Sinetron Kiamat Sudah Dekat (2005) (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seluas Samudra, Si Doel Anak Sekolahan, dan Olga Sepatu Roda adalah sederet sinema elektronik alias sinetron yang muncul pada dekade 1990-an. Tepatnya, setelah kelahiran Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sebagai saluran televisi swasta pertama di Indonesia.
Kemunculan RCTI kala itu memberikan warna baru bagi lanskap sinetron Indonesia. Setidaknya, hipotesis tersebut bisa dilihat dari jumlah sinetron yang semakin banyak dengan cerita serta genre yang semakin beragam pula.
Misalnya Seluas Samudra, sinetron bergenre drama keluarga ini mengisahkan orang kaya yang mendadak miskin karena ayahnya meninggal. Sementara, Olga Sepatu Roda yang bergenre komedi mengisahkan perempuan bernama Olga yang menggemari sepatu roda.
Situasi sinetron tersebut berbeda dengan sebelumnya ketika belum ada saluran televisi swasta dan sinetron hanya diproduksi dan ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI). Sinetron cenderung bergenre drama keluarga yang mengisahkan kehidupan sehari-hari, seperti Losmen.
Losmen sendiri banyak disebut sebagai sinetron pertama di Indonesia. Sinetron yang tergolong genre drama keluarga ini digarap dengan sangat matang oleh para dedengkot teater, yaitu Tatiek Maliyati bersama suaminya, Wahyu Sihombing.
Keragaman sinetron tidak berhenti pada genre komedi saja. Di tengah berbagai judul sinetron drama keluarga muncul satu sinetron bertajuk Abu Nawas pada 1992 yang disebut sebagai sinetron bergenre religi pertama di Indonesia.
Sinetron yang terinspirasi dari pujangga asal Timur Tengah itu dibuat oleh sineas Deddy Mizwar. Alasannya sederhana, menurutnya pada dekade 1990-an konten televisi tidak mencerminkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.
Deddy Mizwar merupakan salah satu sineas yang rajin memproduksi sinetron religi di Tanah Air. (Foto: CNN Indonesia/ Andika Putra)
"Saya tawarkan ke stasiun televisi tentang Abu Nawas. Bagaimana dia, bukan pintar, tetapi selalu dalam pertolongan-pertolongan Allah. Dia selamat karena pertolongan Allah," kata Deddy saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Ia melanjutkan, "Waktu itu saya bilang saya sebagai produser enggak perlu dibayar, TV enggak ada yang yakin bahwa tayangan bernuansa Islam akan ditonton banyak orang. Mereka juga enggak tahu bagaimana format menyampaikan tentang Islam, biasanya kan ceramah."
Abu Nawas laku di pasaran. Alhasil stasiun televisi swasta mulai yakin menayangkan sinetron religi meski porsinya masih sedikit, pun Deddy kembali membuat sinetron religi bertajuk Hikayat Pengembara dan Mat Angin.
Akademisi Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Satrio Pamungkas tidak merasa heran dengan fenomena itu. Sudah menjadi kepastian bahwa stasiun televisi akan menayangkan konten yang menguntungkan bagi mereka.
"Apalagi stasiun televisi percaya dengan rating, konten yang laku cenderung memiliki rating tinggi. Ini bukan hanya dalam konteks sinetron religi saja, acara musik di pagi hari juga dulu laku dan banyak stasiun televisi tayangkan itu, jadi seragam," kata Satrio.
Walau pasar sudah mulai terbentuk dari awal dekade 1990-an, penayangan sinetron religi di berbagai stasiun televisi baru ramai pada dekade 2000an. Butuh waktu lima sampai 10 tahun bagi stasiun televisi untuk yakin menayangkan sinetron religi.
Menurut Satrio, televisi cenderung 'main aman' sehingga menunggu waktu bertahun-tahun untuk melihat konsistensi pasar sinetron religi. Ketika konsistensi sudah terlihat, barulah stasiun televisi berbondong-bondong menayangkan sinetron religi.
"Kalau pasar sudah terbentuk seharusnya dalam waktu dua tahun stasiun televisi berani menayangkan sinetron religi. Tapi mereka malah takut, padahal saat itu stasiun televisi masih dikit dan belum banyak saingan, seharusnya mereka berani," kata Satrio.
Sinetron religi mencapai masa keemasan pada dekade 2000an, stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan konten genre tersebut, khususnya di momen bulan suci Ramadan.
Beberapa yang berhasil menyita perhatian penonton adalah Doaku Harapanku (1998-2000), Lorong Waktu (1999-2006), Hikmah (2004-2006) dan Para Pencari Tuhan alias PPT (2007-sekarang).
Dari sekian banyak sineas yang membuat sinetron religi, Deddy Mizwar merupakan salah satu sineas yang paling banyak dan konsisten membuat sinetron religi. Setidaknya ia sudah membuat tujuh sinetron religi dari tahun 1992 sampai sekarang.
Sinetron Para Pencari Tuhan bertahan hingga saat ini, di musim ke-14 (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
Bagi mantan wakil gubernur Jawa Barat tersebut, membuat konten yang sesuai keinginan pasar demi uang dan rating tidak begitu penting, yang penting adalah bagaimana bisa menciptakan pasar yang baik.
"Saya kira motivasinya begini, saya dikasih pengetahuan tentang pembuatan film. Lalu manfaatnya apa untuk agama saya? Saya bisa bikin film macem-macem, film bokep pun saya bisa, tapi apa manfaatnya buat saya dan agama saya apa?," kata Deddy.
Sayangnya, menciptakan pasar yang baik tidak mudah lantaran banyak sinetron religi lain yang tidak dikerjakan dengan baik dari berbagai aspek. Ia mencontohkan dengan sinetron yang digarap dengan gaya produksi striping yang hanya berorientasi pada uang dan rating.
"Mau rating setinggi apa juga sinetron striping pasti enggak bagus. Kalau bagus, pasti Amerika sudah duluan. Saya enggak mau ikuti itu, karena itu pemaksaan opini pada masyarakat yang kadang-kadang bisa berdampak negatif," katanya.
Di sisi lain, tren cerita sinetron religi mengalami pergeseran pada medio dekade 2000an. Dari dakwah berbalut komedi menjadi dakwah berbalut misteri dengan menyajikan azab mengerikan. Bahkan sinetron religi misteri masih ada beberapa sampai sekarang.
Pergeseran tersebut, kata Satrio, bersamaan dengan perubahan pola pikir manusia yang memang terjadi pada medio dekade 2000-an. Kala itu terjadi wacana berpikir manusia yang kontemporer yang menurutnya berperan dalam pergeseran tren cerita sinetron religi.
Bak angin lalu, sinetron religi dengan gaya bercerita misteri tidak berlangsung lama meski masih ada beberapa sampai sekarang. Satrio menilai hal itu terjadi lantaran konten tersebut tidak digarap dengan konsisten.
"Sebuah tren yang digarap secara konsisten tidak akan mudah hilang dan dilupakan. Ini berlaku untuk konten apa pun terlepas dari kualitas yang bagus atau tidak, termasuk sinetron religi dengan cerita misteri," kata Satrio.
Semakin ke sini sinetron religi yang semakin tak memiliki pasar tak membuat Deddy patah semangat. Buktinya, sampai tahun ini ia masih memproduksi PPT yang memasuki musim ke-14.
Menurutnya, sinetron religi akan tetap relevan selama masih ada keluarga Islam yang membutuhkan hiburan di Indonesia.
"Umat Islam membutuhkan tontonan buat keluarga, tetapi mesti disertai dengan pengetahuan tentang agama yang baik.Harus benar, jangan sembarangan, belakangan kan sembarangan, yang penting ada sorban jadi Islam," tutupnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Seluas Samudra, Si Doel Anak Sekolahan, dan Olga Sepatu Roda adalah sederet sinema elektronik alias sinetron yang muncul pada dekade 1990-an. Tepatnya, setelah kelahiran Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sebagai saluran televisi swasta pertama di Indonesia.
Kemunculan RCTI kala itu memberikan warna baru bagi lanskap sinetron Indonesia. Setidaknya, hipotesis tersebut bisa dilihat dari jumlah sinetron yang semakin banyak dengan cerita serta genre yang semakin beragam pula.
Misalnya Seluas Samudra, sinetron bergenre drama keluarga ini mengisahkan orang kaya yang mendadak miskin karena ayahnya meninggal. Sementara, Olga Sepatu Roda yang bergenre komedi mengisahkan perempuan bernama Olga yang menggemari sepatu roda.
Situasi sinetron tersebut berbeda dengan sebelumnya ketika belum ada saluran televisi swasta dan sinetron hanya diproduksi dan ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI). Sinetron cenderung bergenre drama keluarga yang mengisahkan kehidupan sehari-hari, seperti Losmen.
Losmen sendiri banyak disebut sebagai sinetron pertama di Indonesia. Sinetron yang tergolong genre drama keluarga ini digarap dengan sangat matang oleh para dedengkot teater, yaitu Tatiek Maliyati bersama suaminya, Wahyu Sihombing.
Keragaman sinetron tidak berhenti pada genre komedi saja. Di tengah berbagai judul sinetron drama keluarga muncul satu sinetron bertajuk Abu Nawas pada 1992 yang disebut sebagai sinetron bergenre religi pertama di Indonesia.
Sinetron yang terinspirasi dari pujangga asal Timur Tengah itu dibuat oleh sineas Deddy Mizwar. Alasannya sederhana, menurutnya pada dekade 1990-an konten televisi tidak mencerminkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.
Deddy Mizwar merupakan salah satu sineas yang rajin memproduksi sinetron religi di Tanah Air. (Foto: CNN Indonesia/ Andika Putra)
"Saya tawarkan ke stasiun televisi tentang Abu Nawas. Bagaimana dia, bukan pintar, tetapi selalu dalam pertolongan-pertolongan Allah. Dia selamat karena pertolongan Allah," kata Deddy saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Ia melanjutkan, "Waktu itu saya bilang saya sebagai produser enggak perlu dibayar, TV enggak ada yang yakin bahwa tayangan bernuansa Islam akan ditonton banyak orang. Mereka juga enggak tahu bagaimana format menyampaikan tentang Islam, biasanya kan ceramah."
Abu Nawas laku di pasaran. Alhasil stasiun televisi swasta mulai yakin menayangkan sinetron religi meski porsinya masih sedikit, pun Deddy kembali membuat sinetron religi bertajuk Hikayat Pengembara dan Mat Angin.
Akademisi Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Satrio Pamungkas tidak merasa heran dengan fenomena itu. Sudah menjadi kepastian bahwa stasiun televisi akan menayangkan konten yang menguntungkan bagi mereka.
"Apalagi stasiun televisi percaya dengan rating, konten yang laku cenderung memiliki rating tinggi. Ini bukan hanya dalam konteks sinetron religi saja, acara musik di pagi hari juga dulu laku dan banyak stasiun televisi tayangkan itu, jadi seragam," kata Satrio.
Walau pasar sudah mulai terbentuk dari awal dekade 1990-an, penayangan sinetron religi di berbagai stasiun televisi baru ramai pada dekade 2000an. Butuh waktu lima sampai 10 tahun bagi stasiun televisi untuk yakin menayangkan sinetron religi.
Menurut Satrio, televisi cenderung 'main aman' sehingga menunggu waktu bertahun-tahun untuk melihat konsistensi pasar sinetron religi. Ketika konsistensi sudah terlihat, barulah stasiun televisi berbondong-bondong menayangkan sinetron religi.
"Kalau pasar sudah terbentuk seharusnya dalam waktu dua tahun stasiun televisi berani menayangkan sinetron religi. Tapi mereka malah takut, padahal saat itu stasiun televisi masih dikit dan belum banyak saingan, seharusnya mereka berani," kata Satrio.
Periode 2000-an Sebagai Masa Keemasan Sinetron Religi
Lorong Waktu jadi salah satu awal kejayaan sinetron religi di Indonesia (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
Sinetron religi mencapai masa keemasan pada dekade 2000an, stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan konten genre tersebut, khususnya di momen bulan suci Ramadan.
Beberapa yang berhasil menyita perhatian penonton adalah Doaku Harapanku (1998-2000), Lorong Waktu (1999-2006), Hikmah (2004-2006) dan Para Pencari Tuhan alias PPT (2007-sekarang).
Dari sekian banyak sineas yang membuat sinetron religi, Deddy Mizwar merupakan salah satu sineas yang paling banyak dan konsisten membuat sinetron religi. Setidaknya ia sudah membuat tujuh sinetron religi dari tahun 1992 sampai sekarang.
Sinetron Para Pencari Tuhan bertahan hingga saat ini, di musim ke-14 (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
Bagi mantan wakil gubernur Jawa Barat tersebut, membuat konten yang sesuai keinginan pasar demi uang dan rating tidak begitu penting, yang penting adalah bagaimana bisa menciptakan pasar yang baik.
"Saya kira motivasinya begini, saya dikasih pengetahuan tentang pembuatan film. Lalu manfaatnya apa untuk agama saya? Saya bisa bikin film macem-macem, film bokep pun saya bisa, tapi apa manfaatnya buat saya dan agama saya apa?," kata Deddy.
Sayangnya, menciptakan pasar yang baik tidak mudah lantaran banyak sinetron religi lain yang tidak dikerjakan dengan baik dari berbagai aspek. Ia mencontohkan dengan sinetron yang digarap dengan gaya produksi striping yang hanya berorientasi pada uang dan rating.
"Mau rating setinggi apa juga sinetron striping pasti enggak bagus. Kalau bagus, pasti Amerika sudah duluan. Saya enggak mau ikuti itu, karena itu pemaksaan opini pada masyarakat yang kadang-kadang bisa berdampak negatif," katanya.
Di sisi lain, tren cerita sinetron religi mengalami pergeseran pada medio dekade 2000an. Dari dakwah berbalut komedi menjadi dakwah berbalut misteri dengan menyajikan azab mengerikan. Bahkan sinetron religi misteri masih ada beberapa sampai sekarang.
Pergeseran tersebut, kata Satrio, bersamaan dengan perubahan pola pikir manusia yang memang terjadi pada medio dekade 2000-an. Kala itu terjadi wacana berpikir manusia yang kontemporer yang menurutnya berperan dalam pergeseran tren cerita sinetron religi.
Bak angin lalu, sinetron religi dengan gaya bercerita misteri tidak berlangsung lama meski masih ada beberapa sampai sekarang. Satrio menilai hal itu terjadi lantaran konten tersebut tidak digarap dengan konsisten.
"Sebuah tren yang digarap secara konsisten tidak akan mudah hilang dan dilupakan. Ini berlaku untuk konten apa pun terlepas dari kualitas yang bagus atau tidak, termasuk sinetron religi dengan cerita misteri," kata Satrio.
Semakin ke sini sinetron religi yang semakin tak memiliki pasar tak membuat Deddy patah semangat. Buktinya, sampai tahun ini ia masih memproduksi PPT yang memasuki musim ke-14.
Menurutnya, sinetron religi akan tetap relevan selama masih ada keluarga Islam yang membutuhkan hiburan di Indonesia.
"Umat Islam membutuhkan tontonan buat keluarga, tetapi mesti disertai dengan pengetahuan tentang agama yang baik.Harus benar, jangan sembarangan, belakangan kan sembarangan, yang penting ada sorban jadi Islam," tutupnya.