Review Film: Soul

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 01/01/2021 20:45 WIB
Pixar dan Disney menyuguhkan film sederhana namun sangat bermakna serta menggugah emosi lewat Soul. Pixar dan Disney menyuguhkan film sederhana namun sangat bermakna serta menggugah emosi lewat Soul. (Dok. Arsip IMDB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pixar dan Disney belum berhenti menyuguhkan film sederhana namun sangat bermakna serta menggugah emosi. Kali ini rasa itu mereka sampaikan lewat film animasi bertajuk Soul.

Cerita film ini sangat sederhana, mengikuti kehidupan seorang pria paruh baya bernama Joe Gardner (Jamie Foxx) yang memiliki tujuan hidup sebagai pianis jazz untuk tampil di muka umum.

Sejak kecil Joe percaya bahwa ia hidup ditakdirkan sebagai pianis jazz. Ia berusaha dengan melewati berbagai tahap, salah satunya menjadi guru musik paruh waktu Sekolah Menengah Pertama.


Ia senang ketika berkesempatan tampil mendampingi musisi jazz kenamaan. Sayangnya, ia jatuh dalam lubang jalan hingga koma dan jiwanya melayang ke The Great After, tempat jiwa-jiwa orang yang akan meninggal.

Joe menjelajah alam The Great Before, tempat jiwa-jiwa orang yang akan lahir, karena belum siap meninggal dunia. Saat itulah cerita yang sesungguhnya dimulai dan Soul terbukti sebagai film yang bagus.

Selama kurang lebih satu jam pada alam tersebut, karakter Joe dieksplorasi. Karakter Joe berkembang, dari yang sangat yakin menjadi pianis Jazz sampai ragu dan mulai mempertanyakan tujuan hidup.

Eksplorasi dan pengembangan karakter Joe tidak terasa memaksakan karena sebelumnya sudah ada build up story untuk karakter Joe. Joe benar-benar diperlihatkan sebagai orang awam yang sedang belajar hidup, pasti ada penonton yang relate dengan kisah ini.

Cerita yang fokus pada karakter Joe yang cenderung datar juga tidak membosankan karena kehadiran karakter bernama 22 yang sangat bertolak belakang. Joe dan 22 saling melengkapi dalam kelebihan dan kekurangan.

Selain itu, sutradara sekaligus penulis naskah Peter Docter seperti ingin mengajak penonton untuk ikut mempertanyakan tujuan hidup lewat adegan demi adegan. Mungkin terasa sederhana, tapi sebenarnya sangat bermakna.

Ide penggarapan film ini sendiri muncul dari pikiran Docter yang sederhana. Pada beberapa hari ia berpikir apa yang harus dilakukan sebelum makan siang dan sebelum makan malam. Beginya itu menyedihkan.

"Ide bahwa kalian bangun dari tidur untuk hidup dan melakukannya setiap hari, menurut saya sangat menarik," kata Docter.

Docter sukses mengeksekusi ide yang sederhana dan menarik menjadi cerita yang sangat bermakna. Inti film ini serupa dengan film Inside Out (2015) yang juga ia tulis dan sutradarai.

Menurut saya, film ini layak ditonton bagi mereka yang bingung akan tujuan hidup atau mereka yang mengalami quarter life crisis. Soul akan membuka pikiran mereka dengan cara sederhana dan tidak sok bijak.

Tujuan hidup sendiri merupakan hal yang sangat filosofis dan tidak mudah dipahami meski terlihat sepele. Bahkan banyak pula orang paruh baya, seperti Joe, yang sebenarnya belum memahami tujuan hidup.

Bila diperhatikan lebih dalam, film yang membahas tujuan hidup ini terlalu berat untuk dipahami anak kecil. Mengingat tujuan film utama film ini anak-anak, namun setidaknya anak-anak akan menikmati animasi yang sangat berkualitas.

(bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK