Terancam Tak Pentas, Teater Koma 'Nyerah' ke Anies Baswedan

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 29/10/2019 18:39 WIB
Terancam Tak Pentas, Teater Koma 'Nyerah' ke Anies Baswedan Pendiri Teater Koma Nano Riantiarno mempertanyakan revitalisasi Taman Ismail Marzuki yang diinisiasi oleh Gubernur Anies Baswedan. (Foto: CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri Teater Koma Nano Riantiarno mengeluhkan proses revitalisasi di Taman Ismail Marzuki yang menjadi program pemerintahan DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan. Dia mengungkapkan bahwa pembangunan tersebut membuat kelompok Teater Koma terancam tidak pentas selama dua tahun ke depan.

"Kami [terancam] enggak bisa produksi dua tahun. Dalam satu tahun itu biasanya ada tiga produksi. Jadi total enam produksi yang belum tahu nasibnya gimana," kata Nano saat ditemui di Sanggar Teater Koma, Selasa (29/10).

"Saya terus terang nyerah dengan Anies," tambahnya.


Pada November tahun lalu, Anies mengumumkan proyek revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) yang mulai dilakukan sejak awal tahun ini. Saat itu, dia mengatakan ingin merevitalisasi bangunan yang telah ada dan penataan ruang terbuka hijau.

Selain itu, Gubernur DKI Jakarta itu juga mengatakan ingin membangun sebuah sistem kebudayaan Jakarta lewat TIM. Hanya saja, Nano merasa bahwa Anies masih kurang terbuka dengan para seniman tentang rencana revitalisasi tersebut.

"Dua bulan lalu saya sebenarnya ingin ketemu Anies, mau tanya 'Ini (TIM) mau diapain?' pager sudah diketok berarti sudah dijalankan. Dan saya mau memastikan, seniman kalau mau nyewa bakal lebih mahal atau lebih murah," kata Nano.

Nano menambahkan bahwa dirinya sendiri juga tak tahu nasib Graha Bakti Budaya (GBB) yang kerap menjadi tempat Teater Koma pentas akan seperti apa ke depannya. Yang jelas, dia mengatakan bahwa Teater Koma tak lagi bisa pentas di sana ataupun sejumlah tempat pertunjukan teater di Jakarta.

"GBB mau direnovasi apa dirobohkan, tidak tahu. Dewan Kesenian Jakarta nasibnya gimana, kita juga enggak mengerti. Dan Gedung Kesenian Jakarta pun direnovasi jadi enggak bisa juga [digunakan]. Kalau di Ciputra Artpreneur itu mahal sekali sewanya," keluh Nano.

Terancam Tak Pentas, Teater Koma 'Nyerah' pada Anies BaswedanAnies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta dianggap kurang terbuka dengan para seniman soal revitalisasi Taman Ismail Marzuki. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Kemudian saya berpikir, apakah Teater Koma harus di Yogyakarta atau Solo?" lanjutnya.

Nano mengungkapkan bahwa dirinya telah menyiapkan empat naskah baru dan dua naskah lama untuk dipentaskan mendatang. Bahkan, satu di antaranya disampaikan sudah mulai proses reading dan persiapan kostum.

"Sebagai warga kota yang mementaskan pertunjukan, saya nyerah dengan Anies. Dan dia enggak terbuka," ungkapnya.

Proyek revitalisasi yang diputuskan oleh Anies Baswedan ini bertujuan agar TIM tak hanya menjadi tempat budaya. Ia ingin agar TIM menjadi ekosistem yang baik dan menumbuhkan bibit budayawan baru.

Pihaknya telah menyiapkan Rp1,8 triliun untuk proyek yang diperkirakan selesai pada 2021 ini.

Sebelumnya, budayawan Salim Said meminta Anies bersungguh-sungguh merevitalisasi TIM. Pernyataan itu disampaikan dalam sambutan Peletakan Batu Pertama Proyek Revitalisasi TIM sebagai perwakilan budayawan.

"Saya berharap DKI yang sekarang katanya duitnya banyak, akan bersungguh-sungguh merealisasikan apa yang kita saksikan tadi," kata Salim di lapangan parkir TIM, Jakarta Pusat, pada Juli lalu.


Dalam waktu dekat, Teater Koma telah siap untuk mementaskan kembali produksi terbaru berjudul J.J Sampah-sampah Kota. Lakon yang menjadi produksi ke-159 ini akan dipentaskan pada 8-17 November 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lakon tersebut ditulis oleh N. Riantiarno dan telah dipentaskan oleh Teater Koma pada 1979. Setelah 40 tahun berlalu, Teater Koma kembali mementaskan J.J Sampah-sampah Kota dengan arahan Rangga Riantiarno yang berperan sebagai sutradara. Ini merupakan kali kedua penyutradaraan Rangga di Teater Koma setelah Antigoneo pada 2011 yang lalu.

"Saya memilih untuk mementaskan kembali lakon ini karena kisah para pemegang kekuasaan mempermainkan orang-orang kecil, nyatanya dan ironisnya tidak lekang oleh waktu. Selalu terjadi, terulang kembali, tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia," kata Rangga dalam jumpa pers yang diadakan di Sanggar Teater Koma, Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (29/10).

Terancam Tak Pentas, Teater Koma 'Nyerah' pada Anies BaswedanCerita 'J.J Sampah-sampah Kota' akan dipentaskan oleh Teater Koma pada 8-17 November 2019. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Lakon J.J Sampah-sampah Kota ini berkisah tentang sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah. Ia digaji harian dan tidak punya jaminan masa depan. Meski begitu dia tetap bekerja dengan jujur, rajin, giat dan gembira. Bersama Juhro yang tengah hamil tua, dia hidup bahagia.

Semua ini tak lepas dari pengawasan Mandor Kepala dan tiga mandor bawahannya, Tiga Pemutus. Mereka ingin melihat sampai sejauh mana kejujuran Jian bisa dipertahankan. Suatu hari, Para Pemutus menjatuhkan tas berisi uang yang amat banyak di sekitar tempat Jian bekerja. Jian panik. Apa yang sebaiknya dia lakukan?

"Bicara soal sampah dan penguasa korup memang seolah tak ada habisnya di setiap era. Namun bagaimana dengan kejujuran? Seperti apa rasanya mempertahankan nilai kejujuran pada era di mana ketidakadilan dan ketidakjujuran bisa dengan mudahnya ditemui di sudut kota mana pun?" demikian keterangan dalam siaran pers terkait kisah J.J Sampah-sampah Kota.

"Jawabannya, tentu tidak sesederhana itu. Sama halnya dengan, betapa tidak sederhananya mementaskan kembali lakon yang sudah dipentaskan puluhan tahun lalu di era sekarang." (agn/rea)