Christine Hakim Kritik Komitmen Negara untuk Film

CNN Indonesia | Rabu, 16/10/2019 21:27 WIB
Christine Hakim Kritik Komitmen Negara untuk Film Aktris senior Christine Hakim tak bisa menahan kesedihan yang ia rasakan atas perhatian pemerintah yang minim terhadap dunia perfilman.(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktris senior Christine Hakim tak bisa menahan kesedihan saat menyoroti perhatian pemerintah yang minim terhadap dunia perfilman.

Hal itu terjadi saat Christine menjadi tamu dalam jumpa media Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Rabu (16/10).

Christine menyebut peluang untuk mengembangkan perfilman Indonesia sangatlah besar jika saja pemerintah lebih menyadari bahwa dengan banyaknya penduduk Indonesia, dunia perfilman lokal malah kekurangan SDM.


Apalagi, saat ini sudah banyak investor asing yang mendanai film-film buatan anak muda. Beberapa di antaranya yang diketahui adalah Pengabdi Setan, Perempuan Tanah Jahanam, DreadOut, Bebas, atau Sweet20.

"Kepercayaan yang diberikan oleh investor luar juga luar biasa. Banyak sekali investasi yang mendanai film-film Indonesia, dan itu tidak bisa lepas dari apa yang sudah dilakukan oleh anak-anakku ini di JAFF," kata Christine.

"Peluang ruang untuk mengembangkan itu masih amat sangat besar sekali sebetulnya, kalau komitmen pemerintah memang sudah ada, tetapi [bisa] lebih besar lagi menyadari sebetulnya ini dengan penduduk Indonesia yang 260 juta bahkan. Kita sekarang dengan produksi yang sudah [harusnya] justru lebih, kita [malah] kekurangan SDM." lanjutnya.

Christine juga tak kuasa menahan tangis saat mengatakan bahwa generasi muda mempunyai peran yang sangat penting dalam menghidupkan dunia perfilman Indonesia. Dia menggunakan analogi kulit sebagai lapisan terluar perlindungan tubuh.

Bagi Christine, anak muda dan budaya adalah lapisan terluar dalam melindungi bangsa.


Christine Hakim Menangis Ingat Komitmen Negara untuk FilmChristine melanjutkan bahwa peluang untuk mengembangkan perfilman Indonesia sangatlah besar jika saja pemerintah lebih menyadari bahwa dengan banyaknya penduduk Indonesia, dunia perfilman lokal malah kekurangan SDM. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)


Christine juga mengatakan bahwa JAFF sebagai festival film sudah memiliki posisi yang amat sangat penting di Asia.

Christine membandingkan JAFF dengan festival lain yang memiliki anggaran jauh lebih banyak, namun dampak yang dihasilkan tidaklah sekuat festival film di Yogyakarta ini.

"Nah di sinilah pentingnya JAFF, karena untuk mempertahankan dua hal itu, maka JAFF ini ada dan survive karena memang ditangani anak-anak muda yang punya energi luar biasa yang punya komitmen," kata Christine lalu terdiam dan mulai terisak.

"Mereka luar biasa.. dan mereka melakukannya untuk dunia film bukan untuk dirinya, tapi untuk bangsa dan negara ini," lanjutnya.

"Itu yang tidak bisa dilakukan oleh banyak orang, bisa disadari oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini selama ini. Saya tahu betul bagaimana perjuangan mereka [sineas muda]. Saya tau betapa sulitnya. Tapi mereka tidak menangis seperti saya," kata Christine.

"Mereka tidak pernah menyerah, tidak pernah mengeluh. Mereka hanya terus berupaya berusaha agar apa yang menjadi komitmen bagi Indonesia bisa berjalan untuk kepentingan bangsa dan negara. Itu saja," katanya.

Christine Hakim Menangis Ingat Komitmen Negara untuk Film Film Abracadabra yang dibintangi oleh Reza Rahardian terpilih menjadi pembuka festival film JAFF 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Kebangkitan Asia

Acara festival film Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) akan kembali diselenggarakan pada tanggal 19 - 23 November 2019 di Empire XXI, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Memasuki tahun ke-14, JAFF mengusung tema "Revival" atau yang berarti kebangkitan. Menurut Ifa Isfansyah selaku Festival Director, tema ini terinspirasi dari budaya Asia yang pada saat ini sedang mengalami kebangkitan.

Tahun ini, sebanyak 107 film akan ditayangkan dalam JAFF. Pemutaran film-film ini akan terbagi menjadi program kompetisi dan non-kompetisi, antara lain Asian Perspectives, Asian Feature, Light of Asia, JAFF Indonesian Screen Awards, dan Open Air Cinema.

"Tahun ini kita mengambil tema revival, yang sebenarnya kalo harfiahnya, seperti yang tadi saya singgung bahwa diartikan sebagai kebangkitan. Jadi kita membaca bahwa identitas-identitas asia ini benar-benar sudah mulai bangkit. Kita benar-benar menggali lagi tentang kekayaan-kekayaan identitas Asia," ungkap Ifa.

Jika pada tahun lalu film garapan sutradara Jepang dipilih menjadi film pembuka, kali ini giliran film buatan anak bangsa. Film Abracadabra garapan sutradara Faozan Rizal terpilih menjadi pembuka festival film JAFF 2019.

Film bergenre drama-komedi yang diperankan oleh Reza Rahardian ini menceritakan tentang seorang pesulap bernama Lukman yang berusaha menggali kembali gairahnya pada dunia sulap.

Selain Abracadabra, film Humba Dreams karya sutradara Riri Riza juga akan turut meramaikan JAFF tahun ini.

Humba Dreams yang pertama kali diputar di 2019 Shanghai International Film Festival ini menceritakan tentang seorang mahasiswa sekolah film Jakarta yang pulang kampung untuk memenuhi pesan ayahnya yang sudah meninggal. Dalam perjalanan ini ia bertemu dengan seorang wanita yang membantunya dalam menemukan jawaban. (kir/end)