Cerita Hantu, Bagian Budaya Tradisi Lisan Rakyat Indonesia
CNN Indonesia
Minggu, 24 Okt 2021 16:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi hantu. Keberagaman cerita hantu yang ada di Indonesia ini sejatinya berasal dari budaya tutur atau tradisi lisan yang menghasilkan berbagai cerita rakyat. (iStockphoto/AnkiHoglund)
Ia bahkan menyebut sembilan puluh persen cerita tersebut nyata. Sementara sisanya adalah tambahan bumbu-bumbu imajinasi dari si penutur.
Dengan demikian, tidak semua cerita rakyat, dalam hal ini cerita setan dan mitologi, termasuk dalam kategori rekaan atau fiktif semata. Semua itu tergantung pada jenis ceritanya.
"Ada [cerita] yang unsur imajinasinya sangat banyak, ada juga yang sedikit tapi banyak riil-nya, jadi beda-beda, tergantung dari jenis ceritanya," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerita mitologi dan cerita hantu di Indonesia pun ada banyak karena setiap wilayah memiliki ciri-ciri tersendiri yang terpengaruh dari budayanya.
Ghostlore
Sementara itu, cerita hantu yang menjadi bagian dalam budaya folklor juga mulai diklasifikasikan dalam ilmu khusus yang disebut ghostlore.
Hal itu dibahas dalam penelitian Anas Ahmadi dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya yang bertajuk Legenda Hantu Kampus di Surabaya: Kajian Folklor Hantu (Ghostlore) Kontemporer dan diterbitkan dalam buku Folklore Nusantara: Hakikat, Bentuk, dan Fungsi (2013) yang disunting oleh Dr Suwardi Endraswara, M.Hum.
Dalam ghostlore, cerita hantu bukan hanya terkait dengan bentuk hantu yang sudah dikenal masyarakat, namun juga dalam konteks legenda perkotaan alias urban legends yang melekat pada bangunan atau tempat yang dikenal penduduk setempat.
Ghostlore pun memiliki beragam genre, mulai dari hantu yang muncul dalam kamera atau cahaya (ghost light), tarian hantu (ghost dance), penyakit akibat hantu (ghost sickness), pelihat hantu (ghost seers), investigasi hantu (ghost investigation), pemburu hantu (ghost hunters), kota hantu (ghost town), dan karakter hantu (characteristics of ghost).
Cerita-cerita hantu yang pernah didengar masyarakat Indonesia dalam keseharian sebagian teridentifikasi genre-genre tersebut.
Mulai dari cerita hantu berupa kelebatan cahaya, penampakan dalam foto, kerasukan atau 'ketempelan', tokoh-tokoh yang dinilai indigo dan bisa melihat hantu, hingga program yang khusus diadakan untuk menyibak dan mencari hantu.
Dunia cerita hantu yang beragam di Indonesia pun masih belum disingkap ilmu pengetahuan. Anas menyebut, penelitian soal hantu di Indonesia hanya baru beberapa kali dilakukan.
Di antaranya adalah Geertz ([1960]2013) yang meneliti hantu di Mojokuto (Mojokerto), Danandjaja (1997) soal hantu dan kaitannya dengan legenda alam gaib, Endraswara (2004) soal dunia hantu di Jawa, Ahmadi (2006) soal hantu di Pulau Raas-Madura dan dibandingkan dengan hantu Jepang, Lee & Kathleen (2011) soal hantu-hantu Indonesia yang berkaitan dengan hantu Jawa, Hindu-Budha, dan pesugihan.
"Genre folklor hantu (ghostlore) di Indonesia sebenarnya sangat banyak, tetapi masih belum ada penelitian yang optimal tentang folklor hantu di Indonesia." tulis Anas Ahmadi.
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, cerita keberadaan makhluk gaib seperti hantu lumrah didengar. Nyaris di setiap daerah akan memiliki cerita hantunya sendiri, entah mirip atau sama dengan daerah lainnya ataupun berbeda.
Cerita hantu tersebut menyebar dari satu orang ke orang lain, dari generasi satu ke generasi di bawahnya, baik dari mulut ke mulut maupun bertransformasi dalam sejumlah media seperti film dan laporan di internet.
Beberapa cerita yang terkenal di tengah-tengah masyarakat adalah Si Manis Jembatan Ancol, atau cerita keberadaan Kuntilanak yang konon melekat dalam sejarah pendirian Kota Pontianak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lagi beragam kisah lainnya seperti pocong, genderuwo, kuyang, hingga cerita soal sosok-sosok antara legenda dan mitos, seperti Nyi Blorong hingga Nyai Roro Kidul yang terkenal.
Keberagaman cerita hantu yang ada di Indonesia ini sejatinya berasal dari budaya tutur atau tradisi lisan yang menghasilkan berbagai cerita rakyat. Cerita rakyat ini sendiri kemudian terbagi atau terklasifikasi menjadi beberapa jenis.
Menurut Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada, Heddy Shri Ahimsa-Putra, cerita rakyat terbagi menjadi tiga jenis: fabel yang berkaitan dengan hewan; legenda yaitu cerita rakyat tentang tokoh atau peristiwa atau pun tempat tertentu; dan cerita soal makhluk dan peristiwa gaib yang disebut sebagai mite atau mitos.
Keberagaman mitos berupa cerita hantu di Indonesia tidak bisa dipastikan muncul sejak kapan. Heddy menyebut bahwa cerita mitologi ini termasuk cerita rakyat yang diwariskan secara lisan, dan sudah begitu lama berada di tengah masyarakat Indonesia.
"[cerita rakyat] ini muncul biasanya dari masyarakat yang tidak mengenal tulisan, masyarakat yang mengenal tulisan itu sedikit. Jadi ini seperti pembicaraan sehari-hari, kapan awal munculnya kita enggak tahu, nah lalu itu hidup di kalangan mereka," ujar Heddy.
Dalam cerita mitologi, ada kecenderungan muncul cerita-cerita tentang makhluk halus yang kemudian dianggap sebagai cerita hantu. Seperti cerita hantu Si Manis Jembatan Ancol yang masih eksis dalam tradisi tutur di Indonesia.
Cerita tentang sosok tersebut semakin eksis dalam kehidupan masyarakat modern ketika diangkat dalam media lainnya, seperti gambar bergerak.
Sinetron Si Manis Jembatan Ancol pernah hit di dekade '90-an. (Courtesy of Soraya Intercine Films)
Misalnya kisah Si Manis yang diyakini berasal dari cerita rakyat Ariah Si Manis Ancol. Cerita tersebut diangkat jadi judul sinetron Si Manis Jembatan Ancol yang pernah hit di dekade '90-an.
Sinetron horor berbumbu cinta itu menceritakan tentang sosok Maryam yang meninggal dibunuh di atas jembatan di kawasan Ancol.
Tak sampai di situ, sosok hantu perempuan tersebut juga diangkat dalam sebuah film dengan judul sama yang dirilis pada 2019. Film yang disutradarai oleh Anggy Umbara ini dibintangi Indah Permatasari, Arifin Putra, Randy Pangalila, dan Ozy Syahputra.
Heddy menilai cerita mengenai hantu Maryam yang menjadi penunggu jembatan di Ancol itu termasuk dalam kategori cerita legenda. Karena hampir sebagian besar cerita itu nyata dan hasil pengalaman orang.
lanjut ke sebelah..
Ghostlore
Ilustrasi. cerita hantu yang menjadi bagian dalam budaya folklor juga mulai diklasifikasikan dalam ilmu khusus yang disebut ghostlore. (iStockphoto/Emilija Randjelovic)
Ia bahkan menyebut sembilan puluh persen cerita tersebut nyata. Sementara sisanya adalah tambahan bumbu-bumbu imajinasi dari si penutur.
Dengan demikian, tidak semua cerita rakyat, dalam hal ini cerita setan dan mitologi, termasuk dalam kategori rekaan atau fiktif semata. Semua itu tergantung pada jenis ceritanya.
"Ada [cerita] yang unsur imajinasinya sangat banyak, ada juga yang sedikit tapi banyak riil-nya, jadi beda-beda, tergantung dari jenis ceritanya," lanjutnya.
Cerita mitologi dan cerita hantu di Indonesia pun ada banyak karena setiap wilayah memiliki ciri-ciri tersendiri yang terpengaruh dari budayanya.
Ghostlore
Sementara itu, cerita hantu yang menjadi bagian dalam budaya folklor juga mulai diklasifikasikan dalam ilmu khusus yang disebut ghostlore.
Hal itu dibahas dalam penelitian Anas Ahmadi dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya yang bertajuk Legenda Hantu Kampus di Surabaya: Kajian Folklor Hantu (Ghostlore) Kontemporer dan diterbitkan dalam buku Folklore Nusantara: Hakikat, Bentuk, dan Fungsi (2013) yang disunting oleh Dr Suwardi Endraswara, M.Hum.
Dalam ghostlore, cerita hantu bukan hanya terkait dengan bentuk hantu yang sudah dikenal masyarakat, namun juga dalam konteks legenda perkotaan alias urban legends yang melekat pada bangunan atau tempat yang dikenal penduduk setempat.
Ghostlore pun memiliki beragam genre, mulai dari hantu yang muncul dalam kamera atau cahaya (ghost light), tarian hantu (ghost dance), penyakit akibat hantu (ghost sickness), pelihat hantu (ghost seers), investigasi hantu (ghost investigation), pemburu hantu (ghost hunters), kota hantu (ghost town), dan karakter hantu (characteristics of ghost).
Cerita-cerita hantu yang pernah didengar masyarakat Indonesia dalam keseharian sebagian teridentifikasi genre-genre tersebut.
Mulai dari cerita hantu berupa kelebatan cahaya, penampakan dalam foto, kerasukan atau 'ketempelan', tokoh-tokoh yang dinilai indigo dan bisa melihat hantu, hingga program yang khusus diadakan untuk menyibak dan mencari hantu.
Dunia cerita hantu yang beragam di Indonesia pun masih belum disingkap ilmu pengetahuan. Anas menyebut, penelitian soal hantu di Indonesia hanya baru beberapa kali dilakukan.
Di antaranya adalah Geertz ([1960]2013) yang meneliti hantu di Mojokuto (Mojokerto), Danandjaja (1997) soal hantu dan kaitannya dengan legenda alam gaib, Endraswara (2004) soal dunia hantu di Jawa, Ahmadi (2006) soal hantu di Pulau Raas-Madura dan dibandingkan dengan hantu Jepang, Lee & Kathleen (2011) soal hantu-hantu Indonesia yang berkaitan dengan hantu Jawa, Hindu-Budha, dan pesugihan.
"Genre folklor hantu (ghostlore) di Indonesia sebenarnya sangat banyak, tetapi masih belum ada penelitian yang optimal tentang folklor hantu di Indonesia." tulis Anas Ahmadi.