Film ini terbilang receh, agak norak, dan memiliki plot kisah yang sederhana dengan alur yang dibuat ala cerita cinta sinetron atau telenovela.
Meski begitu, film ini untuk sesaat mampu membuat saya terhibur bahkan tertawa, melepas penat dan bosan akibat pembatasan sosial juga tumpukan pekerjaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah bermula dari Mei Li yang mengalami kesepian setelah seluruh sahabatnya menikah dan meninggalkan dirinya tetap melajang tanpa kekasih di usia 30 tahun. Kehidupannya kini hanyalah bekerja di Bangkok yang padat dan macet.
Inti kisah film ini begitu klise, tentang perempuan yang jatuh cinta diam-diam kepada seorang pria tampan tapi merasa 'kalah saing' serta tak yakin cintanya berbalas.
Hal itu kemudian membuat Mei Li berjuang mendapatkan Loong, atau ia terpaksa menuruti keinginan keluarganya untuk dijodohkan, karena usia yang sudah 30 tahun.
Meski klise dan bak sinetron, cerita film ini sebenarnya menggambarkan kegundahan sebagian (atau banyak) orang Asia, berkarier di kota besar, lajang, dan berusia 30 tahun.
Alamat pertanyaan kapan menikah sudah pasti rajin keluar dari mulut anggota keluarga, atau tetangga, bila Anda hidup di lingkungan yang kepo.
Review Bangkok Traffic (Love) Story menilai film ini bisa jadi sedikit pelipur lara bagi mereka yang hampa karena masih mencari pasangan jiwa, di usia 30-an. (dok. GMM Tai Hub (GTH) via IMDB) |
"Mereka sudah punya pasangan, kenapa jodoh saya tak kunjung datang?" . Pertanyaan ini yang kemudian sering muncul, termasuk pada karakter Mei Li yang digambarkan dengan cukup bak oleh Cris Horwang.
Maka wajar adanya, ketika kegundahan dan rasa insecure akan situasi itu kadang menimbulkan pertanyaan "apakah dia jodoh saya?" kala bertemu sosok yang dianggap memenuhi kriteria. Hal itulah yang digambarkan dari hubungan Mei Li dan Loong.
Ibarat kata, jika usia 25 adalah fase menemukan jati diri, lalu usia 27 adalah kesempatan memahami tujuan dan makna hidup, maka usia 30 adalah momentum untuk memilih atas banyak pilihan yang muncul. Itulah yang tampaknya ingin digambarkan dalam Bangkok Traffic (Love) Story.
Beban dilema itu bukan hanya digambarkan oleh Mei Li. Namun penulis Nawapol Thamrongrattanarit, Benjamaporn Srabua, dan sutradara Adisorn Tresirikasem juga menaruh itu kepada Loong. Saya cukup lega melihat 'kesetaraan' ini.
Kehidupan perkotaan yang menjadi latar dalam film ini sedikit banyak dibuat sebagai pembenaran sekaligus paradoks, di kawasan yang begitu ramai dan padat penduduk, seseorang bisa merasa amat kesepian.
Namun sayangnya, film ini masih kurang mengeksekusi segala ide tersirat tersebut menjadi sebuah cerita yang menggigit dan mampu membuat penonton menyelam ke dalamnya. Cerita cinta Mei Li dan Loong pun dibuat mengalir begitu saja.
Terlepas dari cerita yang kurang menggigit, Bangkok Traffic (Love) Story masih tertolong berkat aksi Cris Horwang yang kocak dan pesona Theeradej Wongpuapan yang karismatik.
[Gambas:Youtube]
Atas kinerja mereka, maka berbagai penghargaan yang diberikan untuk aktris dan aktor itu pun wajar adanya. Keduanya, berkat akting di film ini, banyak menyabet penghargaan skala nasional di Thailand.
Kemampuan film ini menghibur saya yang penat memang telah dibuktikan dulu ketika dirilis. Film ini sukses secara komersil dengan mendulang box office 57 juta baht di akhir pekan pembuka dan 140 juta baht hanya dalam empat pekan tayang.
Pada akhirnya, Bangkok Traffic (Love) Story yang kini bisa dinikmati di Netflix ini layak sebagai rekomendasi hiburan dan pelipur lara diri yang hampa karena masih mencari pasangan jiwa, di usia 30-an. (end)
Review Bangkok Traffic (Love) Story menilai film ini bisa jadi sedikit pelipur lara bagi mereka yang hampa karena masih mencari pasangan jiwa, di usia 30-an. (dok. GMM Tai Hub (GTH) via IMDB)