Bikin Konten hingga Prank KDRT, Kreatif atau 'Desperate' Demi Cuan?
CNN Indonesia
Rabu, 05 Okt 2022 09:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Menurut pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, banjir konten dari para konten kreator dadakan ini amat dipengaruhi dengan perkembangan teknologi yang makin canggih. (AP Photo/Fernando Vergara)
"Persoalannya, karena kita 2020 mendadak digital, banyak orang yang tidak paham," kata Devie. "Itu butuh waktu untuk kemudian mengedukasi masyarakat,"
"Inilah yang kemudian terjadi seperti yang kita lihat sekarang, yang mana sayangnya dilakukan oleh tokoh masyarakat," lanjut Devie.
Terlepas dari "mendadak digital" seperti yang diucap Devi, masalah per-konten-an juga tak bisa terlepas dari aspek kreativitas yang mestinya menjadi nyawa utama sebuah produk hasil kreasi.
Menurut Kritikus Film yang juga anggota Dewan Kesenian Jakarta, Hikmat Darmawan, tak semua konten yang diciptakan kreator konten bisa langsung disebut sebagai bentuk "kreativitas".
Bagi Hikmat, "produk kreatif" bukan sekadar bisa membuat sesuatu. Perlu ada gagasan dan tujuan yang mendorong terciptanya konten tersebut, serta tentu saja tidak sebatas hasrat untuk memproduksi konten.
"Di samping mencipta, kan ada tujuannya. Kalau sekadar hanya didera untuk meraih sebanyak mungkin perhatian, itu kan cuma jadi binatang ekonomi aja gitu," kata Hikmat.
"Dalam konteks itu, konotasi kreativitas dengan kemerdekaan tidak terjadi. Yang terjadi desakan, deraan, untuk berproduksi konten," lanjutnya.
Kreator Konten = Bertanggung Jawab Akan Konten
Kini, konten-konten di internet banyak bukan hanya minim kreativitas, tetapi juga tanggung jawab dari para kreatornya.
Ambil contoh Baim Wong yang punya puluhan juta pelanggan, sudah sepatutnya bertanggung jawab akan segala dampak dari kontennya yang bisa memengaruhi puluhan juta orang penontonnya serta lingkungannya.
Tanggung jawab itu pun bukan hanya berlaku bagi para kreator konten dengan jumlah pelanggan jutaan. Siapapun mereka yang sudah memiliki pengikut, berapa pun, semestinya menyadari akan dampak dari segala yang mereka tampilkan ke hadapan publik.
Devie mengaitkan tanggung jawab itu dengan teori patron klien, yang kemudian diibaratkan dengan hubungan antara lokomotif dengan gerbong.
Dalam konteks ini, kreator konten adalah lokomotif yang punya kendali penuh atas penggemar alias gerbongnya. Hubungan itu disebut Devie erat hubungannya dengan kultur masyarakat timur seperti Indonesia.
"Di kultur masyarakat timur, orang yang punya pengaruh sosial kuat seperti konten kreator, itu menjadi lokomotif kehidupan," kata Devie.
"Memang ketika Anda menjadi tokoh sosial, suka tidak suka Anda punya tanggung jawab moral sosial dan bahkan hukum untuk memastikan agar masyarakat yang menjadi gerbong Anda memiliki perilaku yang sehat secara moral, sosial, dan juga tidak melanggar hukum," lanjutnya.
Tanggung jawab itu juga dipicu karena hingga saat ini belum ada asosiasi yang menaungi kreator konten. Hikmat menilai kehadiran asosiasi penting untuk mengawasi kreator konten, salah satunya dengan menerbitkan kode etik.
Kode etik juga dinilai penting karena bisa menjadi alat kontrol bagi kreator yang doyan membuat konten tak bernilai.
"Kalau sekarang boro-boro ada asosiasi, emang sekarang ada profesinya?" kata Hikmat. "Kalau lah tidak ada kode etik profesi, lantas kanalnya apa untuk etik itu bicara. Sejauh ini kita hanya mengandalkan sanksi sosial."
(frl/end)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lagi-lagi Baim Wong memicu emosi publik. Apalagi kalau bukan karena konten YouTube teranyarnya, berisi prank atau lelucon dengan pura-pura menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan melapor ke polisi.
Buahnya? Baim Wong banjir hujatan. Bahkan yang terbaru, Baim Wong dipolisikan karena dianggap membuat aduan palsu dan dijerat dengan Pasal 220 KUHP yang berisi ancaman 1-4 bulan penjara.
Kecaman publik pun datang bukan hanya karena itu dianggap mempermainkan dan menganggap bercanda kasus KDRT, tetapi juga dirilis saat teman Baim Wong, Lesti Kejora diduga menjadi korban KDRT oleh Rizky Billar.
Meski Baim Wong telah mengakui salah, seperti yang sudah-sudah, tapi proses hukum tetap berlanjut. Kini muncul pertanyaan, apakah se-desperate itu seorang kreator dalam menghasilkan konten untuk mereguk cuan?
Menurut pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, banjir konten dari para konten kreator dadakan ini amat dipengaruhi dengan perkembangan teknologi yang makin canggih.
Teknologi internet, apalagi media sosial, mendorong banyak orang untuk bisa jadi 'artis' atau 'kreator' dadakan, yang mungkin sebelumnya sebagian dari mereka tidak memiliki basis pengetahuan atau pengalaman yang cukup.
Dengan menjadi 'artis' atau 'kreator' dadakan tersebut, sebagian dari mereka akan mendapatkan atensi dari pengguna internet alias 'publik'.
Atensi ini yang menjadi bahan bakar para kreator untuk terus memproduksi konten. Bagi mereka yang sudah punya banyak pengikut, atensi ini pun diubah menjadi 'iklan' atau yang beken disebut adsense atau endorsement.
"Mendapatkan perhatian di era sekarang mudah sekali, karena teknologi memfasilitasi hal tersebut. Kita punya kekuatan untuk bisa menembus ruang waktu untuk mendapatkan perhatian banyak pihak," kata Devie.
"Untuk mendapat perhatian tadi, cara paling mudah dengan membuat konten. Ini yang kemudian membuat setiap orang berlomba-lomba melakukan inovasi," lanjutnya.
Sayangnya, segala hal yang serba cepat itu kerap membuat para kreator terlena. Mereka pun seolah abai dengan aspek penting, seperti unsur kreativitas hingga nilai etis dari konten yang digarap.
Mendadak Digital
'Miskin' nilai itu pun terlihat bukan hanya dari konten teranyar Baim Wong ini. Banyak para pembuat konten YouTube atau media sosial lainnya yang menjual dan melakukan segala macam cara sebagai bahan konten. Paling sering? gimik.
Misalnya saja, prank sembako palsu, berdandan ala gelandangan, hingga prank menghentikan truk di jalan raya yang menjadi tren hingga merenggut banyak nyawa.
Belum lagi soal drama-drama percintaan atau keluarga, menangis di depan kamera sembari curhat diputus cinta, dilamar kekasih dengan hujan barang mewah, pamer-pamer kemewahan, ribut-ribut anggota keluarga, hingga bongkar aib sendiri.
Segala konten yang dulu sering jadi bahan hinaan publik karena muncul di televisi dan media pun berpindah ke internet. Konten-konten berfaedah pun tenggelam dengan konten drama bin gimik yang mendapat dorongan 'promosi' algoritma karena views yang jutaan.
Apalagi, perubahan kehidupan manusia secara mendadak akibat pandemi selama dua tahun terakhir juga mendorong tren tersebut.
Berapa banyak selebritas yang mendadak jadi pembuat podcast atau konten kreator di YouTube? Berapa banyak anak-anak sekolah justru didorong untuk menjadi YouTuber atau influencer alih-alih dokter, guru, seniman, atau pengusaha?
Lanjut ke sebelah...
Tak Semua Konten Bisa Disebut Bentuk Kreativitas
Ilustrasi. Menurut pengamat perfilman dan budaya populer Hikmat Darmawan, tak semua konten yang diciptakan kreator konten bisa langsung disebut sebagai bentuk
"Persoalannya, karena kita 2020 mendadak digital, banyak orang yang tidak paham," kata Devie. "Itu butuh waktu untuk kemudian mengedukasi masyarakat,"
"Inilah yang kemudian terjadi seperti yang kita lihat sekarang, yang mana sayangnya dilakukan oleh tokoh masyarakat," lanjut Devie.
Terlepas dari "mendadak digital" seperti yang diucap Devi, masalah per-konten-an juga tak bisa terlepas dari aspek kreativitas yang mestinya menjadi nyawa utama sebuah produk hasil kreasi.
Menurut Kritikus Film yang juga anggota Dewan Kesenian Jakarta, Hikmat Darmawan, tak semua konten yang diciptakan kreator konten bisa langsung disebut sebagai bentuk "kreativitas".
Bagi Hikmat, "produk kreatif" bukan sekadar bisa membuat sesuatu. Perlu ada gagasan dan tujuan yang mendorong terciptanya konten tersebut, serta tentu saja tidak sebatas hasrat untuk memproduksi konten.
"Di samping mencipta, kan ada tujuannya. Kalau sekadar hanya didera untuk meraih sebanyak mungkin perhatian, itu kan cuma jadi binatang ekonomi aja gitu," kata Hikmat.
"Dalam konteks itu, konotasi kreativitas dengan kemerdekaan tidak terjadi. Yang terjadi desakan, deraan, untuk berproduksi konten," lanjutnya.
Kini, konten-konten di internet banyak bukan hanya minim kreativitas, tetapi juga tanggung jawab dari para kreatornya.
Ambil contoh Baim Wong yang punya puluhan juta pelanggan, sudah sepatutnya bertanggung jawab akan segala dampak dari kontennya yang bisa memengaruhi puluhan juta orang penontonnya serta lingkungannya.
Tanggung jawab itu pun bukan hanya berlaku bagi para kreator konten dengan jumlah pelanggan jutaan. Siapapun mereka yang sudah memiliki pengikut, berapa pun, semestinya menyadari akan dampak dari segala yang mereka tampilkan ke hadapan publik.
Devie mengaitkan tanggung jawab itu dengan teori patron klien, yang kemudian diibaratkan dengan hubungan antara lokomotif dengan gerbong.
Dalam konteks ini, kreator konten adalah lokomotif yang punya kendali penuh atas penggemar alias gerbongnya. Hubungan itu disebut Devie erat hubungannya dengan kultur masyarakat timur seperti Indonesia.
"Di kultur masyarakat timur, orang yang punya pengaruh sosial kuat seperti konten kreator, itu menjadi lokomotif kehidupan," kata Devie.
"Memang ketika Anda menjadi tokoh sosial, suka tidak suka Anda punya tanggung jawab moral sosial dan bahkan hukum untuk memastikan agar masyarakat yang menjadi gerbong Anda memiliki perilaku yang sehat secara moral, sosial, dan juga tidak melanggar hukum," lanjutnya.
Tanggung jawab itu juga dipicu karena hingga saat ini belum ada asosiasi yang menaungi kreator konten. Hikmat menilai kehadiran asosiasi penting untuk mengawasi kreator konten, salah satunya dengan menerbitkan kode etik.
Kode etik juga dinilai penting karena bisa menjadi alat kontrol bagi kreator yang doyan membuat konten tak bernilai.
"Kalau sekarang boro-boro ada asosiasi, emang sekarang ada profesinya?" kata Hikmat. "Kalau lah tidak ada kode etik profesi, lantas kanalnya apa untuk etik itu bicara. Sejauh ini kita hanya mengandalkan sanksi sosial."