Drive My Car merupakan adaptasi dari cerita-cerita pendek Haruki Murakami yang indah. (Foto: C&I Entertainment via Imdb)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tulisan ini mengandung beberan/spoiler.
Film Drive My Car menjadi sorotan setelah mencatat rekor sebagai film Jepang pertama yang dinominasikan untuk Best Picture Piala Oscar 2022.
Karya ini disutradarai oleh Ryusuke Hamaguchi. Ia pun menggandeng Takamasa Oe untuk menggarap penulisan skenario.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusuke Kafuku (Hidetoshi Nishijima) bergantung pada istrinya agar dapat melatih dialog penampilan teaternya. Ia berpura-pura berdialog dengan lawan mainnya dengan memasang rekaman suara istrinya, Oto Kafuku (Reika Kirishima), setiap kali mengendarai Saab 900 Turbo merah kesayangannya.
Ia semacam memiliki ritual "ganjil" dengan istrinya. Setiap kali ia berhubungan seks dengan Oto, sang istri bisa berorgasme dalam bentuk narasi untuk dituangkan menjadi naskah drama televisi.
Oto pun mengandalkan suaminya untuk menceritakan kembali imajinasinya karena ia kerap lupa keesokan harinya. Rutinitas "ganjil" ini terbentuk setelah keduanya kehilangan putri satu-satunya dua dekade lalu.
Yusuke mesti menghapi kematian kembali. Suatu hari Oto meninggal secara mendadak dan Yusuke mengalami duka mendalam yang tidak dapat dia ekspresikan dengan baik.
Bahkan, Yusuke masih menyimpan rapat rahasia bahwa ia menangkap basah istrinya sedang berhubungan badan dengan pria misterius di apartemen mereka.
Ryusuke Hamaguchi selaku penulis dan sutradara ingin menggambarkan bahwa kehilangan seseorang yang sangat dicintai tidak perlu diekspresikan secara berlebihan. Dalam hal ini, karakter Yusuke digambarkan masih melakukan rutinitas yang sama.
Perbedaannya kali ini adalah penonton dibuat merasa bahwa ia masih berduka atas kematian istrinya dengan memutar rekaman kaset di mobilnya.
Kemudian, Yusuke memutuskan untuk melangkah dengan hidupnya dan melakukan perjalanan ke Hiroshima untuk mengambil pekerjaan penyutradaraan teater.
Setelah babak pertama inilah opening title Drive My Car muncul. Butuh 40 menit untuk mencapai titik tersebut, sebuah durasi yang tidak biasa.
Durasi ini yang menyadarkan penonton bahwa ini barulah permulaan dari sebuah perjalanan tentang duka dan penerimaan dari film berdurasi 3 jam itu.
"Tentu saja saya yakin bahwa kebenaran, tidak peduli apapun itu, tidak menakutkan. Yang paling menakutkan adalah tidak mengetahuinya," demikian suara Oto memenuhi mobil.
Perjalanan baru dengan Saab 900 Turbo merah itu pun dimulai.
Hidetoshi Nishijima sebagai Yusuke Kafuku dalam film Drive My Car. Foto: (dok. C&I Entertainment/Culture Entertainment/Bitters End via IMDb)
Oleh perusahaan teater, Yusuke diberi fasilitas supir untuk membawanya ke mana pun ia inginkan selama berada di Hiroshima. Supir itu bernama Misaki Watari (Toko Miura), seorang perempuan berusia 23 tahun dengan watak pendiam dan misterius.
Kendaraan yang telah membawa Yusuke selama 15 tahun ini telah diambil alih oleh orang asing yang bukan dirinya atau istrinya. Gelembung kenyamanan karakternya telah dilanggar.
Dialognya minim, ekspresi Hidetoshi Nishijima pun tidak meledak-ledak. Akan tetapi, akting yang baik dari Nishijima mampu membuat para penonton memahami bahwa ada kecemasan dalam karakter Yusuke.
Review Drive My Car berlanjut...
Saab 900 Turbo berwarna merah ini menjadi saksi bisu dari segala yang terjadi di dalam hidup Yusuke. Semua kepelikan yang dialami tiap karakter terungkap di dalam mobil sedan itu.
Salah satunya ketika Yusuke ngobrol dengan Koji Takatsuki (Masaki Okada) tentang perselingkuhan antara sang aktor muda dengan Oto. Akhirnya Yusuke dapat mengangkat beban rahasia yang ia simpan selama ini dan melemparnya kepada pria selingkuhan istrinya.
Ryusuke Hamaguchi membuat pembicaran antara dua orang dewasa ini bukan sebagai topik yang mesti menjadi sebuah konfrontasi yang berapi-api. Kedua pria itu berbagi perasaan dan cerita terhadap satu wanita yang sama-sama mereka cintai.
Lalu, terkait hubungan Yusuke dengan supir barunya pun lambat laun semakin melembut. Misaki telah menyaksikan dan mendengar segala hal tentang majikannya.
"Dia mempercepat dan memperlambat [laju mobil] dengan sangat lancar, saya hampir tidak merasakan gravitasi. Terkadang saya lupa sedang berada di dalam mobil," kata Yusuke di suatu acara makan malam.
"Saya sudah pernah disupiri banyak orang tapi tidak pernah semenyenangkan ini. Saya senang dia ditugaskan sebagai supir. Itu yang saya rasakan saat ini," puji Yusuke tentang kemampuan menyetir Misaki.
Dialog tersebut yang menjadi titik balik hubungan mereka yang awalnya dingin. Misaki mendapatkan kepercayaan dari majikannya setelah membuktikan kemampuannya. Dan, kini, ia tidak ragu untuk bercerita lebih lanjut tentang dirinya.
Misaki memiliki trauma di masa lalu yang membuat dirinya bisa mengemudi semahir itu.
Lalu terjadilah puncak sinematrografi Drive My Car. Yaitu, ketika Misaki dan Yusuke sama-sama menikmati rokok masing-masing di dalam mobil merah itu.
Melalui adegan yang elok itu, penonton bisa merasakan bahwa keduanya sudah nyaman dan saling percaya satu sama lain.
Yusuke dan Misaki mencoba menerima apa yang mereka sesalkan di masa lalu. Namun, keduanya sadar mereka tidak bisa mengembalikan apa yang sudah terlanjur terjadi.
"Aku ingin bertemu Oto tapi sudah terlambat. Tidak ada jalan kembali. Tidak ada yang bisa kulakukan," kata Yusuke lirih.
Drive My Car merupakan adaptasi dari cerita-cerita pendek Haruki Murakami. Ada dua cerita dari kumpulan cerpen Men Without Women yang diadaptasi ke dalam film tersebut, yaitu Scheherazade and Kino.
Seperti cerita-cerita pendeknya, film ini tetap setia pada karya aslinya. Sepi, pilu, namun tetap indah.
Dinominasikannya Drive My Car dalam ajang Piala Oscar 2022 menjadi pembuktian bahwa ini merupakan film adaptasi karya Haruki Murakami yang paling sukses.
Akankah Drive My Car ini menorehkan rekor baru sebagai film Jepang pertama yang meraih gelar Best Picture Academy Awards? Ataukah karya sutradara Ryusuke Hamaguchi ini puas hanya dengan membawa pulang piala Best International Feature Film?
Film Drive My Car menjadi sorotan setelah mencatat rekor sebagai film Jepang pertama yang dinominasikan untuk Best Picture Piala Oscar 2022.
Karya ini disutradarai oleh Ryusuke Hamaguchi. Ia pun menggandeng Takamasa Oe untuk menggarap penulisan skenario.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusuke Kafuku (Hidetoshi Nishijima) bergantung pada istrinya agar dapat melatih dialog penampilan teaternya. Ia berpura-pura berdialog dengan lawan mainnya dengan memasang rekaman suara istrinya, Oto Kafuku (Reika Kirishima), setiap kali mengendarai Saab 900 Turbo merah kesayangannya.
Ia semacam memiliki ritual "ganjil" dengan istrinya. Setiap kali ia berhubungan seks dengan Oto, sang istri bisa berorgasme dalam bentuk narasi untuk dituangkan menjadi naskah drama televisi.
Oto pun mengandalkan suaminya untuk menceritakan kembali imajinasinya karena ia kerap lupa keesokan harinya. Rutinitas "ganjil" ini terbentuk setelah keduanya kehilangan putri satu-satunya dua dekade lalu.
Yusuke mesti menghapi kematian kembali. Suatu hari Oto meninggal secara mendadak dan Yusuke mengalami duka mendalam yang tidak dapat dia ekspresikan dengan baik.
Bahkan, Yusuke masih menyimpan rapat rahasia bahwa ia menangkap basah istrinya sedang berhubungan badan dengan pria misterius di apartemen mereka.
Ryusuke Hamaguchi selaku penulis dan sutradara ingin menggambarkan bahwa kehilangan seseorang yang sangat dicintai tidak perlu diekspresikan secara berlebihan. Dalam hal ini, karakter Yusuke digambarkan masih melakukan rutinitas yang sama.
Perbedaannya kali ini adalah penonton dibuat merasa bahwa ia masih berduka atas kematian istrinya dengan memutar rekaman kaset di mobilnya.
Kemudian, Yusuke memutuskan untuk melangkah dengan hidupnya dan melakukan perjalanan ke Hiroshima untuk mengambil pekerjaan penyutradaraan teater.
Setelah babak pertama inilah opening title Drive My Car muncul. Butuh 40 menit untuk mencapai titik tersebut, sebuah durasi yang tidak biasa.
Durasi ini yang menyadarkan penonton bahwa ini barulah permulaan dari sebuah perjalanan tentang duka dan penerimaan dari film berdurasi 3 jam itu.
"Tentu saja saya yakin bahwa kebenaran, tidak peduli apapun itu, tidak menakutkan. Yang paling menakutkan adalah tidak mengetahuinya," demikian suara Oto memenuhi mobil.
Perjalanan baru dengan Saab 900 Turbo merah itu pun dimulai.
Hidetoshi Nishijima sebagai Yusuke Kafuku dalam film Drive My Car. Foto: (dok. C&I Entertainment/Culture Entertainment/Bitters End via IMDb)
Oleh perusahaan teater, Yusuke diberi fasilitas supir untuk membawanya ke mana pun ia inginkan selama berada di Hiroshima. Supir itu bernama Misaki Watari (Toko Miura), seorang perempuan berusia 23 tahun dengan watak pendiam dan misterius.
Kendaraan yang telah membawa Yusuke selama 15 tahun ini telah diambil alih oleh orang asing yang bukan dirinya atau istrinya. Gelembung kenyamanan karakternya telah dilanggar.
Dialognya minim, ekspresi Hidetoshi Nishijima pun tidak meledak-ledak. Akan tetapi, akting yang baik dari Nishijima mampu membuat para penonton memahami bahwa ada kecemasan dalam karakter Yusuke.
Review Drive My Car berlanjut...
Review Film: Drive My Car
Drive My Car merupakan adaptasi dari cerita-cerita pendek Haruki Murakami yang indah. (Foto: C&I Entertainment via Imdb)
Saab 900 Turbo berwarna merah ini menjadi saksi bisu dari segala yang terjadi di dalam hidup Yusuke. Semua kepelikan yang dialami tiap karakter terungkap di dalam mobil sedan itu.
Salah satunya ketika Yusuke ngobrol dengan Koji Takatsuki (Masaki Okada) tentang perselingkuhan antara sang aktor muda dengan Oto. Akhirnya Yusuke dapat mengangkat beban rahasia yang ia simpan selama ini dan melemparnya kepada pria selingkuhan istrinya.
Ryusuke Hamaguchi membuat pembicaran antara dua orang dewasa ini bukan sebagai topik yang mesti menjadi sebuah konfrontasi yang berapi-api. Kedua pria itu berbagi perasaan dan cerita terhadap satu wanita yang sama-sama mereka cintai.
Lalu, terkait hubungan Yusuke dengan supir barunya pun lambat laun semakin melembut. Misaki telah menyaksikan dan mendengar segala hal tentang majikannya.
"Dia mempercepat dan memperlambat [laju mobil] dengan sangat lancar, saya hampir tidak merasakan gravitasi. Terkadang saya lupa sedang berada di dalam mobil," kata Yusuke di suatu acara makan malam.
"Saya sudah pernah disupiri banyak orang tapi tidak pernah semenyenangkan ini. Saya senang dia ditugaskan sebagai supir. Itu yang saya rasakan saat ini," puji Yusuke tentang kemampuan menyetir Misaki.
Dialog tersebut yang menjadi titik balik hubungan mereka yang awalnya dingin. Misaki mendapatkan kepercayaan dari majikannya setelah membuktikan kemampuannya. Dan, kini, ia tidak ragu untuk bercerita lebih lanjut tentang dirinya.
Misaki memiliki trauma di masa lalu yang membuat dirinya bisa mengemudi semahir itu.
Lalu terjadilah puncak sinematrografi Drive My Car. Yaitu, ketika Misaki dan Yusuke sama-sama menikmati rokok masing-masing di dalam mobil merah itu.
Melalui adegan yang elok itu, penonton bisa merasakan bahwa keduanya sudah nyaman dan saling percaya satu sama lain.
Yusuke dan Misaki mencoba menerima apa yang mereka sesalkan di masa lalu. Namun, keduanya sadar mereka tidak bisa mengembalikan apa yang sudah terlanjur terjadi.
"Aku ingin bertemu Oto tapi sudah terlambat. Tidak ada jalan kembali. Tidak ada yang bisa kulakukan," kata Yusuke lirih.
Drive My Car merupakan adaptasi dari cerita-cerita pendek Haruki Murakami. Ada dua cerita dari kumpulan cerpen Men Without Women yang diadaptasi ke dalam film tersebut, yaitu Scheherazade and Kino.
Seperti cerita-cerita pendeknya, film ini tetap setia pada karya aslinya. Sepi, pilu, namun tetap indah.
Dinominasikannya Drive My Car dalam ajang Piala Oscar 2022 menjadi pembuktian bahwa ini merupakan film adaptasi karya Haruki Murakami yang paling sukses.
Akankah Drive My Car ini menorehkan rekor baru sebagai film Jepang pertama yang meraih gelar Best Picture Academy Awards? Ataukah karya sutradara Ryusuke Hamaguchi ini puas hanya dengan membawa pulang piala Best International Feature Film?