Review Film: Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang

Muhammad Feraldi | CNN Indonesia
Jumat, 03 Feb 2023 21:10 WIB
Review Film: Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang
Review film Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang: Eksperimen Angga Dwimas Sasongko dalam film ini patut mendapat apresiasi. (dok. Visinema Pictures)
img-title Endro Priherdityo
3
Eksperimen Angga Sasongko untuk visual film ini patut diapresiasi, tapi kisah si anak tengah tak meninggalkan kesan yang membekas.

Meski menghadirkan cerita baru dengan suasana berbeda, film ini bagi saya gagal meninggalkan kesan mendalam. Saya menduga ada dua hal yang memengaruhi kesan tersebut.

Pertama, film ini secara spesifik mengisahkan keluh kesah anak tengah yang terabaikan dan berusaha mencari 'rumah'. Bagi saya pribadi, pesan itu rasanya tak sepenuhnya sampai karena saya bukan anak tengah maupun anak kedua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Aurora dalam film ini akhirnya tidak meninggalkan 'after taste' yang signifikan jika dibandingkan dengan NKCTHI.

Hal itu juga tak lepas dari pendekatan film sebelumnya yang masih memberikan porsi cukup banyak dalam menggambarkan keresahan ketiga kakak-beradik.

Kedua, film ini juga mengakhiri beberapa subplot dengan tergesa-gesa sehingga terasa kurang memuaskan. Sebut saja dinamika hubungan toksik antara Aurora dengan Jem yang menjadi salah satu aspek penting dalam cerita.

Saya semula mengira bagian tersebut akan berakhir dengan kesimpulan yang tegas karena konflik film ini dipicu oleh masalah itu. Namun, permasalahan tersebut ternyata diakhiri begitu saja tanpa ada dialog maupun gestur yang membekas.



Tak hanya itu, adegan-adegan film ini juga relatif tak berkesan sehingga cenderung sulit menjadi adegan ikonis. Saya rasa berbagai adegan tersebut akan sulit menandingi adegan-adegan ikonis dari film pertama.

Sebut saja adegan one-shot ketika Narendra (Donny Damara) berdebat sengit dengan anak-anaknya, atau ketika Awan (Rachel Amanda) menanyakan kejelasan hubungan dirinya dengan Kale (Ardhito Pramono).

Namun pada akhirnya, film ini tetap menarik ditonton bagi pencinta drama keluarga yang ingin merasakan sentuhan berbeda dalam film bertema serupa.

Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang kemungkinan besar masih akan digandrungi banyak orang, terutama bagi penggemar buku NKCTHI dan berbagai adaptasi yang dikembangkan.

Saya juga berharap Angga Dwimas Sasongko mampu menutup semesta ini dengan manis lewat film ketiga yang disebut sudah diproduksi.

Penutup itu akan menjadi pembuktian tentang seberapa jauh Angga mampu mengembangkan semesta ini menjadi tontonan yang terus berkembang di setiap rilisannya.



[Gambas:Youtube]



(end)
Jakarta, CNN Indonesia --

Eksperimen Angga Dwimas Sasongko dalam Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang patut mendapat apresiasi. Film ini membuktikan sang sutradara enggan terbelenggu dari pendahulunya, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020).

Hal itu terlihat dari cara Angga mengemas perjalanan Aurora (Sheila Dara) mencari arti rumah di London dan jauh dari keluarga serta saudara kandungnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia membangun cerita itu dengan nuansa baru, seolah ingin menunjukkan seperti apa dunia bekerja di mata Aurora. Sejak film pertama, karakter itu digambarkan sebagai si anak tengah yang merasa terasing karena tak mendapat afeksi dari orang tuanya.

Situasi itu yang kemudian saya rasa banyak berpengaruh terhadap keputusan Angga mencoba berbeda lewat Jalan yang Jauh. Penonton bisa menyaksikan adegan demi adegan direkam dengan komposisi visual yang tak lazim.

Angga terlihat banyak bermain-main dengan sudut pandang serta tata letak kamera, yang ternyata masih bisa saya nikmati. Nyaris tidak ada yang mengganggu dari berbagai shot hasil eksperimen sang sutradara.

Penggambaran London yang menjadi latar film ini juga terasa membumi. Film ini tidak tergoda untuk menjual embel-embel syuting di luar negeri dengan pamer landmark ibu kota Inggris tersebut.

Jalan yang Jauh Jangan Lupa PulangReview film Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang: Film ini tidak tergoda untuk menjual embel-embel syuting di luar negeri dengan pamer landmark ibu kota Inggris. (dok. Visinema Pictures)

Hampir seluruh adegan Jalan yang Jauh diambil di kawasan suburban, flat yang jauh dari kesan mewah, hingga jalanan riuh masyarakat lokal yang sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Langkah itu sesungguhnya bukan hal spesial atau menghadirkan kebaruan di dunia film. Namun, ini penting untuk Jalan yang Jauh karena mempertegas penokohan Aurora yang datang ke London untuk belajar, bukan berlibur.

Hal baru lain yang patut dipuji dari sekuel ini adalah kehadiran Honey (Lutesha), Kit (Jerome Kurnia), dan Jem (Ganindra Bimo) sebagai pemeran pendukung.

Mereka berhasil mengisi peran masing-masing dalam porsi yang cukup. Tidak ada karakter pendukung yang terlalu menonjol atau menutupi Aurora sebagai pusat cerita.

Proporsi setiap karakter yang ideal itu disempurnakan dengan kemampuan para aktor yang tetap bisa meninggalkan kesan tanpa menjadi pusat atensi.

Kit menjadi karakter paling memikat di mata saya sepanjang film diputar. Lewat gestur dan dialog dengan karakter lain, Jerome Kurnia berhasil menunjukkan Kit sebagai sosok teman yang tulus membantu serta mendukung Aurora.

Sikap Kit terhadap Aurora juga bagi saya terasa seperti kisah platonik yang manis dan romantis. Ia mampu menunjukkan cinta tanpa perlu mengungkapkan perasaan itu kepada Aurora.

Namun di samping aspek teknis dan penampilan aktor yang memukau, saya merasa kurang puas dengan eksekusi cerita dalam Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang.

Lanjut ke sebelah...

Review Film: Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang

Review film Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang: Eksperimen Angga Dwimas Sasongko dalam film ini patut mendapat apresiasi. (dok. Visinema Pictures)

Meski menghadirkan cerita baru dengan suasana berbeda, film ini bagi saya gagal meninggalkan kesan mendalam. Saya menduga ada dua hal yang memengaruhi kesan tersebut.

Pertama, film ini secara spesifik mengisahkan keluh kesah anak tengah yang terabaikan dan berusaha mencari 'rumah'. Bagi saya pribadi, pesan itu rasanya tak sepenuhnya sampai karena saya bukan anak tengah maupun anak kedua.

Kisah Aurora dalam film ini akhirnya tidak meninggalkan 'after taste' yang signifikan jika dibandingkan dengan NKCTHI.

Hal itu juga tak lepas dari pendekatan film sebelumnya yang masih memberikan porsi cukup banyak dalam menggambarkan keresahan ketiga kakak-beradik.

Kedua, film ini juga mengakhiri beberapa subplot dengan tergesa-gesa sehingga terasa kurang memuaskan. Sebut saja dinamika hubungan toksik antara Aurora dengan Jem yang menjadi salah satu aspek penting dalam cerita.

Saya semula mengira bagian tersebut akan berakhir dengan kesimpulan yang tegas karena konflik film ini dipicu oleh masalah itu. Namun, permasalahan tersebut ternyata diakhiri begitu saja tanpa ada dialog maupun gestur yang membekas.

[Gambas:Video CNN]



Tak hanya itu, adegan-adegan film ini juga relatif tak berkesan sehingga cenderung sulit menjadi adegan ikonis. Saya rasa berbagai adegan tersebut akan sulit menandingi adegan-adegan ikonis dari film pertama.

Sebut saja adegan one-shot ketika Narendra (Donny Damara) berdebat sengit dengan anak-anaknya, atau ketika Awan (Rachel Amanda) menanyakan kejelasan hubungan dirinya dengan Kale (Ardhito Pramono).

Namun pada akhirnya, film ini tetap menarik ditonton bagi pencinta drama keluarga yang ingin merasakan sentuhan berbeda dalam film bertema serupa.

Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang kemungkinan besar masih akan digandrungi banyak orang, terutama bagi penggemar buku NKCTHI dan berbagai adaptasi yang dikembangkan.

Saya juga berharap Angga Dwimas Sasongko mampu menutup semesta ini dengan manis lewat film ketiga yang disebut sudah diproduksi.

Penutup itu akan menjadi pembuktian tentang seberapa jauh Angga mampu mengembangkan semesta ini menjadi tontonan yang terus berkembang di setiap rilisannya.



[Gambas:Youtube]





HALAMAN:
1 2