Review film: Orphan: First Kill tampak memang ditujukan hanya untuk membahas sosok Leena Klammer alias Esther. (Paramount+ via IMDb)
Orphan: First Kill pun hanya fokus pada peran manipulatif Esther di keluarga Albright. Nama keluarga itu banyak disebut dalam film pertama 2009 lalu. First Kill pun berlatar pada 2007, dua tahun sebelum Esther datang dan menghabisi kembali sebuah keluarga Amerika.
Dengan keterkaitan ini, First Kill memungkinkan memuaskan penonton terkait informasi yang lebih gamblang soal Esther terlepas dari permasalahan ceritanya.
Jika Leena Klammer atau Esther adalah tokoh nyata, maka Orphan: First Kill adalah biopik nomor satu yang pernah saya tonton.
Namun sayang, sosok Esther tentu terlalu kejam untuk dihadirkan dalam kehidupan nyata. Demikian pula dengan alur ceritanya. Pencinta plot twist ala film dark atau witty comedy tentu mudah untuk mengernyitkan dahi.
Meski begitu, saya masih sedikit optimis bahwasanya First Kill hanyalah jembatan menuju cerita yang lebih dalam di semesta Orphan.
Terlepas dari itu, apresiasi dari saya untuk Isabelle Fuhrman yang sukses kembali memerankan peran ikonis tersebut. Beberapa pemeran pembantu seperti Julia Stiles dan Rossif Sutherland juga sukses mendapuk peran vital dalam "biografi Esther" ini.
Tak jarang, duo penulis naskah McGoldrick dan Mace memberikan ruang bagi Stiles untuk menafsirkan ironi khas perempuan Kaukasia dari kalangan atas di Connecticut, AS.
Karakter Tricia Albright yang dimainkan oleh Stiles seakan menjadi protagonis dadakan, ketika obsesi Esther akan darah dan penyiksaan semakin menjadi-jadi. Hal itu tentu dibutuhkan di masa kini, yang "mewajibkan" political dan cultural correctness untuk hadir di segala aspek.
Seluruh tim produksi di Orphan: First Kill seakan menangkap keinginan para woke activists untuk menonjolkan peran utama perempuan di tiap karya seni. Satire atau ironi? Tentu pilihan Anda untuk menginterpretasi.
Singkat kalimat, menonton Orphan: First Kill akan terasa sempurna apabila menyaksikan lagi film Orphan (2009) tepat setelahnya.
Ketika dua film ini berhasil Anda saksikan dalam satu periode waktu, maka Anda akan merasakan nikmatnya menjadi megalomania ala Esther dengan cara yang jauh lebih bersahaja.
Menyaksikan kisah prekuel macam Orphan: First Killselalu menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Tak hanya bisa menuntun lebih mudah dalam memahami cerita, melainkan juga dapat menelisik lebih dalam mengenai karakter utama yang disorot.
Berbicara tentang Orphan: First Kill, publik tentu menaruh perhatian lebih pada karakter bernama Esther yang diperankan oleh Isabelle Fuhrman.
Lewat film pertama, Orphan (2009), Esther tidak hanya berhasil membunuh setiap korbannya. Ia juga berhasil 'membunuh' ekspektasi tiap pasang mata penonton agar kehadirannya bisa berujung sirna.
Meski memang telah tenggelam di adegan terakhir film Orphan (2009), baik secara harfiah maupun oleh sifat maniaknya sendiri, tak bisa dipungkiri Esther adalah psikopat gigih yang tak berhenti memperjuangkan eksistensi diri.
Begitu pula dalam Orphan: First Kill yang tayang secara luas pada Kamis (31/8) lalu. Kegigihan Esther itu masih menjadi sajian utama para penonton.
Namun kali ini, cerita akan membawa penonton lebih dalam kepada sosok perempuan dewasa bernama Leena Klammer. Ia adalah pasien rumah sakit jiwa Saarne Institute di Estonia.
Sejarah dan latar belakang Klammer dan kaitannya dengan sosok Esther yang sudah dikenal sebelumnya akan dikuliti habis-habisan dalam First Kill.
Review film: Orphan: First Kill tampak memang ditujukan hanya untuk membahas sosok Leena Klammer alias Esther. (Paramount+ via IMDb)
Penulis naskah David Coggeshall mengajak penonton untuk mengenal bagaimana Leena "tumbuh" kerdil dan menjadi sosok anak kecil menyeramkan bernama Esther seperti yang dilihat pada versi 2009.
Sedari awal, Orphan First Kill tampak memang ditujukan untuk membahas sosok Leena Klammer alias Esther. Hal itu pun bukan jadi soal, apalagi teraplikasikan dengan sangat baik.
Selain itu, penonton diingatkan kembali akan kenangan penuh teror dari Esther pada awal-awal First Kill. Fokus dan pendalaman karakter Esther semestinya menjadi tawaran perjalanan yang memuaskan, terutama bagi penggemarnya.
Namun bagi saya pribadi sebagai penonton baru cerita ini, Orphan: First Kill terasa begitu menjemukan. Alur cerita yang disajikan pun kadung terlalu sederhana, keinginan Esther untuk membunuh orang di sekelilingnya.
Saya tak bisa membayangkan bagaimana ekspektasi penonton setia Esther yang sudah menanti selama belasan tahun. Selama kurang lebih 90 menit, saya yakin mereka akan mudah untuk menerka berjalannya cerita.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Orphan First Kill
Review film: Orphan: First Kill tampak memang ditujukan hanya untuk membahas sosok Leena Klammer alias Esther. (Paramount+ via IMDb)
Orphan: First Kill pun hanya fokus pada peran manipulatif Esther di keluarga Albright. Nama keluarga itu banyak disebut dalam film pertama 2009 lalu. First Kill pun berlatar pada 2007, dua tahun sebelum Esther datang dan menghabisi kembali sebuah keluarga Amerika.
Dengan keterkaitan ini, First Kill memungkinkan memuaskan penonton terkait informasi yang lebih gamblang soal Esther terlepas dari permasalahan ceritanya.
Jika Leena Klammer atau Esther adalah tokoh nyata, maka Orphan: First Kill adalah biopik nomor satu yang pernah saya tonton.
Namun sayang, sosok Esther tentu terlalu kejam untuk dihadirkan dalam kehidupan nyata. Demikian pula dengan alur ceritanya. Pencinta plot twist ala film dark atau witty comedy tentu mudah untuk mengernyitkan dahi.
Meski begitu, saya masih sedikit optimis bahwasanya First Kill hanyalah jembatan menuju cerita yang lebih dalam di semesta Orphan.
Terlepas dari itu, apresiasi dari saya untuk Isabelle Fuhrman yang sukses kembali memerankan peran ikonis tersebut. Beberapa pemeran pembantu seperti Julia Stiles dan Rossif Sutherland juga sukses mendapuk peran vital dalam "biografi Esther" ini.
Tak jarang, duo penulis naskah McGoldrick dan Mace memberikan ruang bagi Stiles untuk menafsirkan ironi khas perempuan Kaukasia dari kalangan atas di Connecticut, AS.
Karakter Tricia Albright yang dimainkan oleh Stiles seakan menjadi protagonis dadakan, ketika obsesi Esther akan darah dan penyiksaan semakin menjadi-jadi. Hal itu tentu dibutuhkan di masa kini, yang "mewajibkan" political dan cultural correctness untuk hadir di segala aspek.
Seluruh tim produksi di Orphan: First Kill seakan menangkap keinginan para woke activists untuk menonjolkan peran utama perempuan di tiap karya seni. Satire atau ironi? Tentu pilihan Anda untuk menginterpretasi.
Singkat kalimat, menonton Orphan: First Kill akan terasa sempurna apabila menyaksikan lagi film Orphan (2009) tepat setelahnya.
Ketika dua film ini berhasil Anda saksikan dalam satu periode waktu, maka Anda akan merasakan nikmatnya menjadi megalomania ala Esther dengan cara yang jauh lebih bersahaja.