Review Film: A Taxi Driver

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2020 18:50 WIB
Film Korea A Taxi Driver Review A Taxi Driver menilai film ini jelas mengatakan bahwa pahlawan sejatinya bukan hanya yang angkat senjata, tetapi bisa dari masyarakat awam. (dok. Showbox via hancinema)
Jakarta, CNN Indonesia --

Masih ada banyak hal yang saya dapatkan usai menyaksikan A Taxi Driver, meski sudah kesekian kalinya menikmati cerita yang diinspirasi kisah nyata tersebut.

Salah satu yang paling membekas adalah film ini benar-benar mengajarkan bahwasanya tak semua pahlawan itu berjubah atau bertenaga super.

Film ini mengambil sudut pandang dari seorang pengemudi taksi, Kim Man-seob (Song Kang-ho), yang mengantarkan wartawan asal Jerman, Peter (Thomas Kretschmann), ke Gwangju demi mendapatkan uang untuk membayar tunggakan sewa rumahnya.


Kim Man-seob sesungguhnya menggunakan cara licik untuk bisa mendapatkan uang tersebut. Tapi, tanpa disangka, hal itu membuatnya menjadi salah satu orang yang berpengaruh dan ikut menuliskan sejarah.

Film yang diangkat dari kisah nyata, Pemberontakan Gwangju 1980, benar-benar menampilkan semua orang pada dasarnya bisa menjadi pahlawan bagi orang lain bahkan negara hanya dengan bermodalkan keinginan dan rasa kemanusiaan.

Pemberontakan Gwangju terjadi pada 18-27 Mei 1980, setelah Park Chung-hee, Presiden Korea Selatan selama 18 tahun, tewas dibunuh dan Jenderal militer Chun Doo-hwan mengambil alih kekuasaan. Masyarakat Gwangju turun ke jalan menuntut demokrasi.

Salah satu yang harus diapresiasi adalah sinematografi A Taxi Driver yang begitu memukau. Situasi panas, kala militer represif bahkan melepaskan tembakan-tembakan ke mahasiswa, perempuan, dan orang lanjut usia di jalan, ditunjukkan dengan amat baik, detail, dan terlihat amat riil.

Belum lagi tekanan penguasa terhadap media yang terang-terangan ditunjukkan dalam film ini, mulai dari melarang peliputan, menggunakan media untuk menyebarkan kabar palsu, hingga akhirnya menghilangkan media itu sendiri.

Film Korea A Taxi DriverReview A Taxi Driver menilai film ini jelas mengatakan bahwa pahlawan sejatinya bukan hanya yang angkat senjata, tetapi bisa dari masyarakat awam. (dok. Showbox via hancinema)

Pengambilan gambar yang piawai sesaat membuat saya merasa seperti menyaksikan film dokumenter.

Belum lagi permainan efek suara yang berhasil menambah unsur dramatis dalam film ini, seperti ketika adegan berlangsung tanpa ada efek suara sama sekali untuk menggambarkan kekosongan atau kehampaan dalam hidup karakter.

Perasaan dan pikiran saya banyak bermain ketika menyaksikan film ini. Sutradara Jang Hoon memulai A Taxi Driver dengan amat menyenangkan, Kim Man-seob mengendarai mobil sambil mendengarkan lagu-lagu bernuansa retro.

Kepolosan dan kesederhanaan Kim Man-seob yang ditampilkan oleh Song Kang-ho di sepanjang film sesungguhnya bagai oasis di tengah situasi politik yang memakan korban jiwa hingga 2 ribu orang. Tingkah lakunya kadang bisa mengundang tawa.

Namun, hal itu sesungguhnya menjadi salah satu cara Jang Hoon menggambarkan Kim Man-seob benar-benar orang biasa layaknya masyarakat awam yang kemudian menjadi pahlawan berkat rasa kemanusiaan.

Film ini jelas mengatakan bahwa pahlawan sejatinya bukan hanya berbicara mengenai angkat senjata atau adu kekuatan dengan menyerang lawan.

[Gambas:Youtube]



Melainkan, pahlawan adalah mereka yang membagikan nasi kepal kepada para pedemo dan masyarakat sekitar, menyediakan tempat bermalam bagi orang lain, dan bahkan ketika menjadi penerjemah.

Prajurit yang berjaga di perbatasan serta bersedia mengantarkan orang tanpa imbalan juga bisa menjadi pahlawan dengan bermodalkan akal sehat dan kemanusiaan.

Secara keseluruhan, A Taxi Driver merupakan film tentang sejarah yang amat menyenangkan untuk ditonton. Namun, tisu mungkin perlu dipersiapkan sebelumnya bagi Anda yang mudah tersentuh.

A Taxi Driver juga masih bisa menghadirkan nuansa menegangkan dan seru meski telah disaksikan berulang kali.

A Taxi Driver pertama kali tayang di Korea Selatan pada 2017. Namun, film ini tayang di Trans7 pada Kamis (2/7) dan bisa disaksikan kembali di Viu.

(end)