5 Film Karya Usmar Ismail, Lewat Djam Malam dan Tiga Dara
CNN Indonesia
Rabu, 10 Nov 2021 13:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Beberapa film menjadi karya Usmar Ismail yang resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada Rabu (10/11), seperti Lewat Djam Malam dan Tiga Dara. (Foto: Perfini via Imdb)
3. Enam Jam di Yogya (1951)
Film ini terinspirasi dari peristiwa Serangan Umum yang terjadi pada 1 Maret 1949. Kala itu, pasukan TNI berhasil memukul mundur tentara Belanda dari Yogyakarta dalam enam jam.
Pada masa itu, Tentara Republik Indonesia melakukan perang gerilya yang dipimpin Jenderal Sudirman. Operasi ini terdiri dari berbagai elemen seperti TNI, laskar, dan rakyat bersenjata yang berusaha melakukan serangan balik ke penjajah.
Film ini melukiskan peristiwa tersebut berbekal dokumen-dokumen yang ada masih belum lengkap. Tak hanya soal petinggi militer, Usmar Ismail juga menyuguhkan perjuangan rakyat atau tentara yang berpangkat rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa dalam film ini dibuat ulang lagi dalam film Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar (1981).
Film ini mengisahkan Iskandar (AN Alcaff), mantan pejuang yang kembali ke masyarakat, dan coba menyesuaikan diri dengan keadaan yang sudah asing baginya. Ia hidup dengan bayang-bayang kelam akibat membunuh seorang perempuan dan keluarganya atas perintah komandannya di masa perang.
Iskandar selalu gagal dalam membina hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Mulai dari kekasihnya Norma (Netty Herawati) hingga rekan kerjanya, Gafar (Awaludin), yang sudah jadi pemborong.
Film Lewat Djam Malams disebut sebagai salah satu karya terbaik Usmar Ismail karena berisi kritik sosial yang cukup tajam mengenai para bekas pejuang kemerdekaan pasca perang.
Atas restu keluarga Usmar Ismail, Lewat Djam Malam direstorasi di L'Immagine Ritrovata dari kopi asli yang disimpan dan dikoleksi Sinematek Indonesia.
Setelah direstorasi, film ini ditayangkan di Seksi Cannes Clasic, Festival Film Cannes, dan diedarkan kembali secara terbatas di beberapa bioskop Indonesia.
Tiga Dara mengisahkan tiga perempuan bersaudara kandung, Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya) dan Nenny (Indriati Iskak). Ketiganya dibesarkan oleh nenek (Fifi Young) di Jakarta setelah ibu meninggal. Sang ayah, Sukandar (Hassan Sanusi), hidup dengan mereka.
Meski begitu, Sukandar terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ia peduli dengan ketiga putrinya, tapi tidak pernah benar-benar punya waktu untuk terlibat dalam kehidupan mereka.
Nunung, selaku anak paling tua, menggantikan peran ibu dalam keluarganya. Ia yang membuatkan teh, memasak, membersihkan rumah. Sedang kedua adiknya, berkebalikan.
Sedangkan Nana sangat glamor, identik dengan busana glamor, mobil mewah, dan pesta dansa. Nenny tak jauh berbeda. Ia masih belia, gemar bercanda, dan punya kewajiban menyelesaikan sekolah.
Pada 2016, sineas Nia Dinata membuat ulang film Tiga Dara dengan judul Ini Kisah Tiga Dara. Film itu dibintangi aktor-aktor masa kini seperti Shanty Paredes, Tara Basro dan Tatyana Akman sebagai tiga bersaudara.
Sementara itu, karakter ayah dan nenek mereka masing-masing diperankan Ray Sahetapy dan Titiek Puspa.
Gelar tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap Usmar Ismail yang dijuluki sebagai Bapak Film Indonesia atas karya-karyanya selama ini. Ia telah membuat lebih dari 30 film sepanjang hidupnya.
Laman Badan Bahasa Kemdikbudristek mencatat Usmar Ismail punya perhatian khusus terhadap film. Sebelum menjadi sutradara, ia sering kali berkumpul di suatu gedung di depan Stasiun Tugu untuk berdiskusi mengenai seluk-beluk film.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa orang terdekatnya yang sering diajak diskusi adalah Anjar Asmara yang juga merupakan sutradara, Sastrawan Armijn Pane, Sutarto, dan pentolan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Kotot Sukardi.
Anjar adalah orang pertama yang menyeret Usmar masuk langsung ke dunia perfilman. Saat itu, Usmar diminta menjadi menjadi asisten sutradara (Astrada) dalam film 'Gadis Desa'. Film itu kemudian dirilis pada 1949.
Setelah debut menjadi Astrada, Usmar akhirnya menyutradarai langsung puluhan film. Berikut lima film Usmar Ismail, Bapak Film Indonesia.
Harta Karun mengisahkan pria bernama Abdulkadir (Rd Ismail) yang kaya tetapi kikir. Ia mendapatkan uang dengan menjadi rentenir, menawarkan jasa pinjaman dengan bunga yang tinggi.
Ia memiliki anak perempuan bernama Suliati (Djuriah Karno) yang berpacaran dengan Ahmad (Rd Sukarno). Namun, Bbdulkadir tak menyetujui hubungan itu karena Ahmad miskin.
Suliati kemudian dijodohkan dengan Abdulrachman (Djauhari Effendi), yang kaya. Sementara itu, Abdulkadir berpacaran dengan Rohana (Herawati), pujaan hati anak lelakinya, Ramelan (A. Hamid Arief).
Harta Karun merupakan film yang disutradarai Usmar Ismail dan rilis pada 1949. Film itu dibintangi Rd Sukarno dan Djuriah Karno. Film Harta Karun diadaptasi dari L'Avare karya sastrawan Prancis Moliere.
Film Darah dan Doa mengisahkan perjalanan panjang (long march) prajurit RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan. Mereka menempuh perjalanan panjang dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Rombongan itu dipimpin Kapten Sudarto (Del Juzar).
Sepanjang perjalanan, rombongan menghadapi serangan udara dari musuh, Belanda. Juga ketakutan dan penderitaan lainnya, seperti pengkhianatan dalam rombongan. Perjalanan berakhir setelah Republik Indonesia kembali mendapatkan kedaulatannya pada 1950.
Film ini disajikan dalam bentuk narasi. Ceritanya mengikuti Kapten Sudarto yang digambarkan bukan sebagai "pahlawan", tapi sebagai manusia. Walau sudah beristri, Kapten Sudarto terlibat cinta dengan dua gadis selama dalam perjalanan Yogyakarta-Jawa barat.
Tak hanya memiliki cerita yang menarik, film ini juga memiliki arti penting dalam sejarah. Pasalnya, Dewan Film Indonesia menetapkan tanggal syuting pertama film ini yakni pada 30 Maret 1950 sebagai Hari Film Nasional.
Lanjut ke sebelah...
5 Film Karya Usmar Ismail, Lewat Djam Malam dan Tiga Dara
Beberapa film menjadi karya Usmar Ismail yang resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada Rabu (10/11), seperti Lewat Djam Malam dan Tiga Dara. (Foto: Dok. Buku Peran Pemuda dalam Kebangkitan Film Indonesia via Wikimedia)
3. Enam Jam di Yogya (1951)
Film ini terinspirasi dari peristiwa Serangan Umum yang terjadi pada 1 Maret 1949. Kala itu, pasukan TNI berhasil memukul mundur tentara Belanda dari Yogyakarta dalam enam jam.
Pada masa itu, Tentara Republik Indonesia melakukan perang gerilya yang dipimpin Jenderal Sudirman. Operasi ini terdiri dari berbagai elemen seperti TNI, laskar, dan rakyat bersenjata yang berusaha melakukan serangan balik ke penjajah.
Film ini melukiskan peristiwa tersebut berbekal dokumen-dokumen yang ada masih belum lengkap. Tak hanya soal petinggi militer, Usmar Ismail juga menyuguhkan perjuangan rakyat atau tentara yang berpangkat rendah.
Peristiwa dalam film ini dibuat ulang lagi dalam film Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar (1981).
Film ini mengisahkan Iskandar (AN Alcaff), mantan pejuang yang kembali ke masyarakat, dan coba menyesuaikan diri dengan keadaan yang sudah asing baginya. Ia hidup dengan bayang-bayang kelam akibat membunuh seorang perempuan dan keluarganya atas perintah komandannya di masa perang.
Iskandar selalu gagal dalam membina hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Mulai dari kekasihnya Norma (Netty Herawati) hingga rekan kerjanya, Gafar (Awaludin), yang sudah jadi pemborong.
Film Lewat Djam Malams disebut sebagai salah satu karya terbaik Usmar Ismail karena berisi kritik sosial yang cukup tajam mengenai para bekas pejuang kemerdekaan pasca perang.
Atas restu keluarga Usmar Ismail, Lewat Djam Malam direstorasi di L'Immagine Ritrovata dari kopi asli yang disimpan dan dikoleksi Sinematek Indonesia.
Setelah direstorasi, film ini ditayangkan di Seksi Cannes Clasic, Festival Film Cannes, dan diedarkan kembali secara terbatas di beberapa bioskop Indonesia.
Tiga Dara mengisahkan tiga perempuan bersaudara kandung, Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya) dan Nenny (Indriati Iskak). Ketiganya dibesarkan oleh nenek (Fifi Young) di Jakarta setelah ibu meninggal. Sang ayah, Sukandar (Hassan Sanusi), hidup dengan mereka.
Meski begitu, Sukandar terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ia peduli dengan ketiga putrinya, tapi tidak pernah benar-benar punya waktu untuk terlibat dalam kehidupan mereka.
Nunung, selaku anak paling tua, menggantikan peran ibu dalam keluarganya. Ia yang membuatkan teh, memasak, membersihkan rumah. Sedang kedua adiknya, berkebalikan.
Sedangkan Nana sangat glamor, identik dengan busana glamor, mobil mewah, dan pesta dansa. Nenny tak jauh berbeda. Ia masih belia, gemar bercanda, dan punya kewajiban menyelesaikan sekolah.
Pada 2016, sineas Nia Dinata membuat ulang film Tiga Dara dengan judul Ini Kisah Tiga Dara. Film itu dibintangi aktor-aktor masa kini seperti Shanty Paredes, Tara Basro dan Tatyana Akman sebagai tiga bersaudara.
Sementara itu, karakter ayah dan nenek mereka masing-masing diperankan Ray Sahetapy dan Titiek Puspa.