Review Film: 'Love for Sale 2'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 18:35 WIB
Review Film: 'Love for Sale 2' Kisah kehidupan ican (Adipati Dolken) yang terasa dekat dengan realita sehari-hari dalam film 'Love for Sale 2'. (dok. Visinema Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sutradara Andibachtiar Yusuf melanjutkan kisah film Love for Sale yang dirilis satu tahun silam lewat sebuah sekuel. Della Dartyan masih memerankan karakter Arini, gadis yang menyediakan jasa sebagai kekasih sewaan.

Meski pemeran utama film Love for Sale 2 masih sama, tapi sutradara yang disapa Ucup itu menyuguhkan fokus cerita yang cukup berbeda tapi tak kalah menarik. Kali ini, cerita yang ditulis Ucup bersama Mohamad Irfan Ramly memotret realita yang begitu dekat dan relevan untuk masyarakat Indonesia.

Perihal keluarga dan tekanan soal isu pernikahan.


Love for Sale 2 bercerita tentang pemuda bernama Indra Tauhid Sikumbang alias Ican (Adipati Dolken). Ibunya, Rosmaida (Ratna Riantiarno) terus menerus mendesak putranya untuk menikah karena dianggap sudah cukup usia.

Ican sendiri tampak belum ingin menikah dan kesulitan mencari pasangan yang cocok dengannya, walau sempat dekat dengan beberapa wanita. Terlebih, dia merasa hampir mustahil mencari calon istri yang cocok dengan sang ibu.

Tekanan itu membuat Ican memutuskan mencari jalan pintas lewat Love Inc., aplikasi penyewaan kekasih yang juga digunakan Richard (Gading Marten) di film pertama Love for Sale. Ican menginginkan pasangan yang cantik, paham agama, dan tentunya berdarah Padang, sesuai dengan keinginan kuat ibunya. Dan hadirlah Arini Chaniago (Della Dartyan) ke dalam hidup Ican.

Pucuk dicinta ulam tiba, ibu Ican cocok dengan Arini. Terlebih Arini berhasil memenuhi keinginan Ican dan mencuri hati sang ibu dan keluarga. Kehadiran Arini bak 'malaikat' yang meredam kerewelan Rosmaida.

Tak diduga, Arini (Della Dartyan) berhasil mencuri hati Rosmaida (Ratna Riantiarno), ibu Ican (Adipati Dolken). (dok. Visinema Pictures)
Lewat ketiga karakter ini, Ucup cukup apik membawa alur cerita yang dinamis. Dialog-dialog yang dihadirkan terasa relevan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih memegang teguh kultur masing-masing.

Menariknya, cerita Love for Sale 2 tidak hanya berfokus pada tiga tokoh utama Arini, Ican, dan Rosmaida. Namun, karakter-karakter pendukung lainnya tak kalah memberi dinamika cerita lebih kompleks yang membuat penasaran, tanpa terasa bosan. Konflik demi konflik mengalir begitu saja, tak terasa dibuat-buat.

Sejumlah karakter pendukung di antaranya adalah kakak dan adik Ican, Anandoyo Tauhid Sikumbang alias Ndoy (Aryo Wahab) dan Yunus Tauhid Sikumbang alias Buncun (Bastian Steel), kemudian ada geng Sikumbang, yakni Surya, Romli, dan Jaka (Abdurrahman Arif, Revaldo, dan Adriano Qalbi), Daeng Ibrahim (Yayu Unru), serta Maya (Putri Ayudya).

Masing-masing pemeran memiliki karakter dengan kekhasan dan masalah sendiri-sendiri. Dan Ucup memberi porsi yang pas terhadap tiap-tiap peran, keterlibatan mereka benar-benar melengkapi cerita Love for Sale 2.

Chemistry antara para anggota geng Sikumbang, kemudian tiga Sikumbang bersaudara, sukses mencuri perhatian dalam Love for Sale 2.

Film 'Love for Sale 2' memiliki permasalahan yang lebih kompleks dan dekat dengan realita sehari-hari. (dok. Visinema Pictures)
Di sisi lain, latar dan gambaran situasi kehidupan bermasyarakat dalam film ini juga dipotret dengan baik. Ambience yang dihadirkan pun seolah membawa penonton masuk ke dalam adegan lewat suara-suara pedagang keliling, suara adzan, anak-anak bermain, hingga orang-orang dewasa yang bercengkerama sambil bermain kartu atau domino.

Permasalahan utama tentang tekanan untuk menikah, menjadi teror yang begitu dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Untuk itu, apresiasi lebih layak diberikan pada Ratna Riantiarno yang sukses memainkan peran sebagai ibu-ibu menyebalkan yang 'gemar' meneror anak. Namun di balik itu, kasih seorang ibu terhadap anak tetap tergambar.

Setidaknya, beberapa potret itu pernah ditemui, bahkan dialami sendiri oleh para penonton.

Selain cerita yang solid, film ini juga didukung oleh sinematografi yang indah hasil bidikan Ferry Rusli serta arahan musik oleh McAnderson. Kedua elemen itu turut meningkatkan daya tarik film.

Secara keseluruhan, Love for Sale 2 sukses menjadi sekuel dengan nafas yang berbeda, lebih relevan dengan situasi masyarakat Indonesia. Sebuah kisah yang tak hanya menyuguhkan kisah cinta, tapi juga drama kehidupan dalam sebuah keluarga. (agn/rea)