Tetap Riuh Meluapkan Rindu untuk BTS di Permission to Dance on Stage
Naely Himami | CNN Indonesia
Minggu, 13 Mar 2022 09:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kerinduan para penggemar BTS, ARMY, di Indonesia jelas terbayarkan dengan konser Permission to Dance on Stage meski digelar secara virtual akibat pandemi. (Tangkapan layar twitter @bts_bighit)
Jakarta, CNN Indonesia --
Teriakan, nyanyian, dan goyangan ARMY Bomb seolah konser sesungguhnya menghiasi tiga jam siaran konser BTS Permission to Dance on Stage yang disiarkan secara langsung dan ulang dari Korea di bioskop Indonesia pada Sabtu (12/3).
Kerinduan para penggemar BTS, ARMY, di Indonesia jelas terbayarkan dengan konser tersebut meski digelar secara virtual akibat pandemi.
Kondisi gambar dan suara bioskop yang prima cukup membawa penonton seolah benar-benar berada di Olympic Stadium, Seoul, tempat konser 'sesungguhnya' digelar.
Bedanya, penggemar ARMY di Korea dilarang untuk berteriak, tepuk tangan, dan harus duduk tertib atas nama protokol kesehatan.
Sebagai gantinya, mereka diberi 'clapper' sebagai simbol tepuk tangan dan suara rekaman teriakan ARMY dikumandangkan sehingga seolah-olah riuh konser sungguhan benar-benar terjadi.
Sementara di Indonesia, bioskop adalah 'jalan ninja' dan wadah para ARMY meluapkan segala emosi dan kerinduan melihat RM, Jin, Suga, JHope, Jimin, Taehyung dan Jungkook.
Penonton, termasuk saya, hanyut dalam konser visual tersebut. Lupa kalau kami berada di bioskop yang biasanya digunakan untuk menonton film, hanya terasa kami berada dekat dengan panggung karena ketujuh pria rupawan itu begitu jelas terlihat.
Penonton di bioskop riuh, kaki dan tangan bergerak tak keruan mengikuti emosi juga melodi, kami pun tetap meneriakkan chant seolah berharap ketujuh pria itu mendengar. Namun penonton tetap duduk demi menghargai sesama penonton lainnya.
BTS pun tampak nyaman dengan gaya baru konser tersebut. Mereka membuka konser dengan lagu ON dengan aksi maskulin yang didominasi warna merah dan putih. Tanpa jeda, BTS membawakan deretan lagu lain, yaitu Fire, Dope dan DNA.
Selesai membawakan empat lagu, BTS menyapa ARMY yang dibalas dengan riuh suara clapper. BTS pun tampak tertawa melihat aksi ARMY membunyikan clapper. Sayang, BTS tak mendengar teriakan heboh kami yang ada di bioskop.
Sayangnya, penyelenggara tidak menyediakan takarir atau subtitle bagi ARMY yang tak mengerti bahasa Korea. Padahal, acara ini disiarkan ulang dan harganya sama dengan live-viewing.
Meski begitu, ARMY di bioskop tetap ikut berteriak setiap ada member yang berbicara seolah paham apa yang mereka bicarakan.
Tak hanya lagu tempo cepat, BTS membawakan lagu-lagu ballad, seperti Blue & Grey, Life Goes On, dan Black Swan, lengkap dengan koreografi indah dan latar langit mendung yang menambah keintiman konser.
Hingga kemudian, sesuatu mengagetkan terjadi.
lanjut ke sebelah...
Jimin terpeleset di tengah lagu karena lantai yang licin. Namun ia berhasil mengatasinya dengan ciamik dan melanjutkan penampilan.
BTS pun membawakan lagu Blood Sweat & Tears dan Fake Love secara medley, kemudian Boy With Love, Dynamite, Butter, dengan live band yang membuat suasana konser lebih hidup.
BTS juga mendekat ke arah ARMY, di Korea, dengan menaiki bus tingkat sambil membawakan lagu Telepathy. Namun saat kembali ke panggung, Suga terjatuh.
Meski terjatuh, Suga tetap bernyanyi dan mendapat senyuman dari member BTS yang lain. Usai menampilkan Outro: Wings, mereka bertujuh kemudian berbincang dengan ARMY di stadion tersebut.
Mereka juga menunjukkan siku Suga yang memar karena terjatuh di atas panggung akibat guyuran gerimis. Mereka juga saling bercanda sebelum menampilkan Stay, So What, dan Idol yang diaransemen ulang versi rock.
Semakin malam, gerimis semakin deras mengguyur area konser. ARMY terlihat mengeluarkan jas hujan dari balik tas mereka. Sementara di Indonesia, penonton masih duduk anteng sembari chant-chant gemas dan bertepuk tangan.
Di sesi terakhir, BTS kembali menyapa ARMY. Masing-masing member BTS berterima kasih atas kehadiran ARMY. Mereka juga menanyakan kondisi ARMY yang kehujanan.
"Jika kalian kedinginan tolong bunyikan clapper sebanyak dua kali," kata Jungkook yang disambut tepukan clapper sebanyak dua kali dari ARMY.
Sebelum menutup konser, BTS meminta ARMY membuat gelombang ARMY Bomb. Hal itu juga diikuti oleh ARMY di dalam bioskop yang ikut menggerakan ARMY Bomb mereka bersama-sama.
BTS tampak senang melihat ARMY yang begitu kompak walau harus berjuang di bawah guyuran hujan. RM, sebagai leader BTS kemudian mengumumkan bahwa mereka telah sampai di penghujung konser.
RM juga menyapa ARMY di bioskop dalam bahasa Inggris yang disambut suara "Nooooo". Konser ini pun ditutup dengan lagu Permission to Dance.
Terlepas dari jam tayang yang molor dan tidak ada takarir, konser live-viewing ini sangat layak ditonton. BTS sukses menghidupkan konser yang "hening" di stadion dengan membawakan penampilan spektakuler selama acara berlangsung.
ARMY Indonesia yang menyaksikan di bioskop pun tetap bisa menikmati penampilan BTS mengingat acara ini ditayangkan di jaringan bioskop dengan kapasitas audio visual yang mumpuni. Namun yang terpenting, kerinduan kami terbayar di tengah pandemi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Teriakan, nyanyian, dan goyangan ARMY Bomb seolah konser sesungguhnya menghiasi tiga jam siaran konser BTS Permission to Dance on Stage yang disiarkan secara langsung dan ulang dari Korea di bioskop Indonesia pada Sabtu (12/3).
Kerinduan para penggemar BTS, ARMY, di Indonesia jelas terbayarkan dengan konser tersebut meski digelar secara virtual akibat pandemi.
Kondisi gambar dan suara bioskop yang prima cukup membawa penonton seolah benar-benar berada di Olympic Stadium, Seoul, tempat konser 'sesungguhnya' digelar.
Bedanya, penggemar ARMY di Korea dilarang untuk berteriak, tepuk tangan, dan harus duduk tertib atas nama protokol kesehatan.
Sebagai gantinya, mereka diberi 'clapper' sebagai simbol tepuk tangan dan suara rekaman teriakan ARMY dikumandangkan sehingga seolah-olah riuh konser sungguhan benar-benar terjadi.
Sementara di Indonesia, bioskop adalah 'jalan ninja' dan wadah para ARMY meluapkan segala emosi dan kerinduan melihat RM, Jin, Suga, JHope, Jimin, Taehyung dan Jungkook.
Penonton, termasuk saya, hanyut dalam konser visual tersebut. Lupa kalau kami berada di bioskop yang biasanya digunakan untuk menonton film, hanya terasa kami berada dekat dengan panggung karena ketujuh pria rupawan itu begitu jelas terlihat.
Penonton di bioskop riuh, kaki dan tangan bergerak tak keruan mengikuti emosi juga melodi, kami pun tetap meneriakkan chant seolah berharap ketujuh pria itu mendengar. Namun penonton tetap duduk demi menghargai sesama penonton lainnya.
BTS pun tampak nyaman dengan gaya baru konser tersebut. Mereka membuka konser dengan lagu ON dengan aksi maskulin yang didominasi warna merah dan putih. Tanpa jeda, BTS membawakan deretan lagu lain, yaitu Fire, Dope dan DNA.
Selesai membawakan empat lagu, BTS menyapa ARMY yang dibalas dengan riuh suara clapper. BTS pun tampak tertawa melihat aksi ARMY membunyikan clapper. Sayang, BTS tak mendengar teriakan heboh kami yang ada di bioskop.
Sayangnya, penyelenggara tidak menyediakan takarir atau subtitle bagi ARMY yang tak mengerti bahasa Korea. Padahal, acara ini disiarkan ulang dan harganya sama dengan live-viewing.
Meski begitu, ARMY di bioskop tetap ikut berteriak setiap ada member yang berbicara seolah paham apa yang mereka bicarakan.
Tak hanya lagu tempo cepat, BTS membawakan lagu-lagu ballad, seperti Blue & Grey, Life Goes On, dan Black Swan, lengkap dengan koreografi indah dan latar langit mendung yang menambah keintiman konser.
Hingga kemudian, sesuatu mengagetkan terjadi.
lanjut ke sebelah...
Review Konser: BTS - Permission to Dance on Stage
Di Indonesia, bioskop adalah 'jalan ninja' dan wadah para ARMY meluapkan segala emosi dan kerinduan melihat RM, Jin, Suga, JHope, Jimin, Taehyung dan Jungkook. (Arsip Big Hit Music via @bts_official)
Jimin terpeleset di tengah lagu karena lantai yang licin. Namun ia berhasil mengatasinya dengan ciamik dan melanjutkan penampilan.
BTS pun membawakan lagu Blood Sweat & Tears dan Fake Love secara medley, kemudian Boy With Love, Dynamite, Butter, dengan live band yang membuat suasana konser lebih hidup.
BTS juga mendekat ke arah ARMY, di Korea, dengan menaiki bus tingkat sambil membawakan lagu Telepathy. Namun saat kembali ke panggung, Suga terjatuh.
Meski terjatuh, Suga tetap bernyanyi dan mendapat senyuman dari member BTS yang lain. Usai menampilkan Outro: Wings, mereka bertujuh kemudian berbincang dengan ARMY di stadion tersebut.
Mereka juga menunjukkan siku Suga yang memar karena terjatuh di atas panggung akibat guyuran gerimis. Mereka juga saling bercanda sebelum menampilkan Stay, So What, dan Idol yang diaransemen ulang versi rock.
Semakin malam, gerimis semakin deras mengguyur area konser. ARMY terlihat mengeluarkan jas hujan dari balik tas mereka. Sementara di Indonesia, penonton masih duduk anteng sembari chant-chant gemas dan bertepuk tangan.
Di sesi terakhir, BTS kembali menyapa ARMY. Masing-masing member BTS berterima kasih atas kehadiran ARMY. Mereka juga menanyakan kondisi ARMY yang kehujanan.
"Jika kalian kedinginan tolong bunyikan clapper sebanyak dua kali," kata Jungkook yang disambut tepukan clapper sebanyak dua kali dari ARMY.
Sebelum menutup konser, BTS meminta ARMY membuat gelombang ARMY Bomb. Hal itu juga diikuti oleh ARMY di dalam bioskop yang ikut menggerakan ARMY Bomb mereka bersama-sama.
BTS tampak senang melihat ARMY yang begitu kompak walau harus berjuang di bawah guyuran hujan. RM, sebagai leader BTS kemudian mengumumkan bahwa mereka telah sampai di penghujung konser.
RM juga menyapa ARMY di bioskop dalam bahasa Inggris yang disambut suara "Nooooo". Konser ini pun ditutup dengan lagu Permission to Dance.
Terlepas dari jam tayang yang molor dan tidak ada takarir, konser live-viewing ini sangat layak ditonton. BTS sukses menghidupkan konser yang "hening" di stadion dengan membawakan penampilan spektakuler selama acara berlangsung.
ARMY Indonesia yang menyaksikan di bioskop pun tetap bisa menikmati penampilan BTS mengingat acara ini ditayangkan di jaringan bioskop dengan kapasitas audio visual yang mumpuni. Namun yang terpenting, kerinduan kami terbayar di tengah pandemi.