Menyibak Tirai Glamor Ajang Pencarian Bakat

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 08:57 WIB
Menyibak Tirai Glamor Ajang Pencarian Bakat Ajang pencarian bakat sendiri sebenarnya bukan hal asing di industri hiburan, baik di Indonesia dan dunia. (Istockphoto/ Tero Vesalainen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa waktu terakhir, dunia hiburan diramaikan dengan pemberitaan skandal manipulasi suara ajang pencarian bakat Produce X 101 yang dikenal sebagai salah satu acara sukses dalam sedekade terakhir.

Kabar manipulasi suara penonton tersebut membuat publik mempertanyakan kredibilitas ajang yang dengan kilat menelurkan banyak pesohor baru.

Ajang pencarian bakat sendiri sebenarnya bukan hal asing di industri hiburan, baik di Indonesia dan dunia. Di Barat, acara pencarian bakat telah dimulai dekade '70-an melalui acara The Gong Show.


Demikian pula Asia yang sudah mengenal ajang pencarian bakat, salah satunya Asia Bagus pada dekade '90-an yang menghasilkan Krisdayanti dan Widi Mulia yang tergabung dalam AB Three alias Be3.

Namun, baru menjelang pergantian milenium lah muncul ajang pencarian bakat dengan format yang kini diadopsi berbagai negara. Acara Popstars dari Selandia Baru yang rilis 1999 adalah pencipta konsep audisi.

Setelah Popstars, acara American Idol (2002) menjadi salah satu penyebar kegandrungan atas ajang pencarian bakat di era modern.

Menyibak Tirai Glamor Ajang Pencarian BakatSedangkan di Indonesia, jauh sebelum tren 'Idol', sudah mengenal ajang pencarian bakat melalui Bintang Radio dan Televisi pada dekade '60-an yang ikut menelurkan maestro Titiek Puspa. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Sedangkan di Indonesia, jauh sebelum tren 'Idol', masyarakat sudah mengenal ajang pencarian bakat melalui Bintang Radio dan Televisi pada dekade '60-an yang ikut menelurkan maestro Titiek Puspa.

Begitu pula di Korea, acara KBS Korean Sings (Jeonguk Norae Jarang) sudah mengudara sejak dekade '80-an.

Ada banyak faktor yang rupanya menjadi sebab ajang pencarian bakat masih bertahan meski sudah puluhan tahun dan sebagian besar tak bertahan di dunia musik. Beberapa hal yang membuat acara ini bertahan adalah keinginan masyarakat atas cita-cita kompetisi yang adil.

"Pemirsa cenderung memiliki fantasi bahwa audisi seperti itu adil dan kemampuan seseorang akan diakui melalui kompetisi yang adil karena, pada kenyataannya, tidak begitu," kata sosiolog Lee Joo-hee kepada Korean Herald.

"Mereka mendapatkan kesenangan, seolah mendapat perwakilan dari melihat orang biasa menjadi bintang," tambahnya.

Psikolog sekaligus akademisi Universitas Atma Jaya, Vierra Adella menilai ragam karakter kontestan yang muncul menarik minat penonton, terutama remaja, yang merasa memiliki 'wakil' di ajang tersebut.

"Ada sih kalau anak-anak muda saya lihat ada ketertarikan karena secara mental, secara kepribadian, ada selera pribadi dia yang masuk di idola itu," kata Vierra.

Meski berbentuk kompetisi dan 'bercita-cita' melahirkan penyanyi terkenal, Widi Mulia yang pernah mengikuti ajang Asia Bagus menyadari bahwa pada hakikatnya acara tersebut adalah hiburan.

Menyibak Tirai Glamor Ajang Pencarian BakatMeski berbentuk kompetisi dan 'bercita-cita' melahirkan penyanyi terkenal, Widi Mulia yang pernah mengikuti ajang Asia Bagus menyadari bahwa pada hakikatnya acara tersebut adalah hiburan. (dok. Widi Mulia)

"Memang ada babak lain yaitu gim, jadi penentu kemenangannya juga dipengaruhi nilai saat main gim. Kami mengerti juga bahwa acara Asia Bagus juga kan acara hiburan, bukan murni kompetisi," kata Widi.

Sedangkan terkait keterlibatan penonton, Victor Ariesza yang juga menjabat sebagai Co-Managing Director Fremantle mengatakan hal itu untuk mengukur segi komersialitas dari kontestan yang melaju ke babak final.

"Di Indonesian Idol, yang menjadi faktor awal kontestan menjadi pemenang yakni yang punya kemampuan tinggi dalam bernyanyi. Setelah disaring oleh juri pada saat audisi, itu langsung diserahkan pemirsa untuk seleksi," kata Victor.

"Karena itu adalah cerminan dari segi komersialitas si kontestan, seorang idola atau penyanyi yang baik secara kualitas teruji tapi juga secara komersial dia diterima," lanjutnya.

Akademisi dan pengamat musik Yuka Narendra menilai, meskipun sebagian lulusan ajang pencarian bakat benar-benar menjadi penyanyi seperti Kunto Aji, tapi ada banyak yang dibutuhkan untuk berkarier sebagai musisi selain popularitas yang instan.

"Mungkin setelah itu enggak ada yang mengurusi karier mereka, mikirin perkembangan karier, mungkin juga enggak punya manajer, booking agent. Kan infrastruktur dalam ekosistem musik bukan penyanyinya saja," kata Yuka kepada CNNIndonesia.com.

CNNIndonesia.com berupaya menyibak tabir glamor ajang pencarian bakat dalam fokus Sibak Tirai Idola Instan. Tak banyak yang bisa dikulik, terutama soal voting, karena penyelenggara dan penyedia jasa telekomunikasi enggan berkomentar.

Meski begitu, ragam kisah soal pencarian bakat ini mengingatkan kembali bahwa pada hakikatnya acara serupa adalah komoditas di industri hiburan. Walaupun, masyarakat tetap berharap ada napas baru bagi industri hiburan yang didapat dari cara yang adil. (end)