Stephany Josephine
Stephany Josephine, atau biasa dipanggil Teppy, adalah seorang penulis dan praktisi kehumasan lepas, lifestyle blogger, dan presenter program ulasan film bertajuk Teppy-O-Meter di Narasi TV. Blognya, www.thefreakyteppy.com telah dikelolanya sejak 2007 dengan artikel-artikel yang terfokus pada pencarian kedai kopi, cerita traveling, konser, dan ulasan film dengan label "Movie Review Suka-Suka."

Terjebak Candu Drama Korea saat #DiRumahAja

Stephany Josephine, CNN Indonesia | Minggu, 12/04/2020 10:32 WIB
Bermula dari penasaran dan berbagai rekomendasi yang datang kala #DiRumahAja, drama Korea sanggup membuat terpikat dan terjebak di dalamnya. Crash Landing on You. (Dok. TVN/Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama tiga bulan pertama 2020, saya sering sekali melihat foto aktor Korea, Hyun Bin, bertebaran di media sosial. Kebanyakan ketika memakai seragam tentara.

Saya tahu, memang ada satu serial Korea rilisan Netflix yang dibintanginya ramai dibicarakan awal tahun ini, yaitu "Crash Landing on You" (CLOY). Tapi saat itu saya belum terlalu termotivasi untuk mulai menonton. Melirik pun belum.

Tak berapa lama setelah foto Hyun Bin sebagai Captain Ri dan video-video parodinya bersama Yoon Se-ri (Son Ye-jin) ada di mana-mana, lagi-lagi saya melihat sosok aktor Korea lain di linimasa Twitter.


Kali ini Park Seo-joon yang memerankan Park Sae-ro-yi dan Kim Da-mi yang memerankan Jo Yi-seo di "Itaewon Class." Berbagai macam pujian akan plot cerita yang bikin penasaran dan kematangan akting dua pemain ini juga berseliweran di mana-mana.

Lalu pada pertengahan Maret, saya melihat sorak sorai lagi di linimasa Twitter, merayakan rilisnya season 2 "Kingdom," serial orisinal Korea pertama di Netflix yang berbau zombi-zombian.

Saya memang pernah dengar serial ini ceritanya seru sekali dengan kualitas produksinya di atas rata-rata serial Korea lain. Plus, karakter Crown Prince (Ju Ji-hoon) di sini sangat dikagumi. Tapi lagi-lagi, baru sebatas mendengar.

Semua berubah ketika pertengahan Maret lalu gerakan #DiRumahAja mulai digalakkan. Saya tiba-tiba jadi punya waktu luang (sangat) ekstra. Rasa-rasanya, terakhir kali saya punya waktu seluang ini adalah saat kuliah, belasan tahun yang lalu.

Jadi saya pikir, ini waktu yang tepat untuk melahap semua daftar tontonan yang menumpuk sekian tahun. Karena saya penasaran dengan hype K-Drama di linimasa Twitter dan Instagram, maka saya putuskan menghabiskan hari-hari saya dengan mengejar tiga serial Korea ini dulu.

Saya tahu K-Drama sudah punya fanbase yang cukup besar di negara ini. Fakta bahwa Netflix mau membuat Netflix Originals Korea saja sudah cukup menunjukkan betapa besar potensi bisnis K-Drama, karena pasar yang dituju luas, tidak hanya Korea sendiri.

Sebagai catatan, frekuensi saya menonton film Korea cukup tinggi. Tapi tidak dengan K-Drama. Terakhir saya melihat drakor atau drama Korea ini adalah ketika waktu saya sedang luang-luangnya tadi. Masa kuliah.

Jadi sebelum saya binge watch tiga serial di atas, saya benar-benar buta dengan perkembangan K-Drama sekarang. Di saat bersamaan, excited sekali, seperti mau belajar hal baru!

Oh, walaupun berbeda bidang, di masa-masa #DiRumahAja ini saya juga sekalian mengulik soal BTS. Saking seringnya saya liat iklan mereka di MRT dan bioskop, saya jadi ikut mendengarkan lagu-lagunya, menonton video-video dance choreography mereka, atau melirik liputan publikasi mereka di luar negeri, dan lain-lain.

Hasilnya?

I am sold.

Dengan pengetahuan per-Korea-an yang minim ini, ketiga serial K-Drama tadi plus BTS membuat saya menyimpulkan betapa majunya industri kreatif Korea Selatan. Betapa bersinarnya masa depan mereka.

Sampai level iri, sih, sejujurnya. Hebat banget mereka bisa semaju ini. Betapa well produced, written, and acted-nya CLOY, Itaewon Class, dan Kingdom. Benar-benar enggak setengah-setengah kalo bikin sesuatu.

Balik lagi. Dari tiga serial di atas, saya bisa menarik benang merah bahwa para serial maker ini tahu betul cara memikat target audiens yang mereka tuju. Gaspol banget!

Saya sarankan kalian menonton tiga serial ini dengan urutan 1-2-3 atau 3-2-1. Jadi bisa dimulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat, atau nonton yang lebih berat dulu baru ditutup yang ringan dan enggak bikin mikir.

Crash Landing on You (CLOY)

Kalau kamu mencari tontonan ringan yang bisa bikin kamu lupa akan semua beban hidup, bikin kamu berkhayal bisa punya pacar secakep dan seprotektif Capt. Ri yang diem-diem ternyata jago trek-trekan, atau berimajinasi ingin jadi Yoon Se-ri yang sukses, kaya raya, dan go-getter, bukan cewek menye-menye, atau ingin kisah cinta kalian semanis dan se-enggak-mungkin itu, CLOY bisa jadi jawabannya.

Lewat CLOY kita juga jadi punya sedikit gambaran kehidupan di Korea Utara seperti apa, walaupun mungin enggak 100% akurat. Lumayan buat pertukaran ilmu budaya.

Usut punya usut, salah satu tim penulisnya, Kwak Moon-wan, adalah pembelot dari Korea Utara (Korut) dan dulunya bagian dari pasukan elite Korut.

Beberapa Youtuber asal Korut (yang sudah kabur dari sana) juga ditunjuk jadi konsultan di serial ini. Karena itu bisa dikatakan serial ini cukup akurat menggambarkan kehidupan masyarakat di sana, walaupun tidak sepenuhnya tepat. Kira-kira 60%-70% lah.
Crash Landing on You. (dok. tvN via HanCinema)

Itaewon Class

Serial ini diangkat dari webtoon berjudul sama yang laris manis di Korea, dibaca lebih dari 220 juta kali! Kalau dari rentang umur, cerita serial ini mungkin lebih cocok untuk anak muda. Tapi kalau dari sisi cerita, siapapun bisa menikmatinya.

Nonton ini setelah nonton CLOY rasanya seperti "naik kelas," karena di sini bobot ceritanya lebih berat.

Saya tidak pernah melihat akting Park Seo-joon sematang ini (saya cuma nonton dia di film "Midnight Runners" dan "Parasite" yang sekilas itu, walaupun dia banyak main K-Drama lain). Akting Seo-joon benar-benar bikin saya ikut berempati sama perjalanan emosi karakternya.

Yang bikin saya semakin jatuh cinta sama serial ini adalah karakter Yi-seo. Such a badass. She knows what she wants and she'll never stop going after it. Karakternya juga tidak akan tinggal diam kalau diperlakukan tidak adil.

Tidak ada karakter perempuan yang lemah di serial ini, bahkan karakter Oh Soo-ah (Kwon Nara) dan Ma Hyun-yi (Lee Joo-young).

Makanya saya tambah cinta, karena saya rasa sudah waktunya karakter-karakter perempuan kuat diperbanyak, karena mereka bisa jadi representasi maupun inspirasi perempuan-perempuan di kehidupan nyata.

Ceritanya sendiri mengajarkan banyak sekali nilai persahabatan, kekeluargaan, kerja keras, motivasi hidup, kegigihan, dan yang pasti, ilmu-ilmu bisnis!

Selesai saya menyelesaikan serial ini, saya juga jadi tertarik mendalami seberapa akurat gambaran kelas sosial yang diceritakan di Itaewon Class.

Saya kemudian menonton sebuah video analisis dari akun Youtuber Korea ini (DKDTV) dan makin kagum karena berarti penulisan cerita serial ini tidak asal-asalan. Memang begitulah kenyataan yang terjadi di masyarakat sana.

Dengan luwes Itaewon Class bisa membahas isu seperti bullying, rasisme, age gap, LGBT, dan kesenjangan sosial, tanpa harus menggurui.

Itaewon Class. (dok. JTBC/Netflix via HanCinema)
Kingdom

Sebenarnya saya pribadi kurang begitu tertarik dengan film atau serial berlatar kerajaan tempo dulu. Entah mengapa, biasanya saya selalu lebih suka dengan tayangan berlatar modern, terasa lebih dekat dan relatable saja.

Tapi ternyata ini bisa dipatahkan oleh Kingdom. Saya rasa tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menonton Kingdom selain sekarang, karena rasanya seperti benar-benar berkaca dengan kondisi pandemi saat ini.

Kingdom adalah cerita politik kerajaan di era dinasti Joseon (diangkat dari webtoon The Kingdom of the Gods), antara yang berkuasa, yang gila kuasa, yang seharusnya berkuasa, yang terjepit di tengah-tengah, dan yang tertindas: rakyat kecil.

Yang bikin serial ini jadi ekstra menarik adalah elemen pandeminya yang membuat orang yang terpapar penyakit ini menjadi seperti zombi.

Nonton serial ini benar-benar bikin deg-degan sekaligus naik darah melihat karakter-karakter yang egois. Rasanya seperti sedang berkaca melihat penanganan pandemi di dunia saat ini. Tontonlah, dan kamu akan mengerti.

Saya tak habis berdecak kagum menonton Kingdom. Selain cerita yang kuat, akting yang apik dari jajaran pemainnya, lokasi, art, make up, kostum, blocking, musik, dan semua elemen lain yang ditampilkan di serial kolosal ini benar-benar dipersiapkan dengan matang.

Lagi-lagi setelah CLOY dan Itaewon Class, saya seperti "naik kelas" lagi menonton serial ini. Kingdom menduduki peringkat satu dari keseluruhan serial yang saya bahas ini.

Kingdom Season 2. (Dok. Juhan Noh/Netflix)
Kenapa K-Drama?

Ketika saya bercuit di Twitter setiap saya menyelesaikan serial-serial ini, dalam hitungan detik saya langsung mendapatkan banyak balasan dari orang-orang yang menyarankan saya untuk deretan K-Drama apik lainnya.

Sumpah, banyak banget antrian K-Drama di daftar tontonan saya sekarang! Yang membalas cuitan saya tidak henti-hentinya memuji atau bercerita kenapa mereka suka sekali dengan K-Drama rekomendasi mereka.

Saya jadi enggak heran juga kalau para pelaku industri film Indonesia semakin kecanduan dengan K-Drama dan industri kreatif Korea pada umumnya.

Anggaplah Korea sebagai tetangga atau "teman sekelas," rasanya kita jadi punya harapan bukan, kalau kita bisa belajar dari mereka dan mengejar ketertinggalan?

Kalau tetangga kita sesama negara Asia ini bisa semaju itu, bukan tidak mungkin rasanya kita juga bisa sampai di titik itu, walau butuh waktu lama.

Dengan besarnya potensi pasar, kreator, cerita, dan ide-ide kreatif di negeri ini, dan bila dukungan pemerintah kita bisa (minimal) setara dengan bagaimana pemerintah Korea memajukan industri kreatif mereka, semoga nanti ada masanya orang-orang di negara lain juga akan kecanduan karya seni Indonesia.

Amen to that? (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS