Laporan dari Busan

Upaya Festival Film Busan Jadi Jembatan Film Asia

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Minggu, 13/10/2019 14:17 WIB
Upaya Festival Film Busan Jadi Jembatan Film Asia Sebagai salah satu festival film terbesar di Asia, Busan International Film Festival jadi ajang penting untuk mengenalkan perfilman Korea ke internasional. (Jung Yeon-je / AFP)
Busan, CNN Indonesia -- Perjalanan seabad perfilman Korea Selatan tidak bisa dilepaskan dari peran festival film dalam beberapa dekade terakhir, salah satunya adalah Busan International Film Festival (BIFF).

Sebagai salah satu festival film besar di Asia, BIFF yang dimulai sejak 1996 menjadi ajang penting untuk mengenalkan perfilman Korea ke pasar internasional. Apalagi acara ini juga menarik perhatian dari Hollywood, yang ingin menguatkan cengkeraman di Asia.

Selayaknya pintu gerbang, BIFF menjadi langkah awal film lokal Korea -dan kini juga Asia- bila ingin menarik perhatian perusahaan film atau pun distributor dari Hollywood.


Lewat ajang yang biasa diselenggarakan Oktober tiap tahunnya ini, banyak film Korea yang berhasil diboyong ke berbagai negara di dunia.

"Saya meyakini sangat efektif, karena pihak industri perfilman mancanegara tertarik dengan film-film yang mendapatkan sambutan hangat dari penonton di Busan," kata Jung Han-seok, selaku perwakilan penyelenggara kepada CNNIndonesia.com, di sela jadwal padat BIFF 2019 di Busan, Korea Selatan.

Upaya Festival Film Busan Jadi Jembatan Film AsiaSebagai salah satu festival film terbesar di Asia, BIFF yang dimulai sejak 1996 lalu menjadi ajang penting untuk mengenalkan perfilman Korea ke pasar internasional. (Ed JONES / AFP)

Ia mencontohkan 'Gang', salah satu film Korea, yang tayang di acara tersebut dan kemudian mendapatkan perhatian dari penonton hingga sineas internasional. Menurutnya, kesempatan tersebut selalu terjadi setiap tahun dan akan berlanjut di masa mendatang.

Bukan hanya film, lewat BIFF, sejumlah sutradara ataupun sineas Korea Selatan pun dilirik perusahaan asing untuk bekerja sama ataupun dikenal publik.

Tak hanya itu, banyak film buatan luar Korea juga dikenalkan kepada penonton lokal di sana. Dua hal yang menjadi tanda pertukaran informasi budaya tersebut berperan dalam mengembangkan budaya perfilman Korea dan negara yang memiliki wakil di BIFF.

Menyadari peran sebagai jembatan dan gerbang perfilman Korea, BIFF berusaha menjaga kurasi film yang akan ditampilkan namun tetap menampilkan keragaman identitas sebagai bagian dari bangsa Asia.

"Memang Busan International Film Festival memainkan peran penting dalam dunia sinema Asia. Baru-baru ini kami meluncurkan dana dukungan produksi untuk menjamin film 'Moonlit Winter' karya sutradara Lim Dae-hyung selesai," ucap Jung Han-seok.

Film lain seperti 'Not in This World' yang disutradarai Park Jung-bum juga menerima bantuan serupa.

Seperti festival film lainnya di dunia, acara tahunan tersebut juga membuat Platform Busan jadi tempat membuka jaringan bagi para sineas, terutama pembuat film muda Asia untuk dapat saling berinteraksi.

Tahun ini, sutradara Park Chan-wook menjamu para sineas muda Asia. Park Chan-wook merupakan sutradara, penulis naskah sekaligus produser sejumlah film populer Korea seperti Oldboy, The Handmaiden, Thrist serta I'm a Cyborg.

Namun, Jung Han-seok mengatakan Busan International Film Festival juga bisa sebesar saat ini berkat sambutan hangat dari masyarakat Korea bahkan internasional setiap tahunnya.
Upaya Festival Film Busan Jadi Jembatan Film AsiaSalah satu film Indonesia yang mejeng di BIFF 2019 adalah 'The Science of Fictions' yang disutradarai Yoseph Anggi Noen yang masuk dalam sektor A Window of Asian Cinema. (Dok. KawanKawan Media)

Tahun ini, Busan International Film Festival 2019 menayangkan 299 film dari 85 negara. Di antara ratusan film itu, 118 film akan tayang untuk pertama kali di dunia, sementara 27 film akan tayang perdana tingkat internasional.

Jung Han-seok mengatakan tak ada aturan resmi mengenai pembagian jumlah film yang ditayangkan. Hal itu berubah tiap tahun.

Beberapa film Indonesia juga muncul di Busan International Film Festival tahun ini.

Salah satu film Indonesia yang mejeng di BIFF 2019 adalah 'The Science of Fictions' yang disutradarai Yoseph Anggi Noen yang masuk dalam sektor A Window of Asian Cinema.

'Tak ada yang Gila di Kota ini' karya Wregas Bhanuteja juga tayang untuk ikut kompetisi film pendek.

Sementara itu, film 'Aladin' juga tayang dalam bagian Busan Classics. Aladin merupakan film hitam putih Indonesia yang tayang pada 1953 yang disutradarai Sing Hwat Tan.

[Gambas:Youtube] (end)