Diberitakan Variety, puluhan karyawan yang dirumahkan tersebut tersebar di berbagai lokasi. Hal itu dikonfirmasi oleh CEO Iflix, Marc Barnett dalam pernyataannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barnett kemudian menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan semua yang bisa mereka lakukan untuk mendukung karyawan yang terkena dampak keputusan ini, baik secara profesional maupun pribadi.
Hooq diketahui menjadi pesaing Iflix sebagai sesama layanan streaming asal Asia Tenggara. Hooq tersedia di lima wilayah, Singapura, Filipina, Indonesia, Thailand, dan Indonesia. Sementara Iflix memiliki cakupan lebih luas dengan 13 wilayah, yaitu Asia Tenggara (termasuk Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Thailand), serta Timur Tengah.
Pada awal pekan, Iflix meminta pemegang saham yang ada untuk menyediakan modal tambahan, dan menyebut bahwa pemegang saham yang juga ikut mendirikan layanan itu, Catcha Group akan menyunting minimal US$2 juta.
Dalam surat kepada para pemegang saham, Iflix mengakui bahwa kondisi saat ini membuat rencana IPO pada Bursa Saham Australia tidak mungkin dilanjutkan pada pertengahan tahun nanti.
Variety menyebut rencana itu sebagai langkah untuk mendapatkan modal baru. Dealstreet Asia, mengutip dokumen yang didaftarkan dalam Australian Securities and Investments Commision pada September lalu, melaporkan Iflix harus segera membayar utang US$47,5 juta bila tak segera terdaftar dan mendapat modal baru sebelum 31 Juli 2020.
Iflix diyakini mendulang lebih banyak cuan daripada Hooq, diperkirakan US$300 juta sejak didirikan pada 2014 lalu. Sejumlah perusahaan terdaftar sebagai penyokong layanan streaming ini, seperti Fidelity International, MNC Group, Yoshimoto Kogyo, JTBC, Hearst Communications, EDBI, Liberty Global, Zain, Sky and Evolution Media Capital. (end)