Rabiah Al-Adawiyah dan Syair Cinta Murni pada Sang Khalik

tim, CNN Indonesia | Kamis, 22/04/2021 15:29 WIB
Salah satu penyair Islam ternama dalam sejarah adalah Rabiah Al-Adawiyah. Syair kecintaannya pada Allah membuat ia dijuluki ibu dari para Sufi. Foto: CNNIndonesia/Fajrian
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam sekejap mata, kedua orang tua Rabiah meninggal dunia kala dirinya masih amat belia. Kepada Rabiah, mereka menyisakan harta berupa perahu.

Rabiah bertahan hidup dengan menyeberangkan orang dari tepi sungai Dajlah ke tepian sungai lain. Di kesendirian tersebut, cintanya pada Allah tak lagi terbagi.

Masa kecil penuh duka tersebut, yang kemudian jadi pijakan Rabiah Al-Adawiyah kini dikenang sebagai pemikir dan penyair Islam wanita yang masyhur. Ia dikenal sebagai 'ibu dari para Sufi'.


Sejumlah catatan menyebut bahwa Rabiah lahir sekitar 713-717 Hijirah, atau 95-99 Masehi di kota Basrah, Irak. Sepeninggal kedua orang tua, Rabiah dan ketiga adiknya harus berkelana bertahan hidup.

Suatu ketika Rabiah terpisah dari ketiga adiknya, dan sempat menelan lara hidup sebagai hamba sahaya. Kesendirian dan kesedihan dimanfaatkan Rabiah untuk senantiasa bermunajat pada Allah.

Seakan Allah menjawab ketekunannya berdoa dan beribadah, Rabiah dibebaskan. Tinggal seorang diri, ia kemudian mengembangkan sebuah majelis yang kemudian dikunjungi banyak murid.

Sebuah nilai fundamental lahir dari majelis tersebut, yaitu cinta murni kepada Allah, dan mengeyampingkan segala urusan dunia.Nama-nama pemikir Islam lahir dari majelis tersebut, seperti Sufyan At-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Syaqiq Al-Balkhi.

Sejumlah catatan yang dihimpun NU Online menyebut, yang menjadi ciri khas dari Rabiah adalah kebiasaannya bermunajat, menangis bersedih kala beribadah dan meningat Sang Khalik.

Dari sana lah syair-syair cinta lahir. Tak lain, cinta yang ia ucap dan tulis hanyalah Allah semata. Salah satu konsep populer yang lahir dari pemikiran Rabiah adalah mencinta tanpa imbalan.

"Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkanatas cintaku imbalanpengganti." ucap Rabiah seperti diriwayatkan dalam Risalatul Qusyairiyah.

"Ya Illahi! Jika sekiranya aku beribadah kepada Engkau karena takut akan siksa neraka, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu. Dan jika aku beribadah kepada Engkau karena harap akan masuk surga, maka haramkanlah aku daripadanya!"

Bukan berarti seorang Rabiah Al-Adawiyah tak acuh pada akhirat, dan memikirkan dunia. Rabiah justru mengeyampingkan segala kepentingan duniawinya, semata untuk fokus mencintai Allah dalam ibadahnya.

A man visits the archaeological site of Babylon, Iraq, Sunday, March 21, 2021. (AP Photo/Hadi Mizban)Irak menjadi saksi bisu perjalanan munajat cinta seorang Rabiah Al-Adawiyah (Foto: AP/Hadi Mizban)

Rabiah suatu ketika pernah ditanya, kapan seorang hamba bisa dikatakan ridha atas ketentuan Allah. Rabiah menjawab "Ketika musibah membuatnya bahagia, sebagaimana kebahagiannya ketika mendapatkan nikmat"

Ia pun pernah menggambarkan rasa cintanya pada Allah dengan sebuah kalimat manis, "Apakah dengan api aku harus membakar hati ini yang mencintai-Mu?"

Hingga akhir hayatnya, Rabiah tak memutuskan untuk menikah. Diriwayatkan, ia menerima banyak lamaran menikah tapi tak satupun ia terima, meski lamaran tersebut datang dari para pemikir Islam.

Rabiah takut, dengan menikah, cintanya pada Allah akan terbagi. Betapa cintanya pada Allah tak ingin ia sandingkan dengan apapun di dunia.

Ajaran Rabiah tentang tasawuf berpengaruh besar pada perkembangan sufisme di dunia. Ajaran dan syair-syair cintanya disebut mempengaruhi tokoh-tokoh besar seperti Al-Ghazali dan Jalaluddin Rumi.

(fjr/fjr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK