Menikmati Aksi Wayang dengan Bahasa Milenial

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 27/10/2019 18:38 WIB
Menikmati Aksi Wayang dengan Bahasa Milenial Wayang Bocor 'mendobrak' pakem pertunjukan wayang pada umumnya. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menyaksikan pertunjukan wayang bagi seorang milenial di Jakarta bisa jadi menjemukan karena durasi yang panjang dan kendala bahasa. Namun hal itu tidak terjadi ketika Wayang Bocor tampil pada Sabtu (26/10) malam.

Tadi malam, Wayang Bocor asuhan Eko Nugroho pentas di dia.lo.gue Artspace Kemang Jakarta Selatan dalam acara Royo-Royo yang diadakan oleh Yayasan Kelola, lembaga nirlaba yang berfokus pada seni dan budaya Indonesia.

Dalam acara penggalangan dana itu, Kelola mengundang Eko yang pernah menjadi penerima hibahnya pada 2008 untuk pentas dan menarik minat pengunjung dengan pertunjukan bertajuk "Permata di Ujung Tanduk".


Wayang Bocor yang sudah eksis sejak 2007 menampilkan pentas wayang dengan cara yang belum pernah ditampilkan sebelumnya, menggeser pakem tradisional, inklusif, juga adaptif dengan penonton dari generasi serta latar belakang yang beragam.

Kesan penampilan wayang yang pernah ditonton para orang tua ketika malam Minggu dulu -entah di TVRI atau Taman Mini Indonesia Indah-, semalam suntuk, mengangkat kisah Mahabarata atau Ramayana, menggunakan bahasa Jawa, dan tak banyak atraksi, luntur ketika tim asuhan Eko beraksi.

Tak ada panggung. Hanya ada sejumlah layar yang tersebar di berbagai sisi ruangan, tentu dengan layar utama di sisi depan yang sudah dikuasai sang Dalang di baliknya.

Penonton menyaksikan Wayang Bocor seperti di era keraton dulu kala, dari sisi bayangan, bukan menyaksikan Dalang atraktif memainkan wayangnya seperti yang kerap ditampilkan di televisi.

"Saya ini pelukis, saya suka visual dan saya amat suka wayang, tapi bukan yang penuh warna melainkan yang hitam-putih, yang belakang [bayangan]," kata Eko saat ditemui usai pentas, Sabtu (26/10) malam.

Pertunjukan Wayang Bocor di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (26/10). (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
"Bagian depan, belakang Dalang, itu untuk Raja. Masyarakat biasa yang hitam-putih. Tapi semua orang kini ingin jadi raja. Hitam-putih yang dipepet tembok dan kini hilang, bahkan di kesenian tradisionalnya. Jadi ini yang saya angkat," lanjutnya.

Pilihan Eko mungkin menempatkan penonton sebagai 'masyarakat biasa', namun ini membuat pertunjukan terasa lebih menyenangkan. Selain merangsang imajinasi dengan permainan bayangan wayang, Eko juga menampilkan berbagai atraksi -secara live- dalam pentas itu.

Wayang Bocor memang memiliki konsep "ambyar", bukan hanya mutlak pertunjukan wayang, tapi juga kombinasi antara ludruk, ketoprak, menyinden, bahkan dangdut koplo.

Bukan hanya itu, Eko menempatkan 'penggung pentas' di tengah-tengah penonton. Terbayang, penonton -secara harfiah- dibawa ke tengah-tengah cerita dan ragam aksi mengundang gelak tawa. Pokoke ambyar kabeh.

Suasana pertunjukan Wayang Bocor yang memang "bocor" alias di luar dari pakem tradisional ini juga mengangkat sejumlah isu yang terjadi di tengah masyarakat.

Lupakan isu politik kelas atas yang jadi drama di televisi beberapa waktu terakhir, Eko mengangkat problem yang memang akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Pertunjukan Wayang Bocor mengangkat permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Dalam pertunjukan sekitar 45 menit Sabtu (26/10) malam, Eko mengangkat kisah yang diadaptasi dari cerita pendek puisi karya Gunawan Maryanto, 'Sakuntala'.

Secara garis besar, kisahnya menceritakan siklus penderitaan wanita dalam kehidupan sehari-hari, kerap menjadi pihak dengan posisi yang lemah dan terjebak dalam pilihan sulit yang memaksa mereka untuk berkorban.

Hal itu terlihat dari narasi hidup Sakuntala dalam pentas Wayang Bocor, sudah dibuang oleh ibunya sejak bayi, diasuh oleh pihak asing, ketika dewasa menikah dengan pria penguasa, namun dalam perjalanannya ia menghadapi masalah yang memaksa dirinya membuang sang anak.

Eko mengemas problem sosial itu dengan narasi pertunjukan yang menggugah perasaan, mengocok perut, hingga mampu membuat penonton ikut bernyanyi dan berjoget. Sebuah cara yang amat tidak biasa untuk pertunjukan wayang.

Bukan hanya itu, Eko dan tim Wayang Bocor menggunakan bahasa yang adaptif terhadap penonton. Dalam hal ini adalah penonton ibu kota, ada sejumlah prokem anak muda metropolitan yang digunakan, salah satunya "keles" yang bermakna "kali" dalam hal menyungguhkan.

"[Aksi Wayang Bocor] selalu dinamis dan bisa macem-macem. Cair dengan banyak elemen. Kesenian apa pun diterima oleh kami," kata Eko.

"Kesenian bagi kami adalah cair, menyenangkan, dan jadi pesan bagi semua orang lewat bahasa seni. Ketika semua orang senang, lucu-lucuan, tiba-tiba ada sentilan, itu yang ingin kami tawarkan," kata Eko yang kemudian mengatakan bisa saja format penampilan berganti di kemudian hari.

Namun tak semua pertunjukan Wayang Bocor dari Eko mendobrak pakem.

Sejumlah bagian dari penampilan wayang secara tradisional masih dipertahankan, seperti bagian pembuka dengan gunungan dan bahasa Jawa, hingga babak Panakawan yang menampilkan trio Gareng, Petruk, dan Bagong.

Sesuai pakem, trio kesatria anak Semar itu menampilkan dialog humor soal kehidupan sehari-hari masyarakat, menghibur namun juga memberikan nasihat.

Tapi Eko masih memberikan unsur adaptasi dalam sesi klasik ini. Ia dengan iseng memberikan tambahan aksesori bulatan halo berwarna hijau dan ditempatkan di kepala masing-masing Panakawan.

Tiga tokoh perwayangan yang diberi tambahan aksesori bulatan halo berwarna hijau disebut Eko Nugroho sebagai 'daya ganggu'. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
"Itu [Gareng, Petruk, dan Bagong] wayang klasik sebenarnya, tapi bagaimana kami kasih adaptasi sehingga ada daya tarik, daya ganggu, lain. Kesenian adalah daya ganggu, ketika lihat visualnya, ini sudah buat ketawa," kata Eko.

"Sebenarnya ini akan lebih lucu kalau pentas di daerah, karena menggunakan bahasa mereka. Di situ, pesannya akan sangat kuat. Jadi kami mencoba beradaptasi karena kami ingin berkomunikasi," lanjutnya.

Eko Nugroho setidaknya sukses berkomunikasi dengan milenial ibu kota dengan alat komunikasi generasi lawas yang nyatanya, bisa 'nyambung' dengan generasi kekinian lewat Wayang Bocor. (end/rea)