Ben Aryandiaz
Seorang analis & pengulas film amatir di Medium, Quora Indonesia dan WatchmenID. Rajin menulis tentang film, komik, dan video games di blog pribadi.

Dua Tembok Piala Oscar untuk Parasite

Ben Aryandiaz, CNN Indonesia | Minggu, 09/02/2020 09:54 WIB
Jika berhasil melewati dua tembok rintangan, Parasite (2019) berpeluang jadi film Asia pertama yang memenangi Film Terbaik Piala Oscar. Film Parasite (2019) menjadi karya dari Korea Selatan pertama yang masuk dalam nominasi Best Pictures Piala Oscar. (Dok. CJ Entertainment via imdb)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Jessica, Only Child, Illinois, Chicago, Classmate Kim Jin-mo, He's your cousin."

Aktris Korea Selatan Park So-Dam mungkin tidak akan pernah menyangka nyanyiannya di film Parasite (2019) ini akan jadi jingle yang viral di media sosial. Dicari dan dinyanyikan demikian banyak orang di berbagai negara.

Kepopuleran Parasite dan segala yang tersangkut dengan film itu memang tengah meroket. Hampir semua orang di dunia perfilman sedang menyorotnya. Bahkan, Parasite masuk dalam nominasi Film Terbaik (Best Picture) Piala Oscar 2020, sekaligus mencetak rekor karena menjadi film asal Korea Selatan pertama yang masuk dalam kategori ini.


Hal ini kemudian membuat semua orang bertanya, apakah Parasite akan keluar sebagai pemenang dan berhasil mencetak sejarah?

Film yang secara total dinominasikan dalam enam kategori Piala Oscar ini memang seperti membawa angin segar bagi para penontonnya. Sutradara Bong Joon-ho memberikan kita sebuah cerita yang sangat biasa, tapi dikemas dengan plot dan teknik storytelling yang luar biasa. Tema perbedaan kelas sosial antara dua keluarga di Korea Selatan dia gunakan sebagai kaca pembesar untuk penontonnya, memperlihatkan bahwa kesenjangan sosial benar nyata. Tentu dengan tambahan bumbu cerita yang menambah rasa.

Dari segi cerita, Parasite adalah jenis film tragicomedy yang punya plot sederhana tapi berhasil memberikan penontonnya sensasi yang seolah belum pernah terlihat.

Tidak seperti karya-karya Bong Joon-ho sebelumnya yang membawa penonton tegang sejak detik pertama, Parasite baru memperlihatkan konflik saat alur cerita sudah berjalan separuhnya; tepat ketika pintu rahasia di bawah tanah itu terbuka. Atmosfer film langsung berubah 180 derajat menjadi sangat berat. Penonton tiba-tiba menahan napas. Dada mereka menjadi sesak dan saraf tegang luar biasa. Sebuah cara yang efektif untuk membuat penonton terpaku di kursi.

Desain dan interaksi karakter juga dibuat dengan apik untuk menggoyang moral dan pola pikir penonton. Kontras antara dua keluarga yang dikaburkan tidak memberikan penonton petunjuk konkret mengenai siapa yang jahat dan siapa yang baik. Tidak ada kejelasan mana yang hitam dan mana yang putih. Baik keluarga parasit dan keluarga kaya sama-sama memperlihatkan dosa.

Akhir cerita pun dibuat dengan jenius. Harapan penonton seakan digantung dengan penuh ilusi yang mengisyaratkan 'semua akan baik-baik' saja. Dan pada akhirnya, emosi penonton benar-benar dikuras habis setelah credit roll bergulir.

Dilihat dari sisi manapun, film Parasite jelas punya kualitas yang super prima dan memang pantas mendapatkan nominasi Film Terbaik untuk Oscar. Namun, apakah semua ini cukup bagi film Parasite untuk meraih kemenangan?

Jelas tidak.

Perlu diingat bahwa nominasi Film Terbaik merupakan salah satu penghargaan tertinggi yang bisa didapat oleh para sineas. Kualitas prima bukanlah satu-satunya jaminan untuk menang, dan justru hanya menjadi syarat mutlak untuk bisa masuk nominasi.

Untuk nominasi tahun ini, Parasite harus berhadapan dengan film-film yang tidak kalah bagusnya.

Sebut saja Joker karya Todd Phillips yang langsung mendobrak dunia sinema bahkan sebelum beredar di bioskop secara luas. Mengangkat dunia DC Comics yang dibuat menjadi nyata, aktor Joaquin Pheonix berhasil 'melahirkan' man of chaos bernama Joker dengan sempurna.

Ada juga film berdurasi 3 jam 30 menit berjudul yang tayang di Netflix The Irishman. Bukan hanya bertabur bintang legenda seperti Al Pacino, Robert Deniro dan Joe Pesci, film ini juga disutradarai Martin Scorcese yang memang rutin mendapatkan penghargaan kelas dunia.

Marriage Story yang sempat viral berkat adegan natural antara Adam Driver dan Scarlett Johannson juga menjadi ancaman. Demikian pula Jojo Rabbit dan Little Women yang punya jalan cerita yang unik, tentu akan menarik mata para voters Academy Award. Atau, Once Upon a Time in Hollywood yang disutradarai oleh Quentin
Tarantino yang mengangkat pembunuhan Sharon Tate dengan twist yang segar.

Oh, jangan lupakan juga Ford v Ferrari dan 1917 yang punya teknik visual ciamik dan membuat siapapun yang menonton terpana.

Deretan film ini adalah 'tembok' pertama yang akan mencegah Parasite menggondol gelar Film Terbaik dari Oscar. Ya, semua film yang masuk kategori Best Picture memang punya standar tinggi dan punya pasar penikmatnya sendiri. 'Sekadar' menyandang status berkualitas tak cukup untuk mendongkrak peluang menang secara signifikan.

Tidak cukup sampai di situ. Sebagai karya yang berasal dari tanah Asia, Parasite juga punya tantangan yang harus dilewati sendiri yaitu tembok kedua: tradisi dari kontestasi yang sudah berjalan hampir 120 tahun.

Sejak dilaksanakan pertama kali pada 1929, ajang Oscar bisa dibilang selalu diterpa isu ketidakseimbangan representasi rasial dan gender. Bahkan, riset Los Angeles Times pada 2012 menemukan fakta bahwa voters Academy Awards memang kebanyakan orang kulit putih.

Ini suatu ironi, mengingat Academy Awards sering menyebut dirinya sebagai 'the world's preeminent movie-related organization' (organisasi terkait film paling), tapi ternyata tidak mewakili semua suara.

Kritik tentang isu ini pun terus menerus datang dari aktor dan pembuat film yang berasal dari ras minoritas. Mereka menuntut sebuah sistem yang adil sehingga semua orang bisa punya kesempatan menang, terutama kaum minoritas yang selama ini selalu dikucilkan dan tidak pernah diakui dengan jelas.

Tanpa representasi rasial dan gender yang seimbang, karya yang berasal dari ras minoritas -sebagus apapun-mustahil menang.

Sekarang Parasite sedikit banyak tengah merasakan dampak hal ini. Tidak ada satu pun penghargaan untuk para aktor dan aktris mereka, meski filmnya sendiri sudah mendapatkan banyak penghargaan bergengsi.

Padahal, bagaimana mungkin suatu film meraih penghargaan tanpa didukung penampilan aktor dan aktris dengan kualitas yang layak mendapat penghargaan pula? Apa yang bisa menyebabkan paradoks seperti ini terjadi?

Penelitian VICE memperlihatkan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Mulai dari distribusi film Asia yang minim, sulitnya wajah Asia masuk ke dalam standar mainstream Hollywood, dan demografi voters Academy Awards yang kebanyakan kulit putih.

Faktor-faktor ini membuat pilihan voters menjadi bias karena tidak bisa melihat secara objektif akting dari para aktor Asia. Suatu miopia rasial yang jelas akan membuat penilaian suatu karya film menjadi tidak adil.

Melihat fenomena ini, saya pribadi merasa deja vu karena ada kemiripan antara Oscar tahun ini dengan Piala Oscar 2001. Saat itu film Crouching Tigers Hidden Dragon masuk nominasi kategori Film Terbaik dan sutradara Ang Lee masuk nominasi Sutradara Terbaik. Filmnya pun menjadi sangat populer dan menciptakan hype sehingga dibicarakan semua orang. Persis seperti apa yang saat ini terjadi pada Bong Joon-ho dengan Parasite miliknya.

Namun sayang, pada akhirnya Ang Lee dan Crouching Tigers Hidden Dragon besutannya tidak membawa pulang piala kemenangan dan semata masuk nominasi. Terbentur tembok-tembok berbentuk bias rasial.

Sekarang, yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu perhelatan Oscar pada 9 Februari 2020 mendatang.

Parasite jelas sudah punya kapabilitas dan kapasitas untuk memenangkan kategori Film Terbaik. Kita lihat nanti, apakah mereka bisa menang dan mencatat sejarah, atau harus ikut 'menyerah' pada tradisi seperti yang sudah-sudah?

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS