Review Film: Da 5 Bloods

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 26/06/2020 17:09 WIB
Da 5 Bloods Spike Lee kembali dengan film sarat kritik. Dengan sinematografi apik dan pendalaman karakter kuat, Da 5 Bloods memuaskan rasa penasaran penulis. (Dok. Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rasa penasaran saya sudah muncul sejak Da 5 Bloods diambil alih Spike Lee dan Kevin Willmott. Naskah yang sebelumnya ditulis Danny Bilson dan Paul De Meo mereka tulis ulang hingga menjadi cerita dengan sudut pandang orang Afrika-Amerika.

Singkatnya, film ini mengisahkan empat tentara veteran Amerika Serikat (AS) yang pernah diterjunkan ke Perang Vietnam. Mereka adalah adalah Paul (Delroy Lindo), Otis (Clarke) Peters, Eddie (Norm Lewis) dan Melvin (Isiah Whitlock, Jr).

Kini, mereka kembali ke Vietnam untuk mencari emas yang sempat mereka temukan saat bertugas. Kala itu, mereka memilih mengubur peti itu sehingga tersimpan dengan aman dan bisa diambil suatu saat.


Mencari emas bukan satu-satunya misi empat veteran kulit hitam ini. Mereka juga ingin mencari dan membawa pulang jasad pemimpin pasukan mereka saat perang, Stormin' Norman (Chadwick Boseman), sebagai bentuk penghormatan.

Saat membaca sinopsis seperti di atas, saya yakin bahwa cerita Da 5 Bloods tidak akan seringan itu. Mengingat, film ini ditulis dan disutradarai oleh Lee, sineas yang vokal lewat karya-karyanya.

Benar saja. Prediksi saya terbukti meski baru menyaksikan bagian awal Da 5 Bloods. Semakin lama diputar, cerita film semakin menarik dan berbobot.

Cerita ini kian menarik karena dikisahkan dengan alur maju mundur. Ketika empat veteran membahas perang, format layar berubah jadi lebih kecil kemudian menampilkan adegan yang mereka ceritakan. 

Dengan teknik tersebut, Lee berhasil mempertegas pembagian waktu film ini. Penonton pun dapat merasakan suasana film lawas, seperti menonton di tahun saat perang terjadi. 

Hal menarik lain adalah perawakan empat veteran yang tidak dibuat muda pada setiap adegan masa lalu. Alhasil, penonton serasa menyaksikan adegan perang dalam pikiran empat veteran tersebut.

Semua itu dilengkapi dengan pembentukan dan pengembangan karakter yang kuat. Latar belakang setiap karakter digali dan disampaikan dengan baik lewat tiap adegan.

Misalnya, karakter Paul. Ia memiliki masalah masa lalu yang belum bisa dilupakan hingga membuat emosinya sulit dikontrol. Itu menjadi jawaban ketika Paul kerap emosi pada masalah yang bisa ditangani dengan mudah.

[Gambas:Youtube]

Pun aktor Delroy Lindo memerankan karakter Paul dengan sangat baik. Ia layak mendapat apresiasi karena tidak mudah memerankan karakter tersebut.

Selain berbagai penjelasan dia atas, hal yang tidak kalah penting dalam film ini adalah kritik, terutama terhadap pihak yang memperlakukan orang kulit hitam dengan tidak baik.

Salah satunya adalah percakapan dengan pemandu wisata Vietnam yang berkata bahwa George Washington pendiri AS. Otis lantas menimpali dengan penjelasan bahwa Washington memiliki 123 budak kulit hitam.

Kritik tersebut tidak terasa dipaksakan karena sangat menyatu dengan cerita dan ditampilkan pada adegan yang tepat. AS dan Vietnam memang memiliki sejarah. tak heran bila seorang Vietnam mempertanyakan Washington.

Kritik lain yang tak kalah menarik adalah ketika empat veteran itu memasuki hutan Vietnam. Sembari berbicara, mereka mengejek film Rambo yang bak glorifikasi kemenangan AS pada Perang Vietnam. Kenyataannya, tidak demikian.

(has)