Cinta Abadi dan Pengorbanan Srimulat, Teguh, dan Jujuk

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 28/09/2019 11:03 WIB
Cinta Abadi dan Pengorbanan Srimulat, Teguh, dan Jujuk Kemunculan grup Srimulat tak bisa dilepaskan dari pengorbanan cinta antara Raden Ayu Srimulat, Teguh Slamet, dan Jujuk Juwariah. (Dok. Eko Saputro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suatu hari pada 1947. Pria bujang keturunan Tionghoa bernama Kho Tjien Tiong datang ke sebuah perayaan pembentukan Angkatan Laut Republik Indonesia di Purwodadi, Jawa Tengah.

Nama lain pria itu adalah Teguh Slamet Rahardjo. Seorang gitaris Orkes Keroncong Bunga Mawar.

Ia dan timnya diminta untuk memeriahkan acara tersebut.


Teguh datang bukan hanya mengisi acara bersama orkesnya, melainkan juga 'dipinjam' untuk mengiringi kelompok seni lain. Kelompok yang dimotori seorang wanita sinden terkenal di masa itu, Raden Ayu Srimulat.

Nama Srimulat harum di kelasnya. Ia sudah bernyanyi langgam Jawa dan keroncong, dari panggung ke panggung, dari kampung ke kampung, dari acara ke acara, sejak usia belasan tahun.

Demi rencana bermusik, Srimulat tega meninggalkan keluarga dan status anak ningrat dengan kabur dari Kawedanan Bekongan, Solo. Ia melepasnya demi sesuatu yang membuatnya bahagia.

Belasan tahun mengejar mimpi sebagai sinden, Srimulat pun bertemu jodoh dan belahan jiwa saat bernyanyi di perayaan Angkatan Laut. Tak lain dan tak bukan Teguh Slamet.

Harry 'Gendut' Janarto penulis buku Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi mencatat bahwa momen acara Angkatan Laut itu adalah kali pertama Teguh dan Srimulat bertemu secara langsung.
Raden Ayu Srimulat meninggalkan status ningrat demi panggilan hati jadi sinden.Raden Ayu Srimulat meninggalkan status ningrat demi panggilan hati jadi sinden. (Dok. Eko Saputro)
Teguh sebenarnya pernah beberapa kali melihat Srimulat tampil. Namun, perayaan di Purwodadi itu adalah detik pertama Srimulat menjatuhkan pandangan pada Teguh.

Konon, cinta datang karena terbiasa. Itulah yang terjadi dengan Teguh dan Srimulat. Berawal dari pekerjaan, Teguh dan Srimulat semakin dekat secara pribadi hingga kemudian menjalin kasih.

Perbedaan usia dan status yang kelewat jauh, Teguh jejaka 21 tahun dan Srimulat 39 tahun dengan dua kali menjanda, tak membuat mereka berjarak sama sekali.

Tiga tahun menjalin asmara, Teguh memberanikan diri meminang Srimulat ke pelaminan. Janji suci itu pun terikat pada 8 Agustus 1950.

Memiliki imam hidup yang membuat hidupnya penuh cinta, Srimulat juga tak sungkan memanggil suaminya sebagai "Mas Teguh".

Teguh, dengan penuh cinta dan hormat kepada istrinya, memanggil Srimulat dengan "Yu Sri", kependekan dari "Mbak Ayu Sri" alias "Mbak Cantik Sri".

Namun, di balik nuansa cinta yang memenuhi napas Srimulat kala itu, ia memendam rasa hampa.

Ia sadar, di usia yang tak lagi muda, dirinya tak mampu memberikan keturunan kepada Teguh.

Teguh sesungguhnya tak ambil pusing. Pasalnya, ia sudah memiliki buah cinta dari Srimulat, yaitu grup bernama Gema Malam Srimulat yang lahir di malam pengantin mereka.
Teguh Slamet menjalin asmara dengan Srimulat sejak bertemu di Purwodadi.Teguh Slamet menjalin asmara dengan Srimulat sejak bertemu di Purwodadi. (Dok. Herry Gendut Janarto)

Gema Malam Srimulat yang bergelut di bidang musik dan lawak kemudian tumbuh besar, berevolusi, dan kemudian menjadi legenda dunia hiburan Indonesia.

Sebagai orang tua, Teguh dan Yu Sri mengayomi anggota-anggota di dalamnya sebagaimana orang tua membesarkan anak. Mereka keliling berbagai kota di Jawa Timur untuk mencari panggung, meluapkan darah seni, sekaligus menghasilkan uang demi sesuap nasi.

Rombongan seni itu terus tumbuh hingga dapat tempat khusus di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya pada 1961.

Orang datang dan pergi seiring waktu berjalan. Itu pula terjadi pada grup ini. Salah satunya seorang gadis remaja yang meninggalkan sekolahnya demi bergabung dengan Gema Malam Srimulat. Juwariah namanya.

[Gambas:Video CNN]

Bunga Merekah Juwariah

Semula Juwariah bergabung dengan Srimulat sebagai penari. Namun Srimulat dan Teguh melihat ia memiliki bakat lain sehingga diajak untuk menyanyi.

Juwariah tampil menakjubkan. Ia pun diberi nama panggung Jujuk.

Tak hanya sampai di sana, Jujuk juga ditantang untuk melawak. Lagi-lagi ia menjawabnya dengan penampilan mengesankan, meski tak sehebat pelawak-pelawak andalan kelompok itu. Yang pasti, Jujuk perlahan merekah dari seorang gadis yang kabur dari sekolah menjadi salah satu primadona Srimulat.

Siapa sangka, di kemudian hari Jujuk 'ditunjuk' oleh RA Srimulat untuk menggantikan dirinya sebagai pendamping Teguh.

Eko Saputro, putra dari Teguh dan Jujuk, pada suatu siang di bulan Juli di Solo, Jawa Tengah, bercerita kepada CNNIndonesia.com soal kisah cinta orang tuanya. Ia memang tak tahu detil, tapi saat di bangku SMP sempat mendengar cerita Srimulat-Teguh-Jujuk dari asisten Srimulat.

Koko, sapaan akrab Eko, tak begitu ingat nama sang asisten yang sering mengerok tubuh Yu Sri saat sakit tersebut. Di momen-momen itu Yu Sri disebut kerap mencurahkan kegundahan hatinya.

Jujuk Juwariah dikenal sebagai primadona Srimulat.Jujuk Juwariah dikenal sebagai primadona Srimulat. (Dok. Srimulat Jakarta)
"Dia [sang asisten] cerita ke saya, 'wong mamamu [Jujuk] dari awal sudah dijodohkan sama ibu Sri kok'. Bu Sri memang umurnya tidak lama, karena beliau sakit diabetes," kata Koko.

Koko mendengar cerita Yu Sri meninggal akibat infeksi pada kakinya yang terluka. Yu Sri jatuh ke selokan saat hendak beli makanan dan keperluan pentas Srimulat di Banyuwangi.

Akibat terjatuh, betis Yu Sri terluka hingga berdarah. Namun ia tak menggubris dan hanya mengobati seadanya. Srimulat dan anggota timnya tetap melenggang ke Banyuwangi. Sementara Teguh tak bisa menemani karena harus mengawasi pementasan di Surabaya.

Penyakit gula yang diam-diam menggerogoti Srimulat pun menampakkan diri. Luka itu sulit sembuh. Srimulat infeksi hingga demam parah dan pingsan.

Mendengar kabar Srimulat ambruk, Teguh sigap meninggalkan Surabaya dan menjemput istri tercinta. Tak ada yang lebih penting dibanding sang kekasih.

Membopong Srimulat, Teguh membawa Yu Sri tercinta ke dokter. Namun infeksi sudah kadung parah. Dokter menyarankan Srimulat untuk diamputasi. Saran yang kemudian ditolak Srimulat demi tetap bisa tampil dengan bangga di atas panggung.

Namun dokter bahkan menjatuhkan vonis lebih kejam. Hidupnya tak akan bisa lama bila tak menyembuhkan penyakitnya itu.

Vonis dokter membuat dunia Yu Sri mendadak gulita. Terutama ketika mengingat Teguh, suami tercintanya yang tak bisa ia berikan keturunan.

Hati Srimulat remuk redam. Ia nelangsa. Ia cinta Teguh. Ia cinta panggung. Namun kini dipaksa menerima kenyataan bahwa ia tak bisa lebih lama memeluk semua yang ia sayangi itu.
Srimulat (kiri) ambruk saat mentas di Banyuwangi.Srimulat (kiri) ambruk saat mentas di Banyuwangi. (Dok. Eko Saputro)


Di tengah nelangsa dan kesuraman hidup Srimulat, ia tetap memikirkan Teguh.

Srimulat nerimo bila tak bisa memberikan buah cinta bagi Teguh, tapi tak mau bila suaminya tak memiliki keturunan.

Saat itulah, keikhlasan dan kebesaran hati Srimulat sebagai seorang istri dan perempuan, muncul.

"Bu Sri merasa enggak bisa memberikan keturunan. Waktu bapak dijodohkan (dengan Bu Jujuk), bapak marah. Bapak saya cinta sama Bu Sri itu benar tanpa memikirkan keturunan. Akhirnya Bu Sri meminta bapak menikah lagi," kata Koko.

Koko melanjutkan dengan menirukan perkataan Yu Sri kepada Teguh.

"Dari anak buahku, aku cuma minta mendampingi kamu biar rombongan ini jadi besar. Ya cuma Jujuk ini".

Bahkan, dalam buku Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi, ada kalimat pemungkas yang diucapkan Yu Sri kepada Teguh: 'Mas, hati-hati dan baiklah dalam mengurus anak buah di kemudian hari'.

Tak lama berselang setelah menitipkan pesan pada Teguh, Srimulat pun berpulang.

Mendung 1 Desember 1968 tak akan pernah dilupakan keluarga besar grup Srimulat. Hari itu, mereka harus melepaskan ibu asuh mereka, Raden Ayu Srimulat, selamanya.

Kepada CNNIndonesia.com, Koko sempat menunjukkan sebuah foto yang menggambarkan duka grup Srimulat saat jenazah Yu Sri disemayamkan dalam peti. Foto itu masih tersimpan di sebuah album di rumah Koko. Sampulnya merah gelap berselimut debu.
Penyemayaman Srimulat yang dihadiri oleh pemain Aneka Ria Srimulat. Jujuk, pemain Srimulat yang akan menikah dengan teguh, turut hadir.Penyemayaman Srimulat yang dihadiri oleh pemain Aneka Ria Srimulat. Jujuk, pemain Srimulat yang akan menikah dengan Teguh, turut hadir. (Dok. Eko Saputro)
Ranjang Kedua Teguh

Selepas kepergian Srimulat, Jujuk semula tak langsung berkenan dengan Teguh. Ia sungkan dengan bosnya sendiri. Apalagi, Teguh adalah suami yang amat mencintai Srimulat, yang juga amat dihormati Jujuk.

Hingga kemudian ia mengalami pengalaman ganjil ketika Srimulat dimakamkan. Ia melihat sosok Yu Sri, muncul di antara orang yang datang ke pemakaman, menatap kepadanya.

Bahkan lebih ganjil lagi. Sosok mirip Yu Sri itu berbicara kepada Jujuk.

"Sudah saya serahkan segala sesuatunya untuk melayani bapakmu (Teguh)", begitu pesannya.

Hati Jujuk bergejolak. Semua tak masuk dalam logikanya. Ia pun menangis dan hanya bisa mengisahkan pengalaman ganjil itu dengan seorang pemain Srimulat bernama Harti. Dengan tenang, Harti menyebut itu sudah perintah Yu Sri yang mestinya dimengerti oleh Jujuk.

Jujuk pun luluh. Ia bersedia didekati oleh Teguh. Seribu hari setelah kematian Srimulat, atau tepatnya pada 1970, Teguh yang 21 tahun lebih tua melamar Jujuk.

Menjadi pendamping Teguh tak serta merta membuat Jujuk menempati posisi yang pernah diduduki Srimulat. Jujuk tetap menjadi pemain dalam grup itu, kemudian jadi istri bila di rumah.

"Bapak saya semakin mengerti bahwa kalau bapak memberikan arahan kepada ibu, kadang malah enggak masuk. Akhirnya bapak meminta asisten sutradara untuk memberikan arahan ulang kepada ibu, waktu itu Asmuni," kata Koko.
Selama tampil Jujuk selalu menggunakan kebaya, kain dan sanggul. Ketika turun panggung ia berperan sebagai istri TeguhSelama tampil Jujuk selalu menggunakan kebaya, kain dan sanggul. Ketika turun panggung ia berperan sebagai istri Teguh. (Dok. Srimulat Jakarta)
Di sisi lain, Teguh juga profesional terhadap Jujuk. Ia senang saat melihat Johny Gudel atau Bandempo pandai merayu istrinya di panggung. Ia juga tak cemburu ketika Jujuk dipeluk oleh Asmuni atau Gepeng pada adegan mesra.

"Itu semua hanya tuntutan cerita. Penampilan Jujuk di televisi atau panggung bukan main jelita. Ia juga mampu mengimbangi akting lawan mainnya dengan baik. Itu menurut pengamatan saya lho," kata Teguh dikutip dari buku Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi.

Pada pertengahan 1980-an, Teguh meminta Jujuk untuk pensiun dari panggung. Alasannya, agar Gepeng bisa tampil sendiri meskipun di kemudian hari pelawak itu dikeluarkan dari Srimulat oleh Teguh.

Jujuk yang tak ingin hanya menjadi ibu rumah tangga, kemudian belajar menjadi juru rias atau juru paes. Keinginan yang juga mendapatkan sokongan dari Teguh. Sang suami memang takkan menentang apa pun kegiatan Jujuk selama itu baik.

Kemampuan Jujuk pun merias berkembang pesat. Bahkan sempat menjadi guru rias dan penguji guru rias.

Saat itu, menurut Koko, banyak perias pengantin di Solo yang tidak laku karena kehadiran Jujuk di arena perias komersil. Banyak pengantin yang ingin dirias Jujuk karena statusnya sebagai seniman, tapi mematok harga yang terjangkau.

Koko ingat ibunya memasang harga yang saat itu tergolong menengah, sebesar Rp2,5 juta untuk sekali rias. Harga termurah berada di Rp1 juta dan termahal berada di Rp5 juta.

"Akhirnya ibu menaikkan harga menjadi Rp10 juta, tetap saja ada yang mengejar," kata Koko.
Teguh memiliki empat orang anak bersama Jujuk.Teguh memiliki empat orang anak bersama Jujuk. (Dok. Srimulat Jakarta)
Namun, di tengah karier Jujuk yang menanjak sebagai perias menjelang tahun 1990-an, Teguh justru meminta istrinya berhenti.

"Ibu sempat mengeluh karena tak ada kegiatan. Bapak membalas, 'Ya kan nanti ada kegiatan lain yang lebih sibuk'," kata Koko.

Di hari tua, Teguh dan Jujuk hidup bahagia dengan empat orang anak. Mereka adalah Koko, Ari Wibowo, Mia Pertama dan yang paling kecil Shintia Perdana. Disokong oleh kondisi ekonomi yang berlebih.

Meski hidup bahagia berdua, mereka tak melupakan sosok Raden Ayu Srimulat. Srimulat adalah alasan Teguh menjadi bos grup lawak legendaris dan jadi suami Jujuk.

Mereka berdua tak pernah melupakan Yu Sri dengan segala kebesaran hatinya. Hal ini terlihat ketika CNNIndonesia.com berkunjung ke rumah mereka berdua di Solo, beberapa waktu lalu.

Foto Yu Sri terpampang pada dinding di atas ranjang Teguh dan Jujuk.

Yu Sri seakan ikut jadi saksi Mas Teguh dan mantan pemainnya sekaligus muridnya, Jujuk, menjalani mahligai rumah tangga yang bahagia.


Tulisan ini merupakan bagian dari Liputan Khusus CNN Indonesia. Klik selengkapnya di sini: Srimulat Tak Pernah Tamat. (end/vws)