Review Film: Malignant

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 08/10/2021 19:36 WIB
Review Malignant menilai film ini jelas terlihat sebagai cara James Wan mencoba bereksperimen dengan hal yang sudah ia kuasai. Malignant jelas terlihat sebagai cara James Wan mencoba bereksperimen dengan hal yang sudah ia kuasai. (dok. New Line Cinema/Atomic Monster/Warner Bros Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia --

Malignant jelas terlihat sebagai cara James Wan mencoba bereksperimen dengan hal yang sudah ia kuasai, horor dan slasher. Kedua hal ini terlihat jelas dalam film berdurasi 111 menit tersebut.

Secara sekilas tanpa menonton filmnya, Malignant menawarkan kengerian nostalgia seperti saat pertama kali menyaksikan The Conjuring ataupun Insidious atau Saw. Namun hal itu jelas berbeda saat sudah duduk anteng di dalam bioskop.

Malignant adalah hasil kawin silang antara teror 'iblis' imaji yang biasa menjadi kegemaran penggemar The Conjuring juga Insidious, dengan adegan penuh darah dan kebengisan yang digemari fan Saw.


Hal itu terlihat dari bagaimana James Wan, yang dalam film ini bertindak sebagai ide cerita, produser, dan sutradara, menarasikan teror makhluk dalam Malignant ini sebelum satu per satu fakta tentangnya terkuak.

Cara James Wan pun masih sama. Bayangan gelap, keremangan, backsound yang meningkatkan adrenalin, hingga sosok hitam mengerikan dan bergerak cepat. Penggambaran yang akrab bagi penggemar The Conjuring.

Namun yang terjadi berikutnya bukanlah hantu Batsheba atau Valak yang memiliki kemampuan magis dan menakuti manusia, melainkan serangkaian aksi sadis dalam mengakhiri nyawa seseorang.

Aksi sadis itu semula tak terekam oleh kamera. Hingga seiring cerita berjalan, James Wan menunjukkan kegemarannya akan darah dan teror manusia yang siap membunuh.

Secara cerita, James Wan menggunakan gaya penuturan investigatif seperti pada film yang ia produseri sebelum Malignant, The Conjuring 3. Cara ini semakin membuat ketegangan dalam Malignant semakin terasa begitu panjang.

Selain itu, bukan James Wan bila tak memiliki kejutan. Ia menyiapkan sebuah plot yang merupakan kepingan puzzle cerita dan menyambungkan logika narasi yang sejak awal memang cukup membuat bertanya-tanya.

Film Malignant (2021)Review film menilai Malignant jelas terlihat sebagai cara James Wan mencoba bereksperimen dengan hal yang sudah ia kuasai.: (dok. New Line Cinema/Atomic Monster/Warner Bros Pictures)

Sayangnya, puzzle tersebut adalah bom dari film ini. Cerita yang disimpan terasa terlalu dipaksakan. Atau, memang sejak awal ide cerita James Wan ini terlalu mengada-ada.

James Wan, Ingrid Bisu, dan Akela Cooper sebagai pencetus ide, terasa memasukkan imajinasi yang kelewat tinggi dalam bungkusan cerita medis agar terlihat rasional.

Hal itu yang jujur membuat saya merasa antiklimaks. Padahal hal itu berada di puncak cerita Malignant setelah melewati berbagai roller coaster adrenalin dan ketidaknyamanan di perut melihat darah berceceran.

Terlepas dari cerita yang membuat saya tidak terkesan, James Wan juga mengembangkan gaya baru dalam penyutradaraan dalam film ini. Hal itu terlihat dari teknik pengambilan gambar.

Dengan teknik tersebut, Malignant memang terlihat seperti film yang segar. Meski secara esensi, film ini sejatinya hanyalah produk baru hasil mencampurkan dan mendaur-ulang ide-ide yang sudah pernah dibuat sebelumnya.

Sehingga, sulit bagi saya menilai apakah Malignant akan memiliki dampak yang sama seperti The Conjuring atau Saw atau pun Insidious, mengingat kesan yang dihasilkan dari film ini tidak cukup membekas untuk diingat.

(end)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK