Review Film: Penyalin Cahaya

Feby Nadeak | CNN Indonesia
Jumat, 14 Jan 2022 20:00 WIB
Review film Penyalin Cahaya: Butuh perenungan mendalam untuk menangkap pesan yang coba disampaikan Wregas Bhanuteja dalam film ini. Review film Penyalin Cahaya: Butuh perenungan mendalam untuk menangkap pesan yang coba disampaikan Wregas Bhanuteja dalam film ini. (dok. Rekata Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Butuh perenungan mendalam untuk menangkap pesan yang coba disampaikan Wregas Bhanuteja dalam Penyalin Cahaya. Film ini jelas bukan untuk menghibur, melainkan mengajak untuk berpikir akan pesan di balik segala metafora ceritanya.

Penyalin Cahaya memang merupakan film yang menyuarakan isu kekerasan seksual, namun disampaikan tidak secara gamblang. Pesan itu datang dengan metafora dan simbolis.

Sehingga, bila menyaksikan film ini tidak dengan konsentrasi dan niat yang cukup, pesan itu berpeluang tak sampai bahkan mungkin penonton bisa tak akan tahan hingga adegan terakhir.


Meski begitu, sejumlah adegan dan cerita dalam Penyalin Cahaya memang membuat bertanya-tanya. Mulai dari fokus cerita yang terasa berubah dan jauh berbeda dibanding saat memulai perjalanan, hingga berbagai permasalahan yang dibahas Wregas dalam film ini.

Masalah yang selama ini disebut sebagai sinopsis Penyalin Cahaya sejatinya hanyalah kedok yang digunakan Wregas untuk membahas hal yang lebih kompleks dan luas.

Namun perkembangan narasi dengan segala imbuhan di dalamnya membuat film ini terasa kehilangan fokus cerita. Wregas tampak bingung masalah apa yang akan ia jadikan sebagai sorotan utama.

Bahkan target pencarian Sur tidak terselesaikan, setidaknya secara gamblang dalam film tersebut. Tidak ada jawaban akhir yang menutup cerita, yang ada hanyalah tanda tanya.

Film Penyalin CahayaReview film Penyalin Cahaya: Butuh perenungan mendalam untuk menangkap pesan yang coba disampaikan Wregas Bhanuteja dalam film ini. (Tangkapan layar instagram @penyalincahaya)

Tanda tanya itu terjadi dalam banyak babak cerita, mulai dari persoalan mabuk dan penyebabnya, pelaku, hingga cara permasalahan itu bisa terjadi dalam dunia Penyalin Cahaya. Belum lagi beberapa cerita yang terasa kontradiktif dengan cerita yang lain.

Penyalin Cahaya seolah membiarkan penonton menyimpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi, yang mana sebenarnya hal itu sah-sah saja.

Namun mengingat film ini digadang-gadang dan rilis di tengah isu persoalan pelecehan seksual, amat disayangkan bila pesan tidak bisa dijelaskan secara utuh dan tepat kepada penonton.

Satu hal yang membuat kurang nyaman dalam film ini adalah penggambaran para karakter laki-laki. Terlihat laki-laki adalah makhluk yang begitu jahat, tak ada yang benar-benar 'orang baik'.

Hal itu terlihat dari karakter pria dalam film ini, setidaknya yang terlibat langsung terhadap Sur, bahwa tidak ada dari mereka yang mendukung penyintas itu secara utuh. Mulai dari Rama, Amin, Thariq, pengemudi taksi daring dan pengelolanya, bahkan termasuk ayah Sur sendiri.

Tak hanya itu, jika diperhatikan dengan saksama, seluruh pihak kampus yang tidak mendukung Sur juga merupakan pria. Hal ini justru seolah mendiskreditkan gender tertentu, meskipun pesan bahwa pelecehan seksual bisa terjadi tanpa memandang gender benar ditampilkan.

Belum lagi soal sisipan adegan teatrikal dalam cerita tersebut yang sebenarnya terasa mengganjal dan seperti dipaksakan ada. Walaupun, adegan itu bisa dipahami sebagai penggambaran pelaku yang memegang kuasa.

Atau, penggunaan petugas fogging yang begitu metafora sehingga tidak bisa dimaknai dengan sederhana. Apakah memang Wregas punya maksud dengan pasukan yang slogannya diucap berulang-ulang itu, atau hanya sekadar peramai cerita.

Review film Penyalin Cahaya lanjut ke sebelah...

[Gambas:Youtube]



Review Film: Penyalin Cahaya

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER