Henk Ngantung, dari Pelukis hingga Gubernur Jakarta

CNN Indonesia | Rabu, 20/01/2021 19:44 WIB
Nama Henk Ngantung kembali mencuat setelah perkara perkara Grand Indonesia harus bayar denda terkait logo Tugu Selamat Datang. Henk Ngantung pernah menjabat menjadi Gubernur Jakarta. (Tropenmuseum via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-3.0)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Henk Ngantung kini menjadi perbincangan publik usai Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan gugatan atas logo Tugu Selamat Datang yang dipakai oleh mal Grand Indonesia tanpa izin.

Dalam persidangan yang berlangsung pada Rabu (20/1), PN Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp1 miliar kepada pihak Mall Grand Indonesia.

Tugu Selamat Datang atau Monumen Selamat Datang merupakan salah satu dari deretan hasil karya seni Henk Ngantung yang hingga kini masih bisa dinikmati keindahanya.


Melansir laman Digital Archive of Indonesian Comtermpoary Art, Henk Ngatung adalah seorang seniman yang lahir pada 1 Maret 1921 di Bogor, Jawa Barat. Sejak kecil, Henk telah bercita-cita menjadi seorang pelukis.

Impian itu ia bawa hingga tumbuh dewasa dan menjadi pelukis yang mendapat perhatian dari pemerintah di masa itu.

Pada tahun 1937 Henk mendapat kesempatan dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk memamerkan beberapa karya lukisannya di gedung kesenian milik pemerintah kolonial, yaitu Bataviasche Kunstkring.

Dalam pameran itu ia menjadi salah satu dari empat seniman asal Indonesia yang ikut dalam pameran bersama Soedjojono, Agus Djaya, dan Emiria Soenassa. Keikutsertaan Henk dalam sejumlah pameran juga berlanjut pada masa pendudukan Jepang hingga masa Agresi Belanda.

Selain aktif mengikuti pameran, Henk akhirnya berkesempatan membuat pameran tunggal yang berlangsung pada Agustus 1948, di Hotel Des Indes, Jakarta.

Patung Selamat Datang yang berada di bundaran hotel Indonesia merupakan karya seni dari Soekarno sebagai bagian pola tata letak pembangunan di Ibu Kota Jakarta. Kamis (18/6/2020). CNN Indonesia/Andry NovelinoPatung Selamat Datang yang berada di bundaran hotel Indonesia merupakan karya seni dari Soekarno. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Dalam pameran ini, Henk memajang sejumlah karya yang menggambarkan pemandangan wilayah Indonesia seperti lukisan Tanah Lot di Bali, pemandangan di lembah hijau, pesisir pantai, pemandang laut dan lukisan aktivitas warga.

Selain lukisan, Henk Ngantung juga piawai dalam membuat sketsa orang dan tokoh-tokoh penting di Indonesia kala itu, seperti sketsa Sitor Situmorang, ST. Takdir Alisjahbana, Gadjah Mada, P.M. Sutan Syahrir, Prof. Schermerhorn dan sketsa yang menggambarkan aktivitas orang.

Deretan sketsa-sketsa hitam putih yang dibuatnya, kemudian dirangkum dalam buku Sketsa-Sketsa Henk Ngantung yang dipublikasikan pada 1981.

Tak hanya berprofesi sebagai seniman, Henk Ngantung juga pernah didapuk sebagai pejabat. Ia diangkat oleh Presiden pertama RI, Sukarno menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta (1960-1964) dan kemudian menjadi Gubernur DKI (1964-1965).

Saat menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Henk ditunjuk presiden Sukarno untuk membuat sketsa Monumen Selamat Datang yang ditujukan menyambut tamu-tamu kenegaraan dalam rangka Asian Games IV pada tahun 1962.

Atas perintah itu, Henk kemudian membuat sejumlah sketsa mulai dari yang menampilkan pria dan wanita dengan beragam pose. Namun diputuskan untuk menggunakan sketsa muda-mudi yang riang gembira menyambut para peserta yang datang. Bunga yang ada di genggaman patung merupakan simbol persahabatan atas kedatangan para peserta Asian Games.

Hingga kini monumen hasil sketsa Henk Ngantung itu masih berdiri megah di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Setelah menyelesaikan masa tugasnya, Henk kembali menjadi pelukis dan tinggal Cawang, hingga akhir hayatnya. Henk Ngantung meninggal 12 Desember 1990.

(nly/bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK