Gerilya Republik di Balik Kanye West Demi Kemenangan Trump

CNN Indonesia | Sabtu, 08/08/2020 08:04 WIB
Di balik kampanye Kanye West, Partai Republik disinyalir bergerilya memanfaatkan pengaruh rapper itu untuk memecah suara demi kemenangan Donald Trump di pemilu. Di balik kampanye Kanye West, Partai Republik disinyalir bergerilya memanfaatkan pengaruh rapper itu untuk memecah suara demi kemenangan Donald Trump di pemilu. (AP/Michael Wyke)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di balik kampanye penuh kontroversi Kanye West, Partai Republik disinyalir bergerilya memanfaatkan pengaruh sang rapper untuk memecah suara Partai Demokrat demi memenangkan Donald Trump dalam pemilihan umum Presiden Amerika Serikat.

West memang mendaftarkan diri sebagai calon presiden dengan jalur independen. Namun, Partai Republik disinyalir berperan besar dalam kampanye West dengan tujuan akhir mengacaukan pemilu sehingga Trump menang.

Gerak-gerik ini mulai terbaca jelas setelah The New York Times memberitakan bahwa pengacara yang pernah bekerja untuk kampanye Trump, Lane Ruhland, mendaftarkan nama West agar tertera dalam kertas suara di Wisconsin pada Selasa lalu.


Kabar ini memperkuat berita The Milwaukee Journal Sentinel sebelumnya yang menyebutkan bahwa pendaftaran nama West di negara bagian Wisconsin ini didukung oleh sejumlah kader dari Partai Republik.

Berdasarkan laporan tersebut, sejumlah kader aktif Partai Republik juga terlibat dalam pencalonan West, salah satunya Mark Jacoby.

Jacoby merupakan salah satu pejabat eksekutif di perusahaan Let the Voters Decide. Mereka menghimpun tanda tangan untuk kampanye West di Ohio, West Virginia, dan Arkansas.

Pria tersebut pernah ditahan atas tuduhan kecurangan dalam pemilu pada 2008 lalu, saat ia bekerja untuk Partai Republik di California.

Sehari setelah kabar di Wisconsin, Vice melaporkan bahwa seorang kader Partai Republik, Rachel George, juga membantu mendaftarkan nama West di negara bagian Colorado.

Setelah kabar ini, berbagai pemberitaan lainnya mulai menarik perhatian publik, termasuk yang dirilis New York Magazine pada awal pekan ini.

Dalam pemberitaan itu, West disebut mendapatkan dukungan salah satunya dari kader yang memegang hak elektorat Partai Republik di negara bagian Vermont, Chuck Wilton.

Wilton mengaku memang mempunyai koneksi dengan orang di dalam kampanye West. Namun, bukan berarti ia tidak percaya kepada Trump.

"Saya tidak kecewa dengan [Trump], tapi ingin mencari alternatif," ujar Wilton kepada New York Magazine.

West sendiri sebenarnya terlambat untuk mendaftarkan diri di beberapa negara bagian, tapi namanya sudah tertera di surat suara sejumlah wilayah yang signifikan bagi Partai Republik.

Sejumlah pengamat pun menganggap kehadiran West dalam kampanye dapat membawa keuntungan bagi Partai Republik karena bisa memecah suara untuk Partai Demokrat.

[Gambas:Video CNN]

Trump sendiri mengakui bahwa kehadiran West dalam arena pemilu 2020 dapat memecah suara bagi rivalnya dari Partai Demokrat, Joe Biden. Namun, Trump membantah berupaya membantu pencalonan diri West di beberapa negara bagian.

"Saya sangat suka Kanye West, tapi tidak. Saya sama sekali tidak terkait dengan upaya memasukkan nama dia ke surat suara. Kita harus lihat apa yang akan terjadi. Kita lihat apa dia benar-benar muncul di surat suara. Namun, saya tidak terlibat," katanya seperti dikutip NME.

Meski mengaku tak terlibat, Trump tetap dianggap bakal mendapatkan keuntungan dari pencalonan diri West. Sejumlah pengamat menganggap kehadiran West dapat mengacaukan suara dalam pemilu yang pada akhirnya mendorong kemenangan Trump.

"Permainan Trump adalah untuk membuat pemilu sekacau mungkin dengan harapan dia mendapatkan cukup suara di sana-sini," ujar seorang ahli strategi politik pendukung Partai Demokrat, Jamal Simmons.

Ia kemudian berkata, "Baginya, semakin kacau, semakin orang akan memilih untuk tak berpartisipasi. Jika Kanye mengatakan bahwa sedang terjadi kekacauan dan kalian tidak bisa mempercayai salah satu dari mereka, itu justru adalah pesan Trump."

(has/has)