Review Serial: Sweet Home

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Selasa, 22/12/2020 19:49 WIB
Review Sweet Home menilai serial ini mampu mempermainkan emosi penonton dari awal hingga akhir. Review Sweet Home menilai serial ini mampu mempermainkan emosi penonton dari awal hingga akhir. (Courtesy of Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satu kata untuk serial Sweet Home: spektakuler. Saya benar-benar bertepuk tangan dengan mata berkaca-kaca usai menyaksikan seluruh episode serial Sweet Home.

Apresiasi besar saya berikan kepada sutradara Lee Eung-bok beserta seluruh tim produksi karena bisa menghidupkan Sweet Home ke layar kaca dengan amat baik.

Kerja sama yang baik dari tim di belakang dan depan kamera membuat Sweet Home berhasil menganggut emosi saya sebagai penonton, mulai dari amarah, bahagia, hingga kesedihan dari 10 episode serial tersebut.


Sweet Home mengisahkan kekacauan dunia akibat manusia berubah menjadi monster akibat hasrat terdalam mereka.

Serial hasil adaptasi webtun bertajuk serupa karya Kim Carnby (Youngchan Hwang) ini fokus pada penghuni apartemen Green Home. Sinopsis Sweet Home dapat dibaca di sini.

Serial ini sejatinya ditujukan untuk dewasa. Tema cerita Sweet Home cenderung gelap, aksi kekerasan yang terang-terangan, perundungan, niatan bunuh diri, serta perkataan kasar diperlihatkan hampir di seluruh episode.

Terlebih lagi, darah manusia seperti tak ada nilainya lagi. Sehingga, penonton yang mudah kaget atau tak kuat melihat darah dan kekerasan benar-benar harus menyiapkan diri apabila ingin menyaksikan Sweet Home.

Seperti yang disampaikan Lee Eung-bok dalam konferensi pers terbatas beberapa waktu lalu, pengembangan karakter sungguh merata ke seluruh pemain, baik pemeran utama maupun pemeran pendukung.

Mulai dari kisah ironi Cha Hyun-soo (Song Kang) yang berencana bunuh diri namun memilih tetap bertahan dan justru ingin menyelamatkan hidup orang lain, hingga situasi apartemen Green Home yang sesungguhnya jauh dari definisi "sweet home".

Pyeon Sang-wook (Lee Jin-wook) dalam serial Sweet Home.Tema cerita Sweet Home cenderung gelap, aksi kekerasan yang terang-terangan, perundungan, niatan bunuh diri, serta perkataan kasar diperlihatkan hampir di seluruh episode. (Courtesy of Netflix)

Kehidupan pemeran pendukung, penghuni Green Home lainnya, juga menarik diperhatikan. Mereka sejatinya menggambarkan masyarakat pada umumnya. Interaksi serta keputusan-keputusan yang diambil terasa lebih terhubung dengan penonton.

Tak hanya itu, kehadiran pemeran pendukung juga menjadi bumbu tersendiri untuk memastikan ketegangan dan permasalahan dalam Green Home tetap ada di setiap episode.

Aksi para pemeran utama juga layak diacungi jempol, seperti Song Kang, Lee Jin-wook, serta Lee Do-hyun yang menampilkan sisi lain dari karakter yang selama ini diperankan, kemudian Lee Si-young yang menjadi perempuan kuat meski sejatinya karakter itu tidak ada dalam webtun.

Kisah seluruh pemeran sesungguhnya menyiratkan pesan kepada penonton untuk benar-benar menjalani hidup dengan baik, menyayangi diri sendiri, dan tetap baik kepada orang lain karena sejatinya tidak ada yang benar-benar tahu perjalanan hidup atau pun permasalahan yang dihadapi orang tersebut.

"Ini bukan saatnya mengkhawatirkan monster. Manusia adalah sosok yang paling menyeramkan."

Aspek lain yang juga patut disoroti dalam Sweet Home adalah kesetaraan gender berupa perempuan tak digambarkan sebagai sosok yang lemah dan harus dilindungi laki-laki. Para pemeran perempuan di sini mampu berdiri sendiri bahkan menjadi tonggak untuk menyelamatkan banyak orang.

Meski bergenre thriller, horor, dan fantasi, Lee Eung-bok tak lupa menambahkan unsur menyentuh hati layaknya drama Korea pada umumnya. Kisah hangat antara anak-anak dengan orang tua/lansia juga ditonjolkan dalam beberapa episode dengan kehadiran Kim Kap-soo dan Kim Sang-ho.

Belum lagi adegan-adegan menyayat hati yang bisa membuat penonton meneteskan air mata. Sutradara Lee Eung-bok juga menyatakan serial tersebut berhasil membuat anak laki-lakinya menangis.

Han Doo-sik (Kim Sang-ho) dalam serial Sweet Home.Review Sweet Home menilai kisah hangat antara anak-anak dengan orang tua/lansia juga ditonjolkan dalam beberapa episode. (dok. Son Ik-Chung / Netflix/Courtesy of Netflix)

Walau tersentuh dan amat menikmati seluruh episode, bukan berarti Sweet Home tak memiliki catatan. Grafis komputer (CG) menjadi satu-satunya catatan kecil bagi serial ini.

CG dalam beberapa adegan dan monster terlihat lebih 'kasar' dibandingkan yang lainnya. Hal itu dapat membuat ketegangan yang terbangun dari adegan-adegan sebelumnya langsung menghilang.

Sutradara Lee Eung-bok memang mengatakan CG menjadi tantangan terbesarnya sebab digunakan di hampir seluruh adegan dan episode. Ia menggandeng Legacy Effect yang sebelumnya berpartisipasi dalam pembuatan film Avengers, Avatar, Hellboy, serta serial Stranger Things.

Sehingga, sungguh wajar rasanya jika beberapa monster dalam Sweet Home sedikit mengingatkan dengan makhluk dalam serial Stranger Things.

Seo Yi-kyung (Lee Si-young) dalam serial Sweet Home.Review Sweet Home menyebut aspek lain yang juga patut disoroti dalam serial ini adalah kesetaraan gender berupa perempuan tak digambarkan sebagai sosok yang lemah dan harus dilindungi laki-laki.: (dok. Son Ik-Chung / Netflix/Courtesy of Netflix)

Kendati demikian, Sweet Home memiliki sinematografi yang baik. Hal tersebut disertai efek khusus yang membuat penonton seolah-olah berada dalam dunia gim pada beberapa episode. Saya jadi berandai-andai dapat menyaksikan serial ini di layar lebar dalam format 3D.

Pada akhirnya, Sweet Home merupakan salah satu serial yang amat saya rekomendasikan untuk disaksikan jelang akhir tahun terutama kala pandemi Covid-19. Serial ini secara tersirat mengajak penonton "to live your life to the fullest."

Selain para pemain, monster-monster yang muncul juga seolah mengingatkan kembali bahwa hasrat setiap orang berbeda-beda. Ada hal yang mungkin terlihat kecil dan amat sederhana bagi seseorang, tapi jadi sesuatu yang sangat diinginkan orang lain.

Apresiasi sekali lagi perlu disampaikan kepada tim produksi yang total dalam menghidupkan para monster, karakter, hingga set dari Green Home. Jalan cerita yang konsisten menarik hingga akhir membuat saya berharap Sweet Home berlanjut ke musim kedua dalam waktu dekat.

[Gambas:Youtube]

Serial Sweet Home pun sejatinya masih bisa dinikmati meski terdapat beberapa perbedaan dari versi webtun. Sutradara Lee Eung-bok mengatakan perbedaan itu disebabkan serial Sweet Home dipersiapkan ketika webtun Sweet Home masih berjalan.

Sehingga, sutradara Lee Eung-bok menggunakan pemikiran dan ide kreatif sendiri, terutama untuk episode-episode akhir Sweet Home.

Sweet Home memiliki 10 episode yang dirilis sekaligus pada 18 Desember 2020. Sweet Home dapat disaksikan di Netflix.

(end)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK