Meski dibebaskan, Danang kecil ternyata tetap diberi pembelajaran tentang wayang dan dalang. Hampir setiap mentas ia diajak untuk menonton sang bapak memainkan wayang, menuturkan cerita, dan 'nembang'.
Bukan kebetulan, ayah Danang bernama Ki Manteb Soedharsono.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayang, semasa remaja ia tidak banyak menghabiskan waktu bersama Bapak, demikian Danang memanggil Ki Manteb. Di dekade 90-an sang dalang kebanjiran tawaran pentas, sampai pernah Danang ditinggalkan selama kurang lebih tujuh bulan dalam setahun.
Tak ayal, Danang sering merindukan ayahnya pulang. Jika mendengar suara mobil Toyota Land Cruiser model hardtop kesayangan Bapak memasuki halaman, Danang bergegas keluar rumah. Tak jarang ia hanya mendapati seorang sopir, serta dua koper yang masing-masing berisi baju dan setumpuk wayang dalam mobil kesukaan Ki Manteb itu.
Tidak ada Bapak yang telah dinanti.
Danang Suseno, putra Ki Manteb Soedharsono yang kini mengikuti jejak sang ayah. (CNN Indonesia/ M Andika Putra) |
Kejadian itu ia lewati selama sekitar tujuh tahun, sampai berusia 17 tahun. Sebagai seorang anak, jelas Danang ingin bermain dengan Bapak. Tetapi apa daya, ia hanya dititipkan pada orang di rumah yang bertugas merawatnya.
Namun, Danang diperbolehkan ikut Ki Manteb mentas di setiap malam Minggu. Memang, tak lama waktunya untuk bercakap dan bermain dengan Bapak. Semakin bertambah dewasa, perlahan Danang memahami bahwa yang dilakukan Bapak adalah untuk kebaikannya sendiri.
"Kalau sekarang kan saya mengalami juga seperti Bapak dulu. Saya juga ada pentas sebagai dalang, kadang libur, kadang mentas. Ya apa yang saya lakukan buat anak," katanya.
Danang sendiri merupakan anak pertama dari istri kelima Ki Manteb yang bernama Sri Suwarni. Sampai saat ini, Ki Manteb sudah menikah selama delapan kali tanpa pernah poligami.
Salah satu alasan pernikahan berulang itu adalah untuk memenuhi syarat sebagai dalang ruwat, yaitu ia harus beristri, tak boleh poligami, dan tak boleh rujuk dengan mantan istri.
Ki Manteb Soedharsono bersama istri kedelapan, Suwarti, serta anak-anak dan cucu. (dok. Ki Manteb Soedharsono) |
"Alhamdulillah dekat, walau ada perbedaan darah tetapi kami tetap saudara. Ibu saya bilang kalau saya ingin Bapak panjang umur, harus rukun sama saudara-saudara," kata Danang.
Selain enam anak kandung, Ki Manteb memiliki satu anak angkat bernama Bagas. Bocah lima tahun itu kini diurus oleh istri kedelapan, Suwarti, yang dinikahi Ki Manteb pada 2015 silam.
Kala Suwarti Jatuh Cinta pada Ki Manteb
Bagi Suwarti yang seorang pesinden, Ki Manteb bukan suami pertamanya. Pada 1987, ia diperistri oleh Ki Sugino Siswocarito yang juga seorang dalang. Kehidupannya berubah ketika Ki Gino meninggal pada 2013 setelah beberapa kali jatuh sakit.
Semasa hidup, kata Suwarti, Ki Gino lama mengenal Ki Manteb. Pun begitu dengan Suwarti yang kenal dekat dengan Suwarni, mereka berdua kerap berbincang dalam pertemuan di pelbagai acara.
"Tahun 1995, hampir setiap bulan Pak Manteb 'nanggap' dalang, kebetulan waktu itu 'nanggap' Pak Gino. Saat itulah saya kenal dengan Pak Manteb dan Bu Suwarni, setelah itu kami dekat," kata Suwarti.
Pertemuan Suwarti dengan Ki Manteb berulang pada 5 Mei 2014. Waktu itu, ia dan cucu 'nanggap' [memanggil] Ki Manteb dalam rangka peringatan 100 hari meninggal Ki Gino. Usai acara, Suwarti diajak sang dalang untuk tampil di sebuah pertunjukan wayang yang akan digelar dalam waktu dekat.
Anak dan cucu mendukung Suwarti untuk menyinden, namun ia diminta untuk tidak berangkat sendirian ke Bandara Adi Soemarmo Solo untuk menghindari fitnah yang mungkin terjadi. Dalam kultur Jawa, tabu bagi seorang wanita untuk bepergian seorang diri. Setelah berkomunikasi dengan Ki Manteb, disepakati untuk terbang dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta.
Di dalam pesawat, Suwarti berada di sisi jendela, ia terus menatap keluar di sepanjang perjalanan. Ia tak dapat berkata. Pengalaman itu menjadi yang pertama kali untuknya menumpangi pesawat terbang. Diam-diam, Suwarti meneteskan air mata.
[Gambas:Video CNN]
Bukannya takut. Ia teringat pada mendiang suami, yang selalu menolak naik pesawat karena tak kuat menghadapi pendingin ruangan. Suwarti mengingat, bukan saja udara dingin pesawat, namun Ki Gino memang tak pernah menyukai pendingin ruangan apapun.
Sontak, Ki Manteb yang duduk di sebelahnya menanyakan penyebab Suwarti menangis. Mendengar jawaban jujur Suwarti tentang mendiang Ki Gino yang tak pernah merasakan pengalaman menumpang pesawat sampai akhir hayat, Ki Manteb menenangkan wanita itu.
"'Sudah, Bu, jangan diingat lagi suamimu. Didoakan saja, nanti aku gantinya sebagai suamimu'," kata Suwarti kepada CNNIndonesia.com, menirukan perkataan Ki Manteb kepadanya di dalam pesawat.
Tersipu, ia melanjutkan, "Saat itu saya jatuh cinta sama Pak Manteb, setelah itu dilamar dan langsung menikah. Itu kenangan yang romantis banget di pesawat."
Suwarti bersama lukisan yang menampilkan Ki Manteb Soedharsono dengan mendiang istri Suwarni. (Foto: CNN Indonesia/ M Andika Putra) |
Selain telah terbiasa dipoligami oleh mendiang Ki Gino, Suwarti menilai istri kelima Ki Manteb, Suwarni adalah wanita yang berjasa. Ia memahami arti dan peran Suwarni dalam kehidupan Ki Manteb.
Bahkan di rumah keluarga yang masih ditempati sampai hari ini, terdapat lukisan bergambar Ki Manteb dan Suwarni di ruang makan. Ruangan yang sakral dalam sebuah rumah tangga.
"Ibu Suwarni perjuangannya lebih banyak, sama Ki Manteb merintis dari nol sampai sukses. Saya suka sama Bu Suwarni, orangnya kalem. Saya akrab dengan dia, dulu sering ngobrol," kata Suwarti dengan tenang.
(adp/rea)
Danang Suseno, putra Ki Manteb Soedharsono yang kini mengikuti jejak sang ayah. (CNN Indonesia/ M Andika Putra)
Ki Manteb Soedharsono bersama istri kedelapan, Suwarti, serta anak-anak dan cucu. (dok. Ki Manteb Soedharsono)
Suwarti bersama lukisan yang menampilkan Ki Manteb Soedharsono dengan mendiang istri Suwarni. (Foto: CNN Indonesia/ M Andika Putra)