Maskapai Australia Siap Dukung Gugat will.i.am Soal Rasisme

CNN Indonesia | Selasa, 19/11/2019 05:10 WIB
Maskapai Australia Siap Dukung Gugat will.i.am Soal Rasisme Setelah membantah klaim rasisme yang dirasakan pentolan Black Eyed Peas will.i.am, maskapai Australia siap mendukung gugatan melawan musisi AS itu. (Kimberly White/Getty Images for Breakthrough Prize/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maskapai Australia Qantas bersiap mendukung aksi menggugat pentolan Black Eyed Peas, will.i.am, atas klaim pengalaman rasisme yang diterima dalam penerbangan domestik di negara-benua tersebut baru-baru ini.

Perusahaan tersebut sebelumnya sudah membantah pernyataan will.i.am soal aksi salah satu pramugari yang memarahinya dan menilai bersentimen rasisme.

"Ada kesalahpahaman di atas penerbangan, yang tampaknya telah diperburuk oleh will.i.am menggunakan headphone peredam kebisingan dan tidak bisa mendengar instruksi dari kru," kata pernyataan Qantas sebelumnya, dikutip dari AFP.


Qantas kemudian mengatakan akan menindaklanjuti klaim tersebut, namun pada Senin (18/11), juru bicara maskapai itu menyebut mereka akan mendukung bila kru menggugat musisi dan pentolan Black Eyed Peas itu.

"Tidak ada pencabutan, dan bila anggota kru ingin membawa masalah ini lebih lanjut, kami pasti akan bersedia memberikan dukungan hukum bagi mereka," kata juru bicara tersebut.

Hal itu didasarkan Australia memiliki undang-undang dan pengadilan terkait pencemaran nama baik yang ketat dan berjalan membela mereka yang merasa mengalami perusakan reputasi.

Anggota grup Black Eyed Peas, will.i.am sebelumnya mengaku menjadi korban rasisme oleh salah satu pramugari maskapai Qantas. Ia bahkan mengaku sempat ditahan pihak keamanan.

Hal itu disebut will.i.am terjadi ketika ia berada dalam penerbangan domestik Australia, baru-baru ini.

Melalui serangkaian kicauan di media sosial, will.i.am menyebut pramugari tersebut "kelewat agresif" dan membesar-besarkan masalah ketika musisi itu tak mendengar pengarahan keselamatan penerbangan.

Menggunakan tagar #RacistFlightAttendant, musisi bernama asli William Adams tersebut mengatakan kru pesawat itu "amat kasar" dan "membawa ke level berikutnya dengan memanggil polisi".

Akibat panggilan tersebut, lima polisi menunggu dirinya ketika mendarat di Sydney usai terbang 90 menit dari Brisbane.

"Terima kasih Tuhan penumpang lainnya bersaksi bahwa dia [pramugari] kehilangan kendali," kata will.i.am. "Pihak kepolisian mengizinkan saya pergi,"

Dia mengatakan telah mematuhi "dengan cepat dan sopan" atas instruksi meletakkan laptopnya.

"Saya tak ingin percaya dia rasis. Namun dia dengan jelas menumpahkan seluruh frustrasinya hanya kepada orang berwarna," kata musisi tersebut. (AFP/end)