Kritik Film, Antara Demokratisasi dan Kadar Pengetahuan
CNN Indonesia
Selasa, 31 Agu 2021 08:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi review film. Kritik film memang bebas. Namun terdapat batas-batas yang semu untuk sebuah kritik film dikatakan ideal atau baik. (iStockphoto/CharlieAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perkembangan teknologi membuat akses untuk menonton hingga mengulas film saat ini semakin mudah. Layanan streaming bisa menjangkau penonton lebih luas, seiring dengan media sosial jadi wadah leluasa bagi penonton mengemukakan pendapat atas sebuah karya.
Pandangan, pujian, hingga kritik terhadap karya yang penonton saksikan kini bisa disampaikan melalui cuitan singkat atau utas di Twitter, Facebook, atau podcast. Namun kadangkala, penilaian-penilaian terhadap suatu karya tersebut malah dianggap sebagai serangan oleh kreator.
Situasi tersebut berbeda dengan bertahun-tahun yang lalu ketika kritik film hanya bisa dibaca melalui media cetak yang tentunya melewati proses editorial, atau blog yang mulai berkembang pada 2000-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu, tidak bisa dipungkiri, bentuk dan jenis kritik yang disampaikan di masa sekarang begitu beragam. Kritikus film sekaligus penulis skenario, Eric Sasono, mengatakan hal tersebut jadi situasi nyata yang dihadapi sineas saat ini.
Ia berpendapat tidak semua ulasan yang disampaikan lewat cuitan atau media apapun serta merta disebut sebagai kritik film. Menurutnya, kritik adalah argumentasi yang dibangun dan didukung aspek lain, seperti data, ilustrasi, atau contoh.
"Katakanlah saat ini ada demokratisasi dalam bidang kritik film. Tapi itu sebenarnya ulasan film karena bukan kritik yang serius juga. Di mana semua orang bisa mengekspresikan anggapan mereka terhadap film," kata Eric Sasono kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
"Sebagaimana ekspresi itu kan tidak dipersiapkan matang ya, tidak seperti media massa yang memiliki sistem editorial dan pasti dimatangkan dulu mau ngomong apa sih sebelum diterbitkan."
Sementara itu, cendekiawan seni sekaligus Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma menilai kritik terhadap sebuah film dibedakan dari tingkat kritisnya.
Ia meyakini kritik yang diberikan orang dengan pengalaman menonton sedikit film tentunya berbeda dengan yang menyaksikan banyak film.
"Yang membedakan itu sebenarnya kelas penjelasannya. Orang yang nonton sedikit film bilang film A itu ruwet. Pas ditanya kenapa ruwet nanti cuma jawab 'enggak tahu, cuma buang-buang duit'," kata Seno Gumira.
"Yang sudah nonton banyak film pasti bisa menunjukkan faktor-faktornya, karena plotnya begini, karena alur enggak lancar. Jadi yang membedakan itu kelas penjelasannya," ucapnya.
Sikap yang perlu dimiliki kreator saat ini...
Para sineas pun disarankan untuk tak terlalu memikirkan kritik-kritik yang disampaikan terhadap karyanya. Seno Gumira mengatakan kritik bahkan ledekan menjadi suatu risiko yang pasti akan selalu dihadapi pekerja seni.
Tak hanya itu, ia juga menekankan kritik merupakan dunia tersendiri. Di sisi lain, begitu banyak pula sesungguhnya kritik yang benar-benar komplet terhadap sebuah film namun disampaikan dalam bentuk skripsi, thesis, atau disertasi.
"Ya kayak kerja kesenian biasa saja lah. Ya sesuai kemauannya aja film itu dibuat jadi apa. Jadi ya kreator enggak usah peduli," kata Seno Gumira.
"Seorang sutradara tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan itu dan itu pekerja kreatif dengan risiko. Ada orang yang ngeledek. Ya ambil aja risiko itu. Biarkan saja orang ngomong yang penting kan enggak rugi dulu," ucapnya.
Senada, akademisi film dari Institut Kesenian Jakarta Satrio Pamungkas mengatakan sebuah film ketika sudah tayang sudah menjadi hak milik penonton.
"Kita tidak bisa menilai ini kritik yang bagus, ini kritik yang buruk atau jelek. Karena hak itu sudah milik penontonnya. Film itu pada dasarnya kan hadir untuk ditonton. Jadi setiap penonton berhak untuk berbicara, memaknai," kata Satrio.
Senada, Eric Sasono juga berpendapat kritik-kritik pedas terutama yang muncul di media sosial menjadi risiko saat ini. Sineas pun dinilai perlu belajar untuk mengabaikan hal-hal tersebut.
"Tapi ya ini konsekuensinya karena kan di saat yang sama kan mereka juga dipuji yang sama. Sering kali dipuji tanpa dasar juga," kata Eric.
"Poin saya adalah bahwa ini realitas yang harus dihadapi pembuat film sekarang and please deal with it."
Jakarta, CNN Indonesia --
Perkembangan teknologi membuat akses untuk menonton hingga mengulas film saat ini semakin mudah. Layanan streaming bisa menjangkau penonton lebih luas, seiring dengan media sosial jadi wadah leluasa bagi penonton mengemukakan pendapat atas sebuah karya.
Pandangan, pujian, hingga kritik terhadap karya yang penonton saksikan kini bisa disampaikan melalui cuitan singkat atau utas di Twitter, Facebook, atau podcast. Namun kadangkala, penilaian-penilaian terhadap suatu karya tersebut malah dianggap sebagai serangan oleh kreator.
Situasi tersebut berbeda dengan bertahun-tahun yang lalu ketika kritik film hanya bisa dibaca melalui media cetak yang tentunya melewati proses editorial, atau blog yang mulai berkembang pada 2000-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu, tidak bisa dipungkiri, bentuk dan jenis kritik yang disampaikan di masa sekarang begitu beragam. Kritikus film sekaligus penulis skenario, Eric Sasono, mengatakan hal tersebut jadi situasi nyata yang dihadapi sineas saat ini.
Ia berpendapat tidak semua ulasan yang disampaikan lewat cuitan atau media apapun serta merta disebut sebagai kritik film. Menurutnya, kritik adalah argumentasi yang dibangun dan didukung aspek lain, seperti data, ilustrasi, atau contoh.
"Katakanlah saat ini ada demokratisasi dalam bidang kritik film. Tapi itu sebenarnya ulasan film karena bukan kritik yang serius juga. Di mana semua orang bisa mengekspresikan anggapan mereka terhadap film," kata Eric Sasono kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
"Sebagaimana ekspresi itu kan tidak dipersiapkan matang ya, tidak seperti media massa yang memiliki sistem editorial dan pasti dimatangkan dulu mau ngomong apa sih sebelum diterbitkan."
Sementara itu, cendekiawan seni sekaligus Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma menilai kritik terhadap sebuah film dibedakan dari tingkat kritisnya.
Ia meyakini kritik yang diberikan orang dengan pengalaman menonton sedikit film tentunya berbeda dengan yang menyaksikan banyak film.
"Yang membedakan itu sebenarnya kelas penjelasannya. Orang yang nonton sedikit film bilang film A itu ruwet. Pas ditanya kenapa ruwet nanti cuma jawab 'enggak tahu, cuma buang-buang duit'," kata Seno Gumira.
"Yang sudah nonton banyak film pasti bisa menunjukkan faktor-faktornya, karena plotnya begini, karena alur enggak lancar. Jadi yang membedakan itu kelas penjelasannya," ucapnya.
Sikap yang perlu dimiliki kreator saat ini...
'Please Deal with It'
Ilustrasi. Para sineas pun disarankan untuk tak terlalu memikirkan kritik-kritik yang disampaikan terhadap karyanya. (AFP/LOUAI BESHARA)
Para sineas pun disarankan untuk tak terlalu memikirkan kritik-kritik yang disampaikan terhadap karyanya. Seno Gumira mengatakan kritik bahkan ledekan menjadi suatu risiko yang pasti akan selalu dihadapi pekerja seni.
Tak hanya itu, ia juga menekankan kritik merupakan dunia tersendiri. Di sisi lain, begitu banyak pula sesungguhnya kritik yang benar-benar komplet terhadap sebuah film namun disampaikan dalam bentuk skripsi, thesis, atau disertasi.
"Ya kayak kerja kesenian biasa saja lah. Ya sesuai kemauannya aja film itu dibuat jadi apa. Jadi ya kreator enggak usah peduli," kata Seno Gumira.
"Seorang sutradara tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan itu dan itu pekerja kreatif dengan risiko. Ada orang yang ngeledek. Ya ambil aja risiko itu. Biarkan saja orang ngomong yang penting kan enggak rugi dulu," ucapnya.
Senada, akademisi film dari Institut Kesenian Jakarta Satrio Pamungkas mengatakan sebuah film ketika sudah tayang sudah menjadi hak milik penonton.
"Kita tidak bisa menilai ini kritik yang bagus, ini kritik yang buruk atau jelek. Karena hak itu sudah milik penontonnya. Film itu pada dasarnya kan hadir untuk ditonton. Jadi setiap penonton berhak untuk berbicara, memaknai," kata Satrio.
Senada, Eric Sasono juga berpendapat kritik-kritik pedas terutama yang muncul di media sosial menjadi risiko saat ini. Sineas pun dinilai perlu belajar untuk mengabaikan hal-hal tersebut.
"Tapi ya ini konsekuensinya karena kan di saat yang sama kan mereka juga dipuji yang sama. Sering kali dipuji tanpa dasar juga," kata Eric.
"Poin saya adalah bahwa ini realitas yang harus dihadapi pembuat film sekarang and please deal with it."