Meski berangkat dari kegemaran akan grup idol Jepang, Wotagei tidak menampilkan gerakan tarian asal-asalan. (DanceWithNyanko via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0))
Gerakan tersebut adalah Over Action Dolphin (OAD), Rosario, Muramasa, Amaterasu Kai, Thunder Snake, Requiem, Tsukouyomi, dan Romansu. Gerakan ini, kata Eric, gerakan paling umum dipakai pada lagu-lagu JKT48.
Selain itu, terdapat juga sejumlah gerakan yang termasuk kategori sulit. Beberapa di antaranya Shiranui, Makibishi, dan Ouka.
"Untuk kalangan pemula, mereka harus belajar dari yang basic dulu jangan langsung ke gerakan susah," ujar Eric. "Takutnya nanti kalau diajak kolaborasi, enggak tahu basic-nya. Biasanya kalau yang pemula itu sebulan [baru lancar],"
Hobi wotagei yang digeluti Eric dan anggota Death Crow lainnya telah membuahkan berbagai pengalaman manis. Mereka berhasil mewujudkan mimpi yang diidamkan penggemar lain, yakni semakin dekat dengan sang idola.
Berkat keuletan menekuni wotagei selama nyaris satu dekade, komunitas itu bahkan sudah beberapa kali tampil satu panggung dengan JKT48.
"Untuk wotagei ini, kami dari Death Crow sering tampil wotagei di event Jejepangan," ungkap Eric. "Kami juga pernah kolab bareng JKT48 di HUT Trans TV tahun 2016 lalu, pernah kolab juga di acara TV swasta lain,"
Demam wotagei pun tidak hanya menyebar di kalangan penggemar, tetapi juga anggota JKT48. Eric mengungkapkan selama ini wotagei mendapat respons positif dari idola mereka.
Beberapa anggota JKT48 juga begitu antusias hingga ikut mempelajari gerakan-gerakan tersebut. Bahkan, ada sejumlah anggota yang memang sudah aktif menggeluti wotagei sejak belum aktif di JKT48.
"Kalau yang sekarang ini yang sedikit bisa itu seperti Azizi JKT48, Fiony JKT48," ungkap Eric. "Kalau yang dulu dan sudah graduate itu seperti Fia JKT48, Desy JKT48, mereka anak wotagei juga tapi sudah lulus,"
Namun hobi yang digeluti Eric dan penggemar JKT48 lainnya itu sayangnya masih kerap mendapat komentar miring.
Beragam cibiran itu umumnya memandang sebelah mata hingga meledek gerak lightstick fan JKT48 saat ber-wotagei. Meski begitu, Eric tak ambil pusing dengan omongan-omongan tersebut.
Padahal gerakan wotagei tak bisa dibilang mudah. Butuh hafalan dan disiplin latihan untuk bisa menguasai gerakan, serta kekompakan dengan yang lain untuk bisa membuahkan gerakan estetis. Tak lupa, banjir keringat di setiap latihan.
"Buat yang kontra, mungkin karena mereka belum tahu seni dari wotagei ini seperti apa. Mungkin mereka anggap ini gerakan enggak jelas," kata Eric. "Tapi kami anggapnya selain seni, ini juga olahraga. Jadi sambil nonton idol, olahraga juga."
Sorot cahaya dari lightstick berpendar di salah satu sudut Taman Dukuh Atas, Jakarta Selatan. Pada suatu malam November 2022, sekumpulan pemuda berkumpul di tengah lalu-lalang para pekerja di kawasan bisnis itu.
Kedua tangan mereka menggenggam sepasang lightstick dengan beragam warna. Lagu Ponytail to Shu-Shu dari JKT48 kemudian terdengar dari sebuah pengeras suara yang mereka bawa.
Dengan penuh energi, tangan-tangan mereka mengayun dengan koreografi tertentu yang apik seirama dengan melodi lagu. Cahaya lightstick yang keluar dramatis dari tangan mereka pun menarik minat beberapa pelalu-lalang
Aksi itu dikenal dengan sebutan wotagei, sebuah gerakan yang menjadi ekspresi penggemar grup idol Jepang. Di Indonesia, ekspresi ini populer di kalangan penggemar JKT48 sejak idol group itu debut lebih dari satu dekade silam.
Sekumpulan pemuda yang beraksi di Taman Dukuh Atas itu juga bagian dari fan JKT48 yang gemar melakukan wotagei. Mereka tergabung dalam salah satu komunitas wotagei pertama di Indonesia, Death Crow.
Komunitas itu dipimpin Eric, salah satu penggemar yang aktif mendukung JKT48 sejak 2012. Bahkan jauh sebelum itu, dia sudah lama menggeluti kultur pop Jepang termasuk AKB48 yang merupakan sister group JKT48.
"Saya penyuka Jejepangan [hal budaya Jepang] dari kecil. Saya juga tahu AKB48 sebelum ada JKT48," kata Eric kepada CNNIndonesia.com pada malam itu.
Perkenalan Eric dengan dunia wotagei berawal dari perbincangannya bersama sesama penggemar AKB48. Ia pun mulai mempelajari gerakan-gerakan dasar wotagei bermodal video tutorial di YouTube.
Hari demi hari berlalu, Eric dan penggemar lain mulai mengadopsi wotagei untuk lagu-lagu JKT48. Seni tari itu kemudian mulai semarak seiring dengan popularitas idol group tersebut.
"Wota itu penggemar idol group dari Jepang. Gei itu seni. Jadi wotagei itu seni dari penggemar idol group Jepang," Eric Crow, pegiat Wotagei
"Wota itu penggemar idol group dari Jepang. Gei itu seni. Jadi wotagei itu seni dari penggemar idol group Jepang," ucap Eric.
"Biasanya fan AKB48 melakukan gerakan menggunakan lightstick. Tradisi AKB48 itu saya bawa sampai saat JKT48 ada, kami lalu kembangkan wotagei," lanjutnya.
Pada dasarnya, tidak semua lagu JKT48 bisa dipakai untuk mengiringi gerakan wotagei. Kata Eric, kebanyakan lagu yang cocok untuk wotagei memiliki tempo relatif cepat, di antaranya seperti Ponytail to Shu-Shu, Heavy Rotation, hingga Maafkan, Summer.
Wotagei juga tidak menampilkan gerakan tarian asal-asalan. Eric menjelaskan setidaknya ada delapan gerakan dasar wotagei yang seluruhnya diadopsi dari Jepang.
Lanjut ke sebelah...
'Selain Seni, Ini Juga Olahraga'
Meski berangkat dari kegemaran akan grup idol Jepang, Wotagei tidak menampilkan gerakan tarian asal-asalan. (Tangkapan Layar Instagram @death.crow.wotagei)
Gerakan tersebut adalah Over Action Dolphin (OAD), Rosario, Muramasa, Amaterasu Kai, Thunder Snake, Requiem, Tsukouyomi, dan Romansu. Gerakan ini, kata Eric, gerakan paling umum dipakai pada lagu-lagu JKT48.
Selain itu, terdapat juga sejumlah gerakan yang termasuk kategori sulit. Beberapa di antaranya Shiranui, Makibishi, dan Ouka.
"Untuk kalangan pemula, mereka harus belajar dari yang basic dulu jangan langsung ke gerakan susah," ujar Eric. "Takutnya nanti kalau diajak kolaborasi, enggak tahu basic-nya. Biasanya kalau yang pemula itu sebulan [baru lancar],"
Hobi wotagei yang digeluti Eric dan anggota Death Crow lainnya telah membuahkan berbagai pengalaman manis. Mereka berhasil mewujudkan mimpi yang diidamkan penggemar lain, yakni semakin dekat dengan sang idola.
Berkat keuletan menekuni wotagei selama nyaris satu dekade, komunitas itu bahkan sudah beberapa kali tampil satu panggung dengan JKT48.
"Untuk wotagei ini, kami dari Death Crow sering tampil wotagei di event Jejepangan," ungkap Eric. "Kami juga pernah kolab bareng JKT48 di HUT Trans TV tahun 2016 lalu, pernah kolab juga di acara TV swasta lain,"
Demam wotagei pun tidak hanya menyebar di kalangan penggemar, tetapi juga anggota JKT48. Eric mengungkapkan selama ini wotagei mendapat respons positif dari idola mereka.
Beberapa anggota JKT48 juga begitu antusias hingga ikut mempelajari gerakan-gerakan tersebut. Bahkan, ada sejumlah anggota yang memang sudah aktif menggeluti wotagei sejak belum aktif di JKT48.
"Kalau yang sekarang ini yang sedikit bisa itu seperti Azizi JKT48, Fiony JKT48," ungkap Eric. "Kalau yang dulu dan sudah graduate itu seperti Fia JKT48, Desy JKT48, mereka anak wotagei juga tapi sudah lulus,"
Namun hobi yang digeluti Eric dan penggemar JKT48 lainnya itu sayangnya masih kerap mendapat komentar miring.
Beragam cibiran itu umumnya memandang sebelah mata hingga meledek gerak lightstick fan JKT48 saat ber-wotagei. Meski begitu, Eric tak ambil pusing dengan omongan-omongan tersebut.
Padahal gerakan wotagei tak bisa dibilang mudah. Butuh hafalan dan disiplin latihan untuk bisa menguasai gerakan, serta kekompakan dengan yang lain untuk bisa membuahkan gerakan estetis. Tak lupa, banjir keringat di setiap latihan.
"Buat yang kontra, mungkin karena mereka belum tahu seni dari wotagei ini seperti apa. Mungkin mereka anggap ini gerakan enggak jelas," kata Eric. "Tapi kami anggapnya selain seni, ini juga olahraga. Jadi sambil nonton idol, olahraga juga."