Corona, Layanan Streaming Iflix Pangkas Karyawan

Tim, CNN Indonesia | Senin, 06/04/2020 13:56 WIB
Corona, Layanan Streaming Iflix Pangkas Karyawan Layanan streaming Iflix mengumumkan terpaksa merumahkan 65 karyawan karena krisis wabah corona dan harus membayar utang. (screenshot via web iflix.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan layanan streaming Iflix yang berpusat di Malaysia mengonfirmasi merumahkan 65 karyawannya karena krisis wabah virus corona Covid-19 dan jatuh tempo pembayaran utang.

Diberitakan Variety, puluhan karyawan yang dirumahkan tersebut tersebar di berbagai lokasi. Hal itu dikonfirmasi oleh CEO Iflix, Marc Barnett dalam pernyataannya.

"Industri ini tidak kebal terhadap keadaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keputusan kami untuk mengurangi jumlah karyawan datang setelah pertimbangan yang cermat dan berkaitan dengan langkah penghematan, untuk memungkinkan perusahaan tetap bertahan di situasi yang tak pasti dan tak menentu ini," kata Barnett.


"Kami tetap fokus dalam mengarahkan bisnis hingga mencapai break even pada 2021 dan langkah-langkah ini adalah bagian dari memastikan kami tetap berada di jalur tersebut dan dapat melewati tantangan ini," lanjutnya.

Barnett kemudian menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan semua yang bisa mereka lakukan untuk mendukung karyawan yang terkena dampak keputusan ini, baik secara profesional maupun pribadi.

Variety menyebut bahwa pengumuman ini datang kurang dari dua pekan setelah SingTel mengumumkan mengajukan likuidasi atas layanan streaming Hooq, yang dimiliki bersama WarnerMedia dan Sony.

Hooq diketahui menjadi pesaing Iflix sebagai sesama layanan streaming asal Asia Tenggara. Hooq tersedia di lima wilayah, Singapura, Filipina, Indonesia, Thailand, dan Indonesia. Sementara Iflix memiliki cakupan lebih luas dengan 13 wilayah, yaitu Asia Tenggara (termasuk Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Thailand), serta Timur Tengah.

Pada awal pekan, Iflix meminta pemegang saham yang ada untuk menyediakan modal tambahan, dan menyebut bahwa pemegang saham yang juga ikut mendirikan layanan itu, Catcha Group akan menyunting minimal US$2 juta.

Dalam surat kepada para pemegang saham, Iflix mengakui bahwa kondisi saat ini membuat rencana IPO pada Bursa Saham Australia tidak mungkin dilanjutkan pada pertengahan tahun nanti.

Variety menyebut rencana itu sebagai langkah untuk mendapatkan modal baru. Dealstreet Asia, mengutip dokumen yang didaftarkan dalam Australian Securities and Investments Commision pada September lalu, melaporkan Iflix harus segera membayar utang US$47,5 juta bila tak segera terdaftar dan mendapat modal baru sebelum 31 Juli 2020.

Iflix diyakini mendulang lebih banyak cuan daripada Hooq, diperkirakan US$300 juta sejak didirikan pada 2014 lalu. Sejumlah perusahaan terdaftar sebagai penyokong layanan streaming ini, seperti Fidelity International, MNC Group, Yoshimoto Kogyo, JTBC, Hearst Communications, EDBI, Liberty Global, Zain, Sky and Evolution Media Capital. (end)

[Gambas:Video CNN]