Glenn Fredly, Toleransi Beragama dan Perjuangan untuk Musisi

CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2020 10:51 WIB
Sebelum mengembuskan napas terakhir pada Rabu (8/4), Glenn Fredly dikenal sebagai musisi yang vokal menyuarakan toleransi beragama dan kesejahteraan musisi. Sebelum mengembuskan napas terakhir pada Rabu (8/4), Glenn Fredly dikenal sebagai musisi yang vokal menyuarakan toleransi beragama dan kesejahteraan musisi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum mengembuskan napas terakhir pada Rabu (8/4), Glenn Fredly dikenal sebagai musisi yang vokal. Melalui karya dan kata, ia kerap menyuarakan toleransi beragama dan kesejahteraan musisi.

Sebut saja pada 2016 lalu, Glenn pernah mengatakan kepada CNNIndonesia.com bahwa ia selalu bersemangat menyambut bulan Ramadan meski bukan Muslim.

Ia sudah merasakan semangat itu sejak kecil karena tumbuh dengan anggota keluarga Muslim. Menurutnya, masyarakat non-Muslim juga bisa merasakan manfaat Ramadan, seperti ikut mengendalikan diri hingga detoks yang baik bagi kesehatan jiwa raga.


"Memori saya selalu nempel, bukan hanya sekadar makan ketupat, tapi memori saya tentang kebersamaan. Saya bukan seorang Muslim, tapi saya benar-benar menikmati [Ramadan]. Menenangkan gitu. Saya meyakini kalau cinta itu enggak bisa dibatasi dengan agama," ujar Glenn.
Toleransi beragama itu juga diterapkan ketika Glenn merilis album religi Islami, Hidayah, pada 2016. Penyanyi bernama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo ini mengaku merilis album religi Islami merupakan impian yang telah lama dipendam dan akhirnya terwujud.

Kala itu, ia percaya lagu-lagu dalam album Hidayah bisa menyatukan seluruh umat manusia. Ia tidak ingin Indonesia terus menerus dilanda konflik horizontal yang dipicu perselisihan antaragama.

"Kalau di Maluku ada yang namanya pela gandong [kandung], di mana Muslim sebagai kakak dan Kristiani sebagai adik. Jadi bagi saya, ini seperti persembahan dari adik untuk kakak," ujar Glenn.
Selain toleransi beragama, penyanyi asal Maluku ini juga menunjukkan perhatiannya terhadap penegakkan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Menurutnya, tak perlu menjadi aktivis untuk membela HAM.

Pada 2015, ia sempat menghadiri acara konferensi pers penamaan jalan sepeda di Den Haag, Belanda, dengan nama aktivis HAM dari Indonesia, Munir Said Thalib, tanpa undangan khusus.

"Saya datang karena panggilan nurani. Untuk membela Munir tidak perlu jadi aktivis. Ini bukan tugas aktivis saja. Media hingga ibu rumah tangga perlu bergabung," kata Glenn.

[Gambas:Video CNN]

Penyanyi kelahiran 30 September 1975 itu juga hingga akhir terus memperjuangkan kesejahteraan musisi. Ketua KAMI (Kami Musik Indonesia) tersebut berharap pemerintah sadar dan mau memperjuangkan kesejahteraan musisi Indonesia, baik di depan dan belakang layar.

Ia menyadari perkara kesejahteraan ini tak mudah dan membutuhkan proses. Namun, pelantun lagu You are My Everything ini memilih bersikap positif.

"Musisi itu enggak cuma yang di depan panggung, di belakang panggung juga. Kesejahteraan ini mencakup keberlanjutan profesinya. Dari penyanyi, arranger, produser, banyak banget layer-layer di dalam ekosistem ini," ucapnya.

"Musik menyelamatkan saya. Saya bersyukur bisa bertemu banyak orang di industri musik." (chri/has)