Seksualitas dan Kalimat Vulgar dalam Naskah Serat Centhini

nly, CNN Indonesia | Minggu, 06/06/2021 07:42 WIB
Hampir semua penerjemah dan pengulas Serat Centhini sepakat bahwa memang terdapat deskripsi seksual dan kata-kata vulgar dalam naskah Serat Centhini. Cover buku Serat Centhini 2 karya Agus Wahyudi. Foto: CNN Indonesia/Fajar Fadhillah

Di naskah lain membahas tentang teknik bersenggama untuk mencapai kepuasan badan dan raga seperti yang terdapat di tembang 72.

"Sesungguhnya lah, anakku, rahasia rasa perpindah-pindah di tubuh ronggeng selaras kisaran hari di penanggalan bulan. Jika kamu mau sanggama di hari pertama bulan, mulailah dengan mengecup dahi pasanganmu."

"Di hari kedua, cium pusarnya. Di hari ketiga, pijit betisnya. Di hari keempat, lengannya. Di hari kelima, kulum susunya, dan begitu seterusnya."


Penggalan ini menjadi bukti bahwa gambaran tentang hubungan seks yang terkandung dalam naskah Serat Centhini sangat detail. Hal-hal berbau seks seperti teknik bersenggama dibawakan lewat bahasa yang vulgar.

"Kaitannya dengan seksualitas, Serat Centhini menuliskan mulai dari adabnya berhubungan badan, kendalanya bersenggama, bahkan menyinggung juga soal orgy dan homoseksualitas," ujar Dewi Sundari.

Bukan Kamasutra Jawa

Kendati demikian, Elizabeth Inandiak menolak jika Serat Centhini dianggap sebagai kitab Kamasutra orang Jawa. Ia menilai penggambaran teknik bercinta atau bersenggama dalam Serat Centhini tidak banyak karena lebih fokus pada cara membangun hubungan batin.

"Jadi pertama ini orang-orang sudah salah persepsi, Kamasutra adalah sesuatu yang vulgar. Serat Centhini ya memang ada seperti Kamasutra tapi sedikit misalnya bagian malam 40 Amongraga dan istrinya itu bisa dikatakan Kamasutra, tapi di situ tidak banyak bicara soal teknik," ujar Elizabeth.

"Mereka berbicara soal ajaran dan syair supaya mereka jadi terbiasa. Supaya setelah 40 malam batin mereka saling kenal sehingga tubuh mereka hanya aksesoris. Berbeda kalau orang langsung bersenggama itu tubuh yang diutamakan, bukan batinnya sehingga mereka membalikkan konsep itu," lanjutnya.

Elizabeth memandang bahwa hubungan badan atau seks dalam Serat Centhini lebih pada konsep menyatukan badan, hati, dan pikiran dua orang.

Ajaran Sufi dalam Serat Centhini

Dalam pandangan Irfan Arifin, budayawan dan penulis buku Saya, Jawa, Islam, menilai Serat Centhini dekat dengan ajaran Tasawuf atau yang juga dikenal dengan sufisme.

Ilmu tersebut mengajarkan manusia untuk menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir dan batin untuk memperoleh kebahagiaan abadi.

Ilmu tersebut juga terdapat dalam Serat Centhini seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Amongraga dan Tembangraras. Dikisahkan Amongraga dan istrinya, Tembangraras, melewatkan empat puluh malam dalam kamar pengantin tanpa bersetubuh.

Tembangraras meminta Amongraga mengajarkan tentang ilmu makrifat atau  ilmu yang paling tinggi nilainya di sepanjang empat puluh malam sejak mereka menikah.

Ajaran-ajaran Tasawuf hadir mengisi malam demi malam setiap perjumpaan Amongraga dan Tembangraras. Lalu pada malam ke-39, mereka Amongraga dan Tembangraras menjadi semakin dekat hingga batas diantara mereka telah hilang.

"Di kamar pengantin, angin diam
mengembus kandil. Ini malam ketiga puluh
sembilan. Di ranjang bidadari, Amongraga
dan Tambangraras tidak lagi melihat
ketelanjangan masing-masing maupun jarak
pemisah mereka. Tidak ada lagi haluan
maupun buritan, raib pula garis batas air."

Irfan mengatakan hal itu mirip dengan kisah Seribu Satu Malam di mana Scheherazade mengisahkan pada suaminya, Raja Shariar, sebuah cerita per malam. Cerita ini populer di kalangan penyair di Timur Tengah.

"Memang dalam masyarakat Jawa juga di aliran Sufisme, menyatunya batin dan dhohir (lahir) seseorang saat bersenggama itu kan seperti kita sedang menyatukan rasa tubuh jiwa pikiran. Makanya kalau mau menyatukan kehendak dengan semesta atau ketemu sama Tuhan ya dengan menyatukan jiwa dan raga. Itu ilmu di tasawuf dan di Jawa juga sama itu disebut dengan penyatuan rasa," ujar Irfan.

Hal ini juga diamini oleh Dewi Sundari yang memandang bahwa hubungan seks tidak hanya melibatkan hasrat atau nafsu semata.

"Seks bukan sekadar soal hasrat, tetapi berkaitan juga dengan penciptaan manusia di dunia. Agar terlahir sebagai manusia yang bertata krama, maka persetubuhan perlu dilakukan sesuai adabnya juga," ujar Dewi Sundari kepada CNNIndonesia.com.

Sementara itu menurut Elizabeth Indandiak, seks dalam Serat Centhini seperti yang dilakukan oleh Amongraga dan Tembangraras adalah seks yang penuh keindahan.

"Mereka bisa merasakan kehadiran Ilahi dalam senggama mereka. Ini sangat spiritual, walau sesudah itu Amongraga meninggalkan istrinya untuk mencari adik-adiknya, jadi ada keindahan ada kesedihan jadi luar biasa, saya tidak tahu di karya mana ada hubungan senggama seindah itu," ujarnya.

Mengutip dari Langgar.co, Amongraga merupakan putra dari Sunan Giri III dari Kerajaan Giri Kedaton. Ia memiliki dua adik yang bernama Jayengrana dan Niken Rangcangkapti.

Amongraga dan dua adiknya berpisah setelah kediaman mereka diserang oleh pasukan Kerajaan Mataram di bawah komando Sultan Agung pada 1636.

(nly/fjr/bac)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK