Ashfall dan Kontroversi Konten Korut di Film Korsel

CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 16:17 WIB
Ashfall dan Kontroversi Konten Korut di Film Korsel Konten Korut dalam deretan film dan serial Korsel kerap kali menuai kontroversi, termasuk di Ashfall yang mulai ditayangkan di Indonesia pada Rabu (8/1). (Dok. CJ Entertainment via HanCinema)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konten Korea Utara dalam deretan film dan serial Korea Selatan kerap kali menuai kontroversi, termasuk di Ashfall yang mulai ditayangkan di bioskop Indonesia pada hari ini, Rabu (8/1).

Film bencana bergaya Hollywood ini sebenarnya bercerita mengenai upaya dua perwira militer Korea Selatan dan Korea Utara untuk mencegah letusan besar-besaran Gunung Paektu di ujung utara Semenanjung Korea.

Ashfall menggambarkan tindakan heroik agen Korut, Joon-pyeong (Lee Byung-hun), yang lebih unggul ketimbang rekannya dari Korea Selatan, In-chang (Ha Jung-woo), dalam menjalankan misi.


Sejumlah pihak pun mengkritik Ashfall karena dianggap terlalu memuliakan Korea Utara, negara yang kerap berseteru sejak berpisah usai perang Korea 1950-1953.

Kritikan itu kian deras karena Ashfall ditayangkan berdekatan dengan serial komedi romantis Crash Landing On You.

Dalam kedua tayangan ini, Korut digambarkan sebagai negara yang normal dan ideal untuk ditempati, berbeda dengan narasi di Korsel selama ini.

Crash Landing On You sendiri mengangkat kisah pewaris bisnis mode ternama di Korea Selatan yang mengalami kecelakaan saat paralayang dan terjatuh di daratan Korea Utara. Ia kemudian ditolong seorang tentara Korea Utara.

Berkat adu peran dua bintang kenamaan di Korsel, Hyun Bin dan Son Ye-jin, drama ini mendapat sambutan hangat terutama dari penggemar perempuan, hingga rating terbilang hingga yakni 9,2 persen untuk episode terbarunya.
Ashfall dan Kontroversi Konten Korut di Film KorselCrash Landing On You mengangkat kisah pewaris bisnis mode ternama di Korsel yang mengalami kecelakaan saat paralayang dan terjatuh di daratan Korut. (Dok. Netflix/tvN via HanCinema)
Sejumlah pihak menganggap percintaan atau persahabatan antara kedua negara tak pantas dipertontonkan di tengah kebuntuan perundingan nuklir antara Korut dan AS, yang kemudian berpengaruh terhadap Korsel.

Yonhap juga mencatat pendapat sejumlah kelompok yang mengaku tak nyaman karena melihat Korut digambarkan sebagai tempat damai dengan kebaikan warganya, jauh dari fakta di negara tertutup itu.

Menanggapi hal itu, produser serial ini mengaku telah berhati-hati. Sang sutradara, Lee Jung-hyo, sendiri mengklaim tidak berniat untuk mengidealkan Korea Utara dan rakyatnya.

"Korea Utara ada di dunia nyata, tetapi dalam drama, itu hanya ruang untuk karakter. Misalnya, keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi, yang digambarkan sebagai tempat fiksi," kata Lee Jung-hyo.

Di tengah kontroversi ini, produksi serangkaian film yang berkaitan dengan Korut pada 2020 ini justru terus dilanjutkan, seperti Summit: Steel Rain.

[Gambas:Video CNN]

Disutradarai Yang Woo-suk, film ini berkisah tentang para pemimpin Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Korea Utara yang diculik pada pertemuan tripartit.

Ada pula Escape, karya sutradara Ryoo Seung-wan yang didasarkan pada kisah nyata pelarian para diplomat Korea Selatan dan Korea Utara dari perang saudara Somalia pada 1990-an.

Seorang kritikus budaya Korea, Jeong Ji-wook, mengatakan bahwa warga memang memiliki pandangan terpisah antara karya seni dan politik nyata.

"Banyak penonton Korea Selatan melihat film terpisah dari politik nyata dan (sebagai gantinya) fokus pada hiburan," katanya seperti dikutip Yonhap.

Meski demikian, dia tetap mengingatkan, "Tetapi produser dan sutradara harus lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan tema Korea Utara." (agn/has)