Ulasan Teater

Malang dan Asa Kaum Miskin di 'J.J Sampah-Sampah Kota'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 09/11/2019 14:24 WIB
Malang dan Asa Kaum Miskin di 'J.J Sampah-Sampah Kota' Kisah kompleks dari masyarakat yang terpinggirkan nan miskin dihadirkan dengan apik dalam pentas Teater Koma, 'J.J Sampah-Sampah Kota'. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di bawah cahaya remang-remang, sepasang suami istri terlihat saling duduk bersandar di depan gubuk lusuh, di kolong jembatan. Keduanya pun bercerita, tentang apa yang didapat sang suami setelah seharian mengangkut sampah serta sekadar berbicara tentang kehamilan sang istri.

Tak lama, sang suami tertidur sambil mengigau.

"Mimpilah yang bagus kang, karena mimpi bagus itu hiburan. Apa yang tak kita dapat sehari-hari, bisa dalam mimpi," renung sang istri.


Kegaduhan pun muncul ketika sang suami tampaknya mengalami mimpi buruk. Dia berteriak, berlarian bak kesurupan sampai membangunkan seluruh penghuni kolong jembatan lain.

Sekilas potret itu menjadi pembuka produksi ke-157 Teater Koma, 'J.J Sampah-Sampah Kota' yang dipentaskan mulai Kamis (7/11) hingga 17 November mendatang di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Pada pentas kali ini, Teater Koma kembali menghadirkan elemen multimedia ke dalam panggung, seperti pada beberapa pementasan sebelumnya.

Sedangkan dengan garis besar cerita, masih memotret isu sosial yang relevan dengan situasi saat ini, sekalipun naskah telah ditulis dan sempat dipentaskan oleh Nano Riantiarno pada 1978.

Kini, di bawah arahan sang putra, Rangga Riantiarno, lakon J.J Sampah-Sampah Kota dikemas dengan versi lebih kekinian dan dikatakan tanpa ada perubahan cerita.

Kisahnya berfokus pada kehidupan sepasang suami dan istri Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. Sehari-hari, seperti sebagian penghuni lainnya, Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah. Dia digaji harian dan tidak punya jaminan masa depan.

Malang dan Asa Kaum Miskin di 'J.J Sampah-Sampah Kota'Kisah 'J.J Sampah-Sampah Kota' berfokus pada kehidupan sepasang suami dan istri Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Meski begitu, Jian tetap bekerja dengan jujur, rajin, giat, dan gembira. Bersama Juhro, yang tengah hamil tua, dia hidup bahagia.

Di kolong jembatan ada Mbah Kung, lurah di situ, yang selalu memberi upeti kepada Hansip. Ada juga Puci, Tarba, Bakul, Kentong, Mariem, dan Hapsah. Mereka menjalani hidup sambil tetap menyimpan harapan terhadap hari esok. Lalu ada Bordes, yang selalu mengajak para kuli menuntut bayaran lebih tinggi.

Semua itu juga tak lepas dari pengawasan Mandor Kepala dan tiga mandor bawahannya, Tiga Pemutus. Mereka telah mempelajari sekian banyak penghuni kolong jembatan.

Bagi mereka, Jian dengan segala kebaikan yang dimiliki merupakan sebuah keunikan. Dan mereka pun memutuskan untuk mengujinya, melihat sejauh mana kejujuran Jian bisa bertahan.

Set cerita ini dibagi ke dalam tiga tingkatan, di bagian panggung paling atas ada Mandor Kepala, yang mengusik dan menjadi penyebab awal kekacauan. Lalu di tengah atau di atas jembatan ada Para Pemutus sebuah potret yang merujuk pada penguasa.

Sementara itu, para penghuni kolong jembatan, ada di tingkatan paling bawah.

Malang dan Asa Kaum Miskin di 'J.J Sampah-Sampah Kota'Tak hanya menampilkan potret PSK yang seolah kerap dianggap rendah, lanjutan dialog 'J.J Sampah-Sampah Kota' juga menampilkan sisi lain lewat karakter istri Mbah Kung, Puci. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)

Sekilas, kehidupan para penghuni kolong jembatan semula digambarkan tentram dan sederhana, bagaimana mereka menjalani rutinitas sehari-hari bersama, saling membantu, mengingatkan, dan rukun.

Namun, cerita kemudian berjalan dan menampilkan hidup mereka yang terus menerus ditimpa dengan kemalangan satu ke yang lain, ditekan oleh penguasa.

Ketidakadilan bertubi-tubi dialami masyarakat bawah, penghuni kolong jembatan. Itu ditampilkan lewat adegan seperti para pengangkut sampah yang berdemo untuk menuntut kenaikan upah malah dipukuli oleh petugas.

Komplek pelacuran dibakar hingga para penghuni tergusur. Mereka mesti membayar upeti untuk keamanan tinggal di kolong jembatan. Padahal, harapan mereka sederhana, sekadar bisa hidup dengan tenang dan senang.

Beberapa potret itu bisa dikatakan cukup relevan dan menjadi sebuah kritik sosial atas kondisi yang terjadi belakangan ini.

Selain itu, sindiran pun hadir lewat beberapa dialog dari beberapa karakter. Misalnya, kala dua orang PSK Mariem dan Hapsah, yang juga kawan Juhro, meminta izin untuk tinggal di kolong jembatan kepada tetua di sana, Mbah Kung, setelah tempat mereka dibakar.

"Komplek pelacuran dibakar, kenapa tidak melapor?" tanya Mbah Kung.

"Siapa yang mau percaya sama pelacur? Siapa yang mau dengan 'kekotoran.' Kita ini pelacur, kotor dan buruk," jawab Mariem dan Hapsah.

Tak hanya menampilkan potret PSK yang seolah kerap dianggap rendah, lanjutan dialog tersebut juga menampilkan sisi lain lewat karakter istri Mbah Kung, Puci. Puci cemburu dengan kehadiran dua PSK tersebut.

"Menolong tanpa pamrih, omong kosong," sindir Puci, "Siapa bilang cemburu cuma boleh untuk orang berduit? Menolong orang bagus, tapi kalau pelacur apa bukan jadi penyakit?"

Selain itu, ada pula harapan pilu dari seorang Juhro yang ketika anaknya lahir ingin kebersihan terjaga, tapi dimentahkan oleh sang suami.

"Apa kamu tidak lihat sekitarmu, tinggal di lingkungan kumuh, air kali kuning, rambutmu apek jarang dicuci, pakaianmu lusuh karena tak pernah ganti, lalu sekarang bicara kebersihan?" ucap Jian tertawa miris.

Malang dan Asa Kaum Miskin di 'J.J Sampah-Sampah Kota'Selain itu, ada pula harapan pilu dari seorang Juhro yang ketika anaknya lahir ingin kebersihan terjaga, tapi dimentahkan oleh sang suami. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)

Secara tersirat, pentas ini juga menyuguhkan gambaran praktek korupsi, repotnya birokrasi, masalah HAM yang tak mendapat perhatian, serta si miskin yang kerap dipersulit karena tak punya duit.

Di sisi lain, J.J Sampah-Sampah Kota juga menunjukkan sisi kemanusiaan seperti bagaimana perjuangan seorang ibu demi menghidupi anaknya serta kehidupan masyarakat yang saling bahu membahu kala kesusahan.

Terlepas dari segi cerita yang cukup kompleks, pementasan ini didukung dengan apik dari tata panggung dan artistik yang diatur Idries Pulungan, kemudian tata cahaya oleh Deray Setyadi, busana oleh Alex Fatahillah, koreografi oleh Ratna Ully, serta musik yang dipimpin oleh Fero A Stefanus.

Apresiasi lebih untuk tim artistik yang menghadirkan properti dan potret kehidupan di lingkungan kumuh secara nyata.

Upaya untuk memadukan unsur kekinian pun cukup baik dari segi elemen multimedia hingga musik yang diaransemen dengan gaya hiphop, R&B, serta EDM. Sayangnya, pada beberapa bagian vokal para pemain tak terdengar jelas saat bernyanyi.

Tindak kedua Rangga sebagai sutradara pertunjukan pun patut diapresiasi. Dalam pementasan ini, ia cukup baik mengatur perpindahan adegan satu dengan yang lain serta mampu membawa emosi penonton ke dalam kisah yang dialami Jian dan Juhro.

Secara keseluruhan, pementasan J.J Sampah-Sampah Kota menjadi salah satu suguhan yang sayang untuk dilewatkan. (end)