Erix Soekamti Soal Jogja Gelut Day: Mau 'Uji Kesaktian' Monggo
CNN Indonesia
Sabtu, 09 Apr 2022 13:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Erix Soekamti menjabarkan rencana Jogja Gelut Day yang mempersilahkan para remaja untuk "uji kesaktian".(CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Yogyakarta, CNN Indonesia --
Musisi Erix Soekamti serius menggarap Jogja Gelut Day yang ia luncurkan Kamis (7/4). Ia bersama rekan-rekannya dari Jogja Mixed Martial Arts tengah mematangkan persiapan acara yang digelar pada Juni 2022.
Jogja Gelut Day sebelumnya diumumkan oleh pembetot bas grup punk Endank Soekamti itu sebagai wadah kepada para remaja yang haus akan eksistensi.
Sekaligus, gelar tarung terbuka itu diadakan dengan tujuan meredam potensi kejahatan jalanan oleh remaja juga pelajar yang sebelumnya ramai disebut sebagai fenomena klitih.
"Pendaftaran mungkin mulai minggu depan. Bulan Mei kita pakai untuk sosialisasi ke sekolah-sekolah, ke geng-geng, ke mana-mana itu semuanya. Disosialisasikan atau diajak bergabung," kata Erix saat dihubungi pada Jumat (8/4).
Erix dan rekan-rekannya di Jogja MMA menyusun klasifikasi kelas-kelas petarung berdasarkan berat badan. Soal usia, Erix menyebut tak ada batasan.
Meski begitu, bila nanti ada penantang yang datang atau mau membuktikan sesuatu, ia dan pelaksana Jogja Gelut Day mempersilahkan.
"Misal mau 'uji kesaktian' monggo, didelok wae kan enak (dilihat aja kan enak)," katanya.
Setelah pendaftaran ditutup, kamp pelatihan dibuka untuk mereka yang berminat. Pada hari H, ajang gelut itu akan dibagi menjadi tiga babak. Babak satu dan dua akan fokus pada penyaringan peserta.
Peserta yang lolos pada dua babak itu akan bertemu di babak pamungkas. Duel ini pun disebut Erix akan menggunakan wasit berstandar internasional dan dilaksanakan di sebuah kafe yang belum bisa diumumkan saat ini.
Erix bermaksud menggelar Jogja Gelut Day di sebuah destinasi wisata dan mengemasnya dengan format sportourism agar bisa mendulang penonton. Semua tak lepas dari dampak fenomena klitih yang merugikan industri wisata Yogyakarta.
Lanjut ke sebelah...
"Nah sekarang kita kembalikan itu dengan membuat ini menjadi hiburan. Jadi, sportourism kalau saya bilang begitu," kata Erix.
"Nanti ada hiburan musiknya juga. Jadi memang tak gawe geden (kami bikin besar) supaya semakin bergengsi," lanjutnya.
Erix menilai fenomena kejahatan remaja jalanan yang sebelumnya dikenal sebagai klitih itu telah meresahkan masyarakat. Ia percaya hal itu karena ruang ekspresi bagi para remaja terbilang minim.
Ia beranggapan, anak-anak yang menjadi pelaku tersebut kurang mendapatkan tempat untuk bisa meraih atensi dan apresiasi atas kelebihan mereka. Apalagi, bila mereka 'kalah' di bidang akademik sehingga memicu menyalurkannya pada hal negatif.
"Kalau berantem kan enggak dapat rangking, nah makanya dia tidak mendapatkan ruang untuk diapresiasi makanya dia cari ke tempat lain," kata Erix.
"Nah kami mencoba memberi satu wadah, baru satu wadah gitu lho. Mungkin kan nanti Jogja bagian mana akan ikut berkontribusi, itu akan lebih bagus. Itu akan membuat wadah kreativitas yang lain, tidak hanya di sport. Itu mungkin bisa jadi," lanjutnya.
Erix menegaskan wacara Jogja Gelut Day ini bukan hanya ajang yang diadakan sekali. Ia dan kawan-kawannya berencana membuatnya lebih rutin dalam empat bulan sekali.
"Pokoke nek koe pengen mbuktekke nek koe gento yo neng kene wae. Jelas diakoni wong okeh. (Pokoknya, kalau kamu ingin membuktikan dirimu jagoan ya di sini aja, jelas diakui banyak orang)," kata Erix.
"Supaya Jogja yang namanya Jogja Istimewa yang katanya terbuat dari rindu dan romansa itu benar-benar kembali, terwujud seperti sedia kala," lanjutnya.
Yogyakarta, CNN Indonesia --
Musisi Erix Soekamti serius menggarap Jogja Gelut Day yang ia luncurkan Kamis (7/4). Ia bersama rekan-rekannya dari Jogja Mixed Martial Arts tengah mematangkan persiapan acara yang digelar pada Juni 2022.
Jogja Gelut Day sebelumnya diumumkan oleh pembetot bas grup punk Endank Soekamti itu sebagai wadah kepada para remaja yang haus akan eksistensi.
Sekaligus, gelar tarung terbuka itu diadakan dengan tujuan meredam potensi kejahatan jalanan oleh remaja juga pelajar yang sebelumnya ramai disebut sebagai fenomena klitih.
"Pendaftaran mungkin mulai minggu depan. Bulan Mei kita pakai untuk sosialisasi ke sekolah-sekolah, ke geng-geng, ke mana-mana itu semuanya. Disosialisasikan atau diajak bergabung," kata Erix saat dihubungi pada Jumat (8/4).
Erix dan rekan-rekannya di Jogja MMA menyusun klasifikasi kelas-kelas petarung berdasarkan berat badan. Soal usia, Erix menyebut tak ada batasan.
Meski begitu, bila nanti ada penantang yang datang atau mau membuktikan sesuatu, ia dan pelaksana Jogja Gelut Day mempersilahkan.
"Misal mau 'uji kesaktian' monggo, didelok wae kan enak (dilihat aja kan enak)," katanya.
Setelah pendaftaran ditutup, kamp pelatihan dibuka untuk mereka yang berminat. Pada hari H, ajang gelut itu akan dibagi menjadi tiga babak. Babak satu dan dua akan fokus pada penyaringan peserta.
Peserta yang lolos pada dua babak itu akan bertemu di babak pamungkas. Duel ini pun disebut Erix akan menggunakan wasit berstandar internasional dan dilaksanakan di sebuah kafe yang belum bisa diumumkan saat ini.
Erix bermaksud menggelar Jogja Gelut Day di sebuah destinasi wisata dan mengemasnya dengan format sportourism agar bisa mendulang penonton. Semua tak lepas dari dampak fenomena klitih yang merugikan industri wisata Yogyakarta.
Lanjut ke sebelah...
Ajang Rutin
Polrestabes Semarang meringkus tiga remaja pelaku kekerasan yang terekam kamera pengawas dan viral di media sosial sebagai aksi klitih di ibu kota Jawa Tengah, Semarang, 5 April 2022. (CNNINdonesia/Damar)
"Nah sekarang kita kembalikan itu dengan membuat ini menjadi hiburan. Jadi, sportourism kalau saya bilang begitu," kata Erix.
"Nanti ada hiburan musiknya juga. Jadi memang tak gawe geden (kami bikin besar) supaya semakin bergengsi," lanjutnya.
Erix menilai fenomena kejahatan remaja jalanan yang sebelumnya dikenal sebagai klitih itu telah meresahkan masyarakat. Ia percaya hal itu karena ruang ekspresi bagi para remaja terbilang minim.
Ia beranggapan, anak-anak yang menjadi pelaku tersebut kurang mendapatkan tempat untuk bisa meraih atensi dan apresiasi atas kelebihan mereka. Apalagi, bila mereka 'kalah' di bidang akademik sehingga memicu menyalurkannya pada hal negatif.
"Kalau berantem kan enggak dapat rangking, nah makanya dia tidak mendapatkan ruang untuk diapresiasi makanya dia cari ke tempat lain," kata Erix.
"Nah kami mencoba memberi satu wadah, baru satu wadah gitu lho. Mungkin kan nanti Jogja bagian mana akan ikut berkontribusi, itu akan lebih bagus. Itu akan membuat wadah kreativitas yang lain, tidak hanya di sport. Itu mungkin bisa jadi," lanjutnya.
Erix menegaskan wacara Jogja Gelut Day ini bukan hanya ajang yang diadakan sekali. Ia dan kawan-kawannya berencana membuatnya lebih rutin dalam empat bulan sekali.
"Pokoke nek koe pengen mbuktekke nek koe gento yo neng kene wae. Jelas diakoni wong okeh. (Pokoknya, kalau kamu ingin membuktikan dirimu jagoan ya di sini aja, jelas diakui banyak orang)," kata Erix.
"Supaya Jogja yang namanya Jogja Istimewa yang katanya terbuat dari rindu dan romansa itu benar-benar kembali, terwujud seperti sedia kala," lanjutnya.