Review Film: The Battleship Island

CNN Indonesia | Jumat, 05/06/2020 20:17 WIB
So Ji Sub dalam The Battleship Island Meski ada sejumlah catatan, secara keseluruhan The Battleship Island merupakan film yang menarik dan menghibur untuk ditonton, terutama saat pandemi Covid-19. (Dok. IMDB)
Jakarta, CNN Indonesia -- The Battleship Island menjadi salah satu film bertema sejarah asal Korea Selatan yang menarik untuk ditonton, terutama kala isolasi mandiri.

Secara garis besar, film ini menggambarkan situasi Korea Selatan ketika masih di bawah kolonial Jepang dan berdekatan dengan pengeboman Hiroshima serta Nagasaki oleh Amerika Serikat pada 6 dan 9 Agustus 1945.

Ratusan orang, mulai dari pengangguran, mahasiswa, mafia, pemusik, hingga anak kecil ditipu dan dibawa ke Pulau Hashima, Jepang, untuk menjadi pekerja paksa di tambang batu bara. Perempuan di bawah umur bahkan dibawa untuk menjadi perempuan penghibur di Jepang.


Layaknya film sejarah soal upaya kemerdekaan, Jepang selaku pihak berkuasa benar-benar digambarkan sebagai sosok yang tak memiliki hati, licik, serta menggampangkan nilai nyawa orang lain.

Kendati demikian, The Battleship Island memiliki satu hal yang membuatnya berbeda dengan film bertema sejarah lainnya, seperti The Battle: Roar to Victory serta The Admiral: Roaring Currents.

Secara kasat mata, The Battleship Island memang menceritakan upaya ratusan warga Korea Selatan keluar dari kolonialisasi Jepang.

Namun, Ryoo Seung-wan selaku sutradara sesungguhnya lebih menggali perselisihan serta pengkhianatan yang terjadi di antara warga Korea. Aksi pro-Jepang dari beberapa karakter juga terlihat jelas dalam film itu.

Salah satu karakter berkewarganegaraan Korea bahkan secara blak-blakan menceritakan hidupnya jauh lebih menderita ketika bertemu orang Korea dibandingkan Jepang.

Sejatinya, situasi seperti itu benar-benar terjadi di dunia nyata. Banyak orang yang sesungguhnya dalam kondisi sama-sama susah atau terjajah, tapi malah merasa lebih baik dibandingkan lainnya.

Mereka lantas memilih untuk berlaku superior dan mencari untung atau selamat sendiri. Dasar permasalahan seperti itu sudah diangkat di banyak film, salah satunya Parasite.

Namun, jalan cerita yang juga ditulis Ryoo Seung-wan itu sempat dikritik banyak warganet Korea Selatan. Mereka mempermasalahkan kisah pengkhianatan sesama warga Korea dan yang pro-Jepang masa itu.

Catatan kecil lain dari The Battleship Island adalah keinginan Ryoo Seung-wan mengeksplorasi banyak hal dari para karakter utama.
The Battleship Islanddok. CJ Entertainment via HancinemaThe Battleship Islad. (Dok. CJ Entertainment via Hancinema)
Di bagian awal, permasalahan mulai dibuka satu per satu sebagai langkah pengenalan terhadap karakter berpengaruh dalam film ini.

Sayangnya, tak semua kisah berhasil dieksekusi dengan baik. Banyak cerita para tokoh yang tiba-tiba hilang, berubah, bahkan berakhir begitu saja tanpa penjelasan mendalam.

Catatan lainnya adalah penggambaran kericuhan, terutama di tambang batu bara yang gelap, kadang terlalu cepat. Hal tersebut berpotensi membuat penonton harus jeli dan benar-benar memperhatikan tokoh yang bertarung atau terluka kala itu.

Di sisi lain, ketegangan serta keseriusan The Battleship Island diimbangi dengan manis dan kehangatan hubungan ayah-anak, Lee Gang-ok dan So-hee, yang diperankan Hwang Jung-min dan Kim Soo-ahn.

Lee Gang-ok merupakan pimpinan grup band ternama di Korea kala itu. Sementara itu, So-hee menjadi penyanyi band asuhan ayahnya. Interaksi mereka termasuk bersama para anggota band lainnya memberikan unsur komedi dalam film ini.

The Battleship Island diramaikan banyak bintang besar, seperti So Ji-sub, Song Joong-ki, serta Lee Jung-hyun. Namun, aktris cilik Kim Soo-ahn rasanya paling layak diacungi dua jempol dalam film tersebut.

Ekspresi-ekspresi yang ditampilkan Kim Soo-ahn memberikan nilai tambah bagi film ini, termasuk jelang akhir film di mana ia berhasil menggambarkan trauma yang akan terus melekat dalam pikiran korban jajahan, terutama anak kecil.

Kepiawaian itu membuat aktris kelahiran 26 Januari 2006 tersebut membawa pulang piala Popularity Award Blue Dragon Film Awards 2017 serta Special Actress the Seoul Awards 2017.

[Gambas:Youtube]

Secara keseluruhan, The Battleship Island merupakan film yang menarik dan menghibur untuk ditonton meski memiliki beberapa catatan kecil.

Sejak dirilis pada 26 Juli 2017, lebih dari 6,5 juta tiket film itu terjual di Korea Selatan. The Battleship Island pun menempati posisi keenam film terlaris di Negeri Gingseng kala itu, setelah A Taxi Driver, Along with the Gods: The Two Worlds, Confidential Assignment, Spider-Man: Homecoming, dan The Outlaws.

Tak hanya itu, The Battleship Island juga sempat menjadi film Korea terlaris di Indonesia pada 2017. Film itu setidaknya mendapatkan Rp6,5 miliar dari penayangan di Indonesia dan menggeser Train to Busan.

Kendati demikian, The Battleship Island belum berhasil melampaui capaian Ryoo Seung-wan melalui film Veteran (2015) yang dengan penjualan 13,4 juta tiket. Dengan angka itu, Veteran menempati posisi kelima film terlaris di Korea Selatan sepanjang masa.

The Battleship Island masih bisa ditonton di Viu dan Vidio. (chr/has)