Voting Ajang Pencarian Bakat, Uji Pasar Sang Calon Bintang

CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 12:35 WIB
Voting Ajang Pencarian Bakat, Uji Pasar Sang Calon Bintang Pihak penyelenggara ajang pencarian bakat mengakui keterlibatan penonton memilih pemenang ajang bagian uji komersialitas para kontestan. (Istockphoto/ Momnoi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia sudah akrab dengan ajang pencarian bakat sejak lama. Tepatnya sejak 1962, ketika Bintang Radio dan Televisi hadir di TVRI. Namun baru dua dekade terakhir masyarakat akrab dengan ajang pencarian bakat berbasis voting.

Tepatnya pada 2003. Ajang pencarian bakat modern yang melibatkan penonton untuk ikut menentukan pemenang, lahir dengan ditandai kemunculan Akademi Fantasi Indosiar (AFI).

Selang satu tahun berikutnya, Indonesian Idol menyuguhkan konsep serupa dengan versi diadaptasi dari ajang pencarian bakat di luar negeri, American Idol.


Tujuannya sama, mencari idola baru di Indonesia.

Para kontestan pada awalnya diharuskan mengikuti audisi dan dinilai oleh sejumlah juri profesional untuk diseleksi ke langkah berikutnya. Setelah terpilih sejumlah kontestan terbaik, biasanya sekitar 12-15 orang finalis, baru setelah itu dipilih oleh para penonton lewat voting atau telepon.

Rumah produksi Fremantle, yang mengelola ajang pencarian bakat seperti Indonesian Idol, Indonesia's Got Talent, serta The X Factor Indonesia selama 15 tahun terakhir memaparkan alasan penggunaan konsep itu.

"Secara garis besar, konsepnya tidak ada perubahan. Tetap mencari bakat terbaik di bidang bernyanyi di Indonesia. Mencari idola baru di bidang musik," kata Sakti Parantean, selaku Co-Managing Director Fremantle kala dihubungi CNNIndonesia.com.

Ajang Pencarian Bakat, Uji Komersialitas Calon BintangKeterlibatan penonton sendiri, disampaikan Victor Ariesza yang juga menjabat sebagai Co-Managing Director Fremantle, untuk mengukur dari segi komersialitas dari kontestan yang melaju ke babak final. (Dok. Fremantle)

Co-Managing Director Fremantle, Victor Ariesza, menyebut penonton dibuat terlibat untuk mengukur segi komersialitas kontestan yang melaju ke babak final.

"Di Indonesian Idol, yang menjadi faktor awal kontestan menjadi pemenang yakni yang punya kemampuan tinggi dalam bernyanyi. Setelah disaring oleh juri pada saat audisi, itu langsung diserahkan pemirsa untuk seleksi," kata Victor.

"Karena itu adalah cerminan dari segi komersialitas si kontestan, seorang idola atau penyanyi yang baik secara kualitas teruji tapi juga secara komersial dia diterima," lanjutnya.

Keduanya pun menegaskan bahwa keterlibatan penonton untuk menentukan pemenang di babak final adalah seratus persen.

"Seratus persen ditentukan publik. Jadi kontestan sendiri punya pengaruh, misal kalau tidak memberikan 100 persen akan tercermin di angka voting dia," ujar Sakti seraya menambahkan.

Pihak juri, kata Sakti, hanya akan memberikan penilaian atas performa kontestan di babak final. Sementara nasib kontestan ia sebut diserahkan sepenuhnya kepada publik.

Ia menyebut penilaian voting itu dikumpulkan dari beberapa saluran, seperti SMS, telepon, serta voting digital.

Ajang Pencarian Bakat, Uji Komersialitas Calon BintangMenanggapi risiko kecurangan yang terjadi di balik ajang pencarian bakat seperti yang terjadi baru-baru ini pada Produce X 101 di Korea Selatan, pihak Fremantle memastikan bahwa hal itu tak akan terjadi. (Dok. Fremantle)

Timbang Risiko Manipulasi

Menanggapi risiko kecurangan yang terjadi di balik ajang pencarian bakat seperti yang terjadi baru-baru ini pada Produce X 101 di Korea Selatan, pihak Fremantle Indonesia memastikan bahwa hal itu tak akan terjadi.

"Kecurangan olah data tak mungkin terjadi, kami memegang teguh format kami jadi tidak mungkin terjadi. Kalau ada para pendukung yang punya strategi khusus [memberi dukungan sebanyak mungkin], saya rasa bukan kecurangan," katanya.

"Data yang masuk ke kami sama sekali tidak pernah kami manipulasi atau memberikan sesuatu yang tidak truthfull," lanjutnya.

Victor pun mengatakan, bahwa mereka melibatkan sejumlah pihak yang turut bertanggung jawab pada ajang pencarian bakat yang mereka kelola.

"Kami juga bekerjasama dengan RCTI selama 15 tahun di mana mereka turut bertanggung jawab, di luar itu kita juga bekerja dengan provider telepon yang memeriksa dan verifikasi data. Dengan banyaknya pihak yang cek, kami harapkan akan sangat meminimalisir dan menangkal kecurangan," timpal Victor.

Hanya saja, pihak Fremantle menyatakan tak bisa membeberkan kepada CNNIndonesia.com tahapan ataupun proses pengumpulan data voting penonton yang digunakan untuk menentukan pemenang.

"Yang kami tekankan, semuanya telah terbukti Indonesian Idol sejak 2004 dengan 10 season masih bertahan. Itu sebagai bukti bahwa Indonesia percaya dengan acara ini," katanya. (agn/end)