Kembangkan Film Indie, Korsel Bakal Batasi Layar Blockbuster

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 17/10/2019 14:20 WIB
Kembangkan Film Indie, Korsel Bakal Batasi Layar Blockbuster Ilustrasi. (Dok. Sidus via HanCinema)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Korea Selatan berencana menetapkan batasan jumlah layar film yang dialokasikan untuk film raksasa alias blockbuster.

Wakil Menteri Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Kim Yong-sam mengatakan hal itu dilakukan demi menghindari monopoli film-film blockbuster.

"Kementerian kami berencana merevisi aturan Motion Pictures and Video Products yang fokus pada batasan jumlah layar supaya mencegah kecurangan kompetisi dalam industri perfilman," ucap Kim Yong-sam seperti dilansir Yonhap.


Pada saat ini, sekitar 80 persen jumlah layar di Korea Selatan dikuasai dua perusahaan besar, yakni CJ dan Lotte.

Dominasi pasar secara tak adil ini dinilai memungkinkan film tertentu terutama berbujet besar atau blockbuster Hollywood didistribusikan oleh jaringan bioskop raksasa dan mengambil sebagian besar layar bioskop lokal.

Hal tersebut dinilai membuat film-film dengan anggaran kecil atau film indie hanya memiliki sedikit peluang untuk debut di layar lebar.

Revisi Undang-undang diharapkan mengatur batasan jumlah layar untuk satu film yang diputar secara bersamaan sehingga beragam judul film lainnya bisa turut tayang secara luas.

Pemerintah mengajukan batasan sekitar 40 hingga 50 persen dari total layar di Korea Selatan.

Per April 2019, Korea Selatan memiliki lebih dari 2.800 layar yang tersebar di seluruh negeri. Grup CJ memiliki lebih dari 1.111 layar di Korea Selatan. Sementara itu, Lotte Cinema memiliki lebih dari 738 layar di negeri gingseng tersebut.

Tak hanya pembatasan, Kementerian Kebudayaan juga akan membentuk pusat dukungan bagi film-film independen yang beranggaran rendah mulai tahun depan, demi membangun suasana persaingan yang lebih sehat.

Pusat dukungan tersebut akan diberi nama Independent and Art Film Distribution Support Center.

Organisasi itu akan membantu film-film independen supaya mendapatkan jumlah layar yang cukup. Mereka juga akan membentuk database dan menghubungkannya kepada publik, swasta termasuk layanan streaming guna mendukung distribusi serta pemasaran film indie.

"Setiap tahun, lebih dari 1.000 film independensi diproduksi di Korea Selatan. Tapi kurang dari 10 persen yang tayang di layar lebar. Pusat dukungan akan memiliki peran besar dalam menghubungkan pembuat film dengan konsumen sehingga memiliki pasar lebih besar," kata Kim Yong-sam.

Ia mengatakan investasi sekitar 8 miliar won disiapkan untuk produsen film kecil dan menengah tahun ini. Jumlah tersebut akan meningkat menjadi 24 miliar won pada 2020, di mana sekitar 16 miliar won berasal dari pemerintah. (chri/end)