang unggul amat tipis, Kucumbu Tubuh Indahku masih mungkin untuk bisa bersanding dengan bangga melawan film garapan Phuttiphong Aroonpheng itu.
Meski begitu, keputusan memilih Kucumbu Tubuh Indahku mewakili Indonesia ke Oscar harus diakui berani dan tepat.
Melalui Kucumbu Tubuh Indahku, perfilman Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa para sineas lokal berani bermain dalam tema sensitif dan kemanusiaan dengan cerita yang kuat tanpa meninggalkan unsur budaya setempat.
Kini, dunia perfilman Indonesia tinggal menunggu dukungan penuh pemerintah dan keajaiban yang membuat Kucumbu Tubuh Indahku bisa bersanding di nominasi Oscar 2020 mendatang.
(end)
'Komite Seleksi Film' pada Selasa (17/9) telah memutuskan memilih Kucumbu Tubuh Indahku sebagai perwakilan Indonesia di ajang Best International Feature Film atau dulu yang dikenal sebagai Best Foreign Language Film. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Kucumbu Tubuh Indahku sendiri tercatat masuk ke Venice Film Festival untuk kompetisi Orizzonti, yang merupakan di luar kompetisi utama. (dok. Fourcolours Films)
Tampaknya hanya keajaiban yang membuat Kucumbu Tubuh Indahku mampu menang dari 'Parasite' dari Korea Selatan. (dok. CJ Entertainment/Korean Film Council)