Scarlett Johansson Curhat kala Jadi Korban Hiperseksual Hollywood
CNN Indonesia
Rabu, 12 Okt 2022 00:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Scarlett Johansson mengungkapkan perasaannya menjadi korban hiperseksual sejak masih menjadi aktris cilik. (Foto: Theo Wargo/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Scarlett Johansson mengungkapkan perasaannya menjadi korban hiperseksual sejak masih menjadi aktris cilik. Hal tersebut membuat Johansson merasa kariernya sebagai seorang aktris terancam.
Selain merasa di objektifikasi, Johansson juga merasa disisihkan oleh industri perfilman Hollywood. Hal-hal tersebut ia beberkan ketika menjadi bintang tamu acara podcast Armchair Expert milik Dax Shepard.
"Saya agak diobjektifikasi dan disisihkan di mana saya merasa saya tidak mendapatkan tawaran untuk pekerjaan yang ingin saya lakukan," jelas Scarlett Johansson, seperti dikutip dari ET pada Senin (10/10).
"Saya ingat berpikir dalam hati, 'Saya merasa orang mengira saya berusia 40 tahun'. Entah bagaimana menjadi sesuatu yang ingin saya lawan," lanjutnya.
Karena orang-orang sering menganggap Scarlett Johansson berusia lebih tua daripada kelihatannya, sang aktris merasa menjadi mendapatkan perlakuan hiperseksual.
"Saya merasa (karier saya) sudah berakhir," ujarnya. "Itu seperti, 'Ini jenis karier yang Anda miliki, ini adalah peran yang telah Anda mainkan'."
Scarlett Johansson memulai kariernya sebagai seorang aktris pada 1994 ketika ia masih berusia sembilan tahun. Film pertama yang ia bintangi berjudul North.
Namun, namanya mulai sukses ketika ia berperan dalam film garapan sutradara Sofia Coppola yang berjudul Lost in Translation (2003). Johansson, yang masih berusia 17 tahun saat itu, mendapatkan peran yang usianya lima tahun lebih tua darinya.
Sejak saat itu, Scarlett Johansson sudah memiliki daftar panjang film layar lebar yang ia bintangi. Setelah berkarier selama hampir 30 tahun sebagai aktris, ia merasa sudah ada perubahan yang terjadi di industri perfilman Hollywood dalam memperlakukan para aktrisnya.
Lanjut ke sebelah...
Tidak hanya perlakuannya, tapi juga bagaimana pembuat film menuliskan karakter-karakter perempuan ke dalam filmnya. Scarlett Johansson menilai karakter perempuan sekarang tidak lagi ditulis sebagai seorang rekan yang memiliki paras cantik.
"Sekarang aku memperhatikan aktor-aktor muda berusia 20-an tahun. Rasanya mereka diizinkan untuk menjadi semua hal yang berbeda ini," kata Johansson.
"Ini juga waktu yang berbeda. Untungnya kami bahkan tidak lagi bisa mengecoh aktor lain, 'kan? Orang-orang sekarang jauh lebih dinamis," sambungnya.
Meski demikian, Scarlett Johansson merasa industri perfilman Hollywood masih memiliki banyak tugas yang harus dirampungkan dalam menjaga para aktrisnya.
Sehingga, para aktris bisa merasa aman di lokasi syuting dan mencegah pria tidak menyalahgunakan kekuasaannya dari para aktor dan aktris muda.
"Kita hidup dalam sistem patriarki dan saya merasa seperti ada realita mendasar dari kondisi perempuan yang akan selalu masih ada secara fundamental, bahkan jika 600 pria tidak secara bersikap aktif agresif seperti yang mereka lakukan beberapa menit lalu," jelas Johansson.
"Ini sangat terpatri dalam budaya dan masyarakat kita. Sulit bagi saya untuk membayagkan bahwa itu tidak pernah lagi menjadi elemen kehidupan," lanjutnya.
"Saya telah menyadari bahwa penting untuk memahami kemajuan dan perubahan ketika itu benar-benar berarti, butuh dua langkah ke depan dan dua langkah ke belakang, kemudian itu membaik lalu memburuk," katanya.
"Saya pikir jika Anda tidak memberikan ruang bagi orang untuk mengetahuinya, maka perubahan progresif yang sebenarnya tidak benar-benar terjadi," tegasnya.
Scarlett Johansson mengungkapkan perasaannya menjadi korban hiperseksual sejak masih menjadi aktris cilik. Hal tersebut membuat Johansson merasa kariernya sebagai seorang aktris terancam.
Selain merasa di objektifikasi, Johansson juga merasa disisihkan oleh industri perfilman Hollywood. Hal-hal tersebut ia beberkan ketika menjadi bintang tamu acara podcast Armchair Expert milik Dax Shepard.
"Saya agak diobjektifikasi dan disisihkan di mana saya merasa saya tidak mendapatkan tawaran untuk pekerjaan yang ingin saya lakukan," jelas Scarlett Johansson, seperti dikutip dari ET pada Senin (10/10).
"Saya ingat berpikir dalam hati, 'Saya merasa orang mengira saya berusia 40 tahun'. Entah bagaimana menjadi sesuatu yang ingin saya lawan," lanjutnya.
Karena orang-orang sering menganggap Scarlett Johansson berusia lebih tua daripada kelihatannya, sang aktris merasa menjadi mendapatkan perlakuan hiperseksual.
"Saya merasa (karier saya) sudah berakhir," ujarnya. "Itu seperti, 'Ini jenis karier yang Anda miliki, ini adalah peran yang telah Anda mainkan'."
Scarlett Johansson memulai kariernya sebagai seorang aktris pada 1994 ketika ia masih berusia sembilan tahun. Film pertama yang ia bintangi berjudul North.
Namun, namanya mulai sukses ketika ia berperan dalam film garapan sutradara Sofia Coppola yang berjudul Lost in Translation (2003). Johansson, yang masih berusia 17 tahun saat itu, mendapatkan peran yang usianya lima tahun lebih tua darinya.
Sejak saat itu, Scarlett Johansson sudah memiliki daftar panjang film layar lebar yang ia bintangi. Setelah berkarier selama hampir 30 tahun sebagai aktris, ia merasa sudah ada perubahan yang terjadi di industri perfilman Hollywood dalam memperlakukan para aktrisnya.
Lanjut ke sebelah...
Harapan Scarlett Johansson
Scarlett Johansson mengungkapkan perasaannya menjadi korban hiperseksual sejak masih menjadi aktris cilik. (Foto: AFP PHOTO / Andrew CABALLERO-REYNOLDS)
Tidak hanya perlakuannya, tapi juga bagaimana pembuat film menuliskan karakter-karakter perempuan ke dalam filmnya. Scarlett Johansson menilai karakter perempuan sekarang tidak lagi ditulis sebagai seorang rekan yang memiliki paras cantik.
"Sekarang aku memperhatikan aktor-aktor muda berusia 20-an tahun. Rasanya mereka diizinkan untuk menjadi semua hal yang berbeda ini," kata Johansson.
"Ini juga waktu yang berbeda. Untungnya kami bahkan tidak lagi bisa mengecoh aktor lain, 'kan? Orang-orang sekarang jauh lebih dinamis," sambungnya.
Meski demikian, Scarlett Johansson merasa industri perfilman Hollywood masih memiliki banyak tugas yang harus dirampungkan dalam menjaga para aktrisnya.
Sehingga, para aktris bisa merasa aman di lokasi syuting dan mencegah pria tidak menyalahgunakan kekuasaannya dari para aktor dan aktris muda.
"Kita hidup dalam sistem patriarki dan saya merasa seperti ada realita mendasar dari kondisi perempuan yang akan selalu masih ada secara fundamental, bahkan jika 600 pria tidak secara bersikap aktif agresif seperti yang mereka lakukan beberapa menit lalu," jelas Johansson.
"Ini sangat terpatri dalam budaya dan masyarakat kita. Sulit bagi saya untuk membayagkan bahwa itu tidak pernah lagi menjadi elemen kehidupan," lanjutnya.
"Saya telah menyadari bahwa penting untuk memahami kemajuan dan perubahan ketika itu benar-benar berarti, butuh dua langkah ke depan dan dua langkah ke belakang, kemudian itu membaik lalu memburuk," katanya.
"Saya pikir jika Anda tidak memberikan ruang bagi orang untuk mengetahuinya, maka perubahan progresif yang sebenarnya tidak benar-benar terjadi," tegasnya.