Nama mendiang Korinus Mandosir baru diketahui sebagai pencipta asli lagu Apuse, yang mana kiprahnya selama ini tak banyak dikenal oleh publik.
Pasalnya, nama pencipta lagu asal Papua itu yang selama ini dikenal adalah N/N alias nomen nescio yang bermakna "tidak diketahui". Kondisi itu berarti tidak ada pihak yang mengklaim sebagai pemilik Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang sah.
Upaya ini sejatinya sempat diinisiasi oleh salah satu kerabat terdekat Korinus, Denny Yomaki. Namun Denny mengatakan bahwa pengakuan hak cipta tersebut bukanlah prioritas bagi sosok Korinus.
"Saya sempat bilang sama beliau, 'Bagaimana bila, Bapak sebagai yang mempunyai lagu ini, kita urus HAKI-nya, urus hak ciptanya?'," kata Denny kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/9).
"Tapi beliau kemudian bilang sama saya, 'Kita pencipta lagu itu tidak perlu untuk sibuk dengan barang-barang begitu. Paling penting itu orang bisa bernyanyi dan senang dengan lagu yang kita ciptakan'," lanjutnya.
Lebih lanjut, Denny menerangkan soal proses kreatif di balik penciptaan lagu Apuse yang dikerjakan di Kampung Sowek, Biak oleh mendiang Korinus.
Saat itu, Korinus yang sedang menjalani masa-masa awal karier sebagai guru, sangat ingin untuk membagikan semangat dalam menuntut ilmu setinggi mungkin kepada anak-anak yang mendiami kampung itu.
"Lagu itu sebenarnya mau mengajak anak-anak yang mau pergi sekolah ke Manokwari, atau anak-anak pada saat itu menyebutnya Doreri, supaya mereka pergi sekolah harus ingat orang tua," kata Denny.
"Mereka pergi ke sekolah itu ada tujuan, tidak sekadar pergi saja, sehingga bisa bersekolah dengan baik. Jadi itu tujuan dia [Korinus Mandosir] menciptakan lagu pada saat itu," lanjut Denny.
Atas dasar tersebut, upaya untuk mendaftarkan HAKI untuk lagu Apuse pun tak pernah kunjung terlaksana hingga akhir hayat sang kreator lagu pada Rabu (14/9) di Biak.
Lanjut ke sebelah...
"Sampai hari ini karena dia tidak pernah mau menonjolkan dirinya, orang tidak paham siapa sebenarnya yang menciptakan lagu itu," cerita Danny.
"Makanya kalau setiap penulisannya, orang hanya mencantumkan anonimus atau N/N saja. Saya cerita ini sama beliau itu kira-kira mulai tiga tahun lalu," lanjutnya.
Nada lagu Apuse sendiri dikenal luas sebagai nada ikonis dari lagu Garuda di Dadaku yang dipopulerkan oleh Netral (kini NTRL) sebagai lagu tema untuk film berjudul sama.
Selain itu, nada lagu Apuse juga menginspirasi sejumlah suporter tim --khususnya sepak bola-- untuk membuatkan lagu guna mendukung klub masing-masing.
Hal itu juga yang mendasari NTRL untuk mempergunakan nada lagu Apuse sebagai aransemen dasar lagu Garuda di Dadaku.
Ketika dihubungi secara terpisah oleh CNNIndonesia.com, pihak NTRL mengakui bahwa Garuda di Dadaku merupakan hasil gubahan dari Ferry Paulus, sosok suporter senior Persija Jakarta.
"Sejarahnya, lagu ini diciptakan untuk keperluan OST. Garuda di Dadaku, yang bekerja sama dengan banyak pihak termasuk Persija," ungkap perwakilan manajemen NTRL.
"Pencipta Apuse sendiri N/N, berdasarkan data di WAMI dan lembaga-lembaga hukum hak cipta lainnya. Jadi itu digubah oleh Mas Ferry Persija, dan kami mengikuti versi beliau. Jadi itu didasarkan dari yel-yel Persija," lanjutnya.
Pencipta lagu Apuse, Korinus Mandosir meninggal dunia pada usia 82 tahun di sebuah rumah sakit di Pulau Biak, Papua, Rabu (14/9). Ia meninggalkan empat anak: Hellena Fransina Mandosir, Yohanis Samuel Mandosir, Wellem Laurens Mandosir, dan Katerina Yosepina Mandosir.
Menurut penuturan Yohanis kepada CNNIndonesia.com, jenazah Korinus diberangkatkan dari Biak ke Kampung Pamdi, Kabupaten Supiori, pada Jumat (16/9). Korinus akan dimakamkan di samping pusara istrinya di sana pada Sabtu (17/9).
Jakarta, CNN Indonesia --
Nama mendiang Korinus Mandosir baru diketahui sebagai pencipta asli lagu Apuse, yang mana kiprahnya selama ini tak banyak dikenal oleh publik.
Pasalnya, nama pencipta lagu asal Papua itu yang selama ini dikenal adalah N/N alias nomen nescio yang bermakna "tidak diketahui". Kondisi itu berarti tidak ada pihak yang mengklaim sebagai pemilik Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang sah.
Upaya ini sejatinya sempat diinisiasi oleh salah satu kerabat terdekat Korinus, Denny Yomaki. Namun Denny mengatakan bahwa pengakuan hak cipta tersebut bukanlah prioritas bagi sosok Korinus.
"Saya sempat bilang sama beliau, 'Bagaimana bila, Bapak sebagai yang mempunyai lagu ini, kita urus HAKI-nya, urus hak ciptanya?'," kata Denny kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/9).
"Tapi beliau kemudian bilang sama saya, 'Kita pencipta lagu itu tidak perlu untuk sibuk dengan barang-barang begitu. Paling penting itu orang bisa bernyanyi dan senang dengan lagu yang kita ciptakan'," lanjutnya.
Lebih lanjut, Denny menerangkan soal proses kreatif di balik penciptaan lagu Apuse yang dikerjakan di Kampung Sowek, Biak oleh mendiang Korinus.
Saat itu, Korinus yang sedang menjalani masa-masa awal karier sebagai guru, sangat ingin untuk membagikan semangat dalam menuntut ilmu setinggi mungkin kepada anak-anak yang mendiami kampung itu.
"Lagu itu sebenarnya mau mengajak anak-anak yang mau pergi sekolah ke Manokwari, atau anak-anak pada saat itu menyebutnya Doreri, supaya mereka pergi sekolah harus ingat orang tua," kata Denny.
"Mereka pergi ke sekolah itu ada tujuan, tidak sekadar pergi saja, sehingga bisa bersekolah dengan baik. Jadi itu tujuan dia [Korinus Mandosir] menciptakan lagu pada saat itu," lanjut Denny.
Atas dasar tersebut, upaya untuk mendaftarkan HAKI untuk lagu Apuse pun tak pernah kunjung terlaksana hingga akhir hayat sang kreator lagu pada Rabu (14/9) di Biak.
Lanjut ke sebelah...
Nasib Lagu Apuse Dipakai Garuda di Dadaku
NTRL pernah menggarap lagu Garuda di Dadaku yang menggunakan nada lagu Apuse. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
"Sampai hari ini karena dia tidak pernah mau menonjolkan dirinya, orang tidak paham siapa sebenarnya yang menciptakan lagu itu," cerita Danny.
"Makanya kalau setiap penulisannya, orang hanya mencantumkan anonimus atau N/N saja. Saya cerita ini sama beliau itu kira-kira mulai tiga tahun lalu," lanjutnya.
Nada lagu Apuse sendiri dikenal luas sebagai nada ikonis dari lagu Garuda di Dadaku yang dipopulerkan oleh Netral (kini NTRL) sebagai lagu tema untuk film berjudul sama.
Selain itu, nada lagu Apuse juga menginspirasi sejumlah suporter tim --khususnya sepak bola-- untuk membuatkan lagu guna mendukung klub masing-masing.
Hal itu juga yang mendasari NTRL untuk mempergunakan nada lagu Apuse sebagai aransemen dasar lagu Garuda di Dadaku.
Ketika dihubungi secara terpisah oleh CNNIndonesia.com, pihak NTRL mengakui bahwa Garuda di Dadaku merupakan hasil gubahan dari Ferry Paulus, sosok suporter senior Persija Jakarta.
"Sejarahnya, lagu ini diciptakan untuk keperluan OST. Garuda di Dadaku, yang bekerja sama dengan banyak pihak termasuk Persija," ungkap perwakilan manajemen NTRL.
"Pencipta Apuse sendiri N/N, berdasarkan data di WAMI dan lembaga-lembaga hukum hak cipta lainnya. Jadi itu digubah oleh Mas Ferry Persija, dan kami mengikuti versi beliau. Jadi itu didasarkan dari yel-yel Persija," lanjutnya.
Pencipta lagu Apuse, Korinus Mandosir meninggal dunia pada usia 82 tahun di sebuah rumah sakit di Pulau Biak, Papua, Rabu (14/9). Ia meninggalkan empat anak: Hellena Fransina Mandosir, Yohanis Samuel Mandosir, Wellem Laurens Mandosir, dan Katerina Yosepina Mandosir.
Menurut penuturan Yohanis kepada CNNIndonesia.com, jenazah Korinus diberangkatkan dari Biak ke Kampung Pamdi, Kabupaten Supiori, pada Jumat (16/9). Korinus akan dimakamkan di samping pusara istrinya di sana pada Sabtu (17/9).