Laporan dari Busan

Jejak Lee Chang-dong Mengantar Film Korea ke Dunia

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Minggu, 13/10/2019 13:08 WIB
Jejak Lee Chang-dong Mengantar Film Korea ke Dunia Jejak Lee Chang-dong mengubah dan membawa film Korea ke mata dunia dimulai dari kecintaannya menonton film.(LOIC VENANCE / AFP)
Busan, CNN Indonesia -- Nama sutradara senior Lee Chang-dong mungkin tak terlalu akrab di telinga milenial. Namun ia adalah sosok penting dalam perkembangan perfilman Korea hingga bisa mendunia.

Nama Lee Chang-dong sudah menggema di berbagai ajang perfilman internasional sejak lama. Ia pernah memenangkan piala Silver Lion untuk Best Director di Venice Film Festival pada 2002.

Ia juga menghasilkan banyak karya yang diakui bukan hanya di Korea, melainkan juga dunia internasional.


Lee Chang-dong pun berkesempatan menancapkan pengaruh di dunia perfilman secara langsung sebagai Menteri Budaya dan Pariwisata Korea Selatan pada 2003-2004.

Salah satu karya fenomenal Lee adalah Burning pada 2018. Film tersebut menjadi film pertama Korea Selatan yang masuk daftar sembilan calon nomine Best Foreign Language Film pada Academy Awards ke-91 atau Piala Oscar 2019.

Dianggap sebagai salah satu orang berpengaruh dan pengubah industri perfilman Korea yang telah berjalan seabad terakhir, Lee justru menolak anggapan tersebut.

Saat ditemui ketika mengisi acara di Busan International Film Festival 2019, Lee Chang-dong hanya merasa dirinya berkiprah melalui film selama ini hanya sebagai sarana berkomunikasi dengan masyarakat.
Jejak Lee Chang-dong Mengantar Film Korea ke DuniaSalah satu karya fenomenal Lee adalah Burning pada 2018. (Dok. PINE HOUSE FILM,NOW FILM,NHK via HanCinema)

"Tidak seperti itu. Saya mulai membuat film ketika berumur 40 tahun. Saya lelah karena hidup ini aneh dan mulai membuat film. Bukan karena ingin mengubah perfilman Korea," kata Lee.

Bagi Lee, film adalah medium yang tepat untuk menyampaikan pesan. Ia masih meyakini hal itu bahkan hingga kini, saat memandang keramaian orang yang sibuk lalu-lalang di BIFF, festival film terbesar di Asia.

Menurut Lee, orang Busan memang mencintai film. Mereka lebih memilih menonton film dibandingkan berjalan-jalan meskipun cuaca sedang bagus. Apalagi ke mal.

Terjun ke industri perfilman sejak 1997 lalu disebut Lee tak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak. Katanya, masalah ekonomi kala itu yang juga berdampak kepada ia dan keluarganya mendorong Lee mencari penghasilan lain.

Namun justru titik terendah dalam hidupnya itu lah yang membuat ia di posisi saat ini, menyandang Achievement in Directing di Asia Pacific Screen Awards 2017, juri Grand Prize di Asia Pacific Screen Awards 2018, penerima Best Director dan Lifetime Achievement Award di Asian Film Awards 2019.

Hal itu belum termasuk dengan dirinya sebagai nomine penerima Golden Lion dan Palme d'Or, penghargaan tertinggi di Cannes Film Festival.

"Saya dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga miskin dan kondisi yang rusuh. Saya bahkan sangat miskin dibandingkan dengan keluarga pada umumnya sampai saya tak bisa menonton ke bioskop karena tidak punya uang," kenang pria kelahiran 1 April 1954 di Daegu, kota terbesar ke-empat di Korea Selatan, tersebut.
Jejak Lee Chang-dong Mengantar Film Korea ke DuniaBagi Lee Chang-dong, film adalah medium yang tepat untuk menyampaikan pesan. (Rich Fury/Getty Images/AFP)

Namun suatu kali kakaknya memiliki uang dan mampu membelikan dirinya tiket bioskop. Lee kini tak begitu ingat film yang ia tonton kala itu. Tapi kenangannya masih membekas di benaknya yang terdalam.

Ia mengakui kala itu mengira para pemain yang muncul di film merupakan penonton yang bergantian tampil. Termasuk dirinya. Ia pun berpikir keras cerita apa yang mesti ia bawakan ketika gilirannya untuk tampil datang.

"Saya berpikir apakah saya juga harus maju? Saya harus bilang apa? Saya mau cerita apa? Kata pepatah, pengalaman pertama menentukan identitas seseorang dan itu yang saya rasakan. Saya jadi memiliki keinginan untuk menceritakan kisah saya," kata Lee mengenang kepolosannya dulu saat masih awal remaja.

Keinginan itu terus bertumbuh ketika dirinya mulai membantu tetangga yang bekerja sebagai tukang lampu di bioskop. Bayarannya memang tak seberapa, tapi berkat itu ia bisa sering menonton film bioskop.

Bukan hanya menikmati film gratis, pekerjaan tukang ganti lampu itu juga mengajarkan dirinya untuk menjadi lebih dewasa.

"Tapi saya tak pernah menonton dari awal sampai akhir. Selalu di bagian tengah film. Saya jadi membayangkan bagaimana awal dan akhir dari film tersebut. Sepertinya itu yang membentuk saya," lanjutnya.

[Gambas:Youtube]

Kesempatan jadi penonton gratisan tak bertahan lama. Ia tak lagi diperlukan sebagai tukang ganti lampu. Padahal, waktu itu ada film animasi Korea pertama yang rilis, Hong Gil-dong (1967). Ia amat ingin menonton film itu di samping memang jadi buah bibir di masanya.

Rezeki tak ke mana. Lee mendapatkan uang dari sepupunya. Ia pun bergegas ke bioskop. Namun antriannya panjang dan ia tak selera mengantri. Ia pun mencari bioskop yang sepi dan sembarang memilih bangku juga film. Baginya, yang terpenting bisa menonton.

Tak sia-sia Lee berjuang menonton film. Film asal pilih itu begitu membekas dalam benak. Ia kemudian menyadari bahwa film bak kehidupan yang tak bisa ditebak. Kecintaan dirinya pada film pun makin mendalam.

Kecintaan Lee Chang-dong terhadap film sempat tak terpenuhi di dekade '60-an. Kala itu, Pemerintah Korea yang dipimpin diktator Park Chung-hee membatasi gerak industri perfilman, termasuk memberi tekanan ke sineas mulai dari sensor hingga jenis film yang boleh beredar.

Selama pembatasan tersebut, industri perfilman Korea terjun bebas. Penonton sepi. Film lokal mati suri. Ketika Park Chung-hee meninggal pada 1979, perlahan kondisi berubah.

Namun mengembalikan posisi seperti sedia kala usai jatuh memang tak mudah.

Jejak Lee Chang-dong Mengantar Film Korea ke DuniaLee Chang-dong (kanan) bersama pra pemain 'Burning' di Cannes Film Festival 2018. (LOIC VENANCE / AFP)

Pada dekade '80-an, Lee Chang-dong sempat batal menonton di bioskop karena studio kala itu hanya berisikan dua orang, termasuk dirinya. Pihak bioskop membatalkan penayangan dan mengembalikan uang karena penonton sedikit.

Lee Chang-dong yang kala itu sudah menjalani profesi sebagai novelis merasa sedih bukan kepalang dengan kondisi perfilman Korea. Ia pun mulai memberanikan diri menulis naskah film.

Film yang ditulisnya pertama kali adalah To The Starry Island yang rilis pada 1993. Dua tahun kemudian, ia menulis A Single Spark. Kedua film itu digarap oleh Park Kwang-soo, salah satu sineas yang dianggap sebagai pelopor New Korean Cinema.

Kedua film tersebut tergolong masuk ke berbagai festival film luar negeri. Namun ketika dirinya datang ke Vancouver International Film Festival (VIFF), ia sadar film Korea masih dipandang sebelah mata oleh dunia.

Perasaan itu bukan hanya sekali dirasakannya, namun berulang kali setiap mendatangi festival film internasional sebagai barometer pengenalan film lokal di mata dunia.

"Saya kaget film Korea tak dilihat seperti film China atau Jepang. Saya ingin dan berpikir keras bagaimana caranya film Korea menarik perhatian internasional," kata Lee Chang-dong.

[Gambas:Youtube]

Lee Chang-dong pun mulai menulis naskah sekaligus menjadi sutradara film sendiri melalui Green Fish (1997) yang berlanjut pada Peppermint Candy pada 1999.

Ia pun mulai meraih penghargaan seperti Dragon and Tiger Awards VIFF 1997 serta Don Quihote Award dan Special Jury Prize Karlovy Vary International Film Festival.

Oasis, film ketiga yang ditulis dan disutradarai dirinya sendiri juga memborong banyak penghargaan internasional. Begitu pula dengan Poetry (2010) serta Burning (2018) hingga tingkat Cannes Film Festival.

"Jadi saya di sini bukan karena belajar secara resmi. Saya hanya banyak menonton film dan menulis buku," ucap Lee Chang-dong. Kini, impian Lee Chang-dong melihat film Korea dipandang dunia pun sepertinya mulai terwujud di usia industri itu yang ke-100 tahun ini. (end)