Review film: The First Slam Dunk jelas alternatif dari waralaba Slam Dunk yang tidak akan membuat penggemar lama maupun baru merasa kewalahan. (Tangkapan layar YouTube @ToeiAnimationjp)
5
Lewat The First Slam Dunk, Takehiko Inoue jelas mempermainkan relasi kuasa antara dirinya dengan penggemar Slam Dunk sepanjang film berjalan.
Namun Inoue sudah punya 'penawar' akan rasa dongkol penonton, seperti saya. Sejak awal, ia menghadirkan pengalaman visual menarik melalui ilustrasi animasi yang jauh berbeda dibanding produk Slam Dunk lainnya.
Dalam The First Slam Dunk, Inoue menggabungkan teknologi computer-generated imagery (CGI) untuk adegan permainan basket, serta tetap memelihara ilustrasi gambar tangan 2D untuk adegan kehidupan sehari-hari.
Tak hanya itu, dengan kombinasi CGI dan 2D di tiap adegannya, maka dipastikan jika adegan permainan basket akan terasa lebih nyata di tiap adegannya.
Inoue dan tim pun mempekerjakan sederet pemain basket profesional untuk membantu mengulas permainan basket agar terasa nyata dalam bentuk animasi.
"Inoue bangke!" adalah komentar paling sering yang saya lontarkan sepanjang film berjalan.
Selama lebih dari 120 menit, mata saya begitu dimanjakan oleh sensasi sempurna dari ilustrasi yang dikerjakan oleh Inoue bersama seluruh tim animatornya.
Review film: Dengan kombinasi CGI dan 2D di tiap adegan The First Slam Dunk, maka dipastikan jika adegan permainan basket akan terasa lebih nyata di tiap adegannya. (Tangkapan layar YouTube @ToeiAnimationjp)
Inoue jelas mempermainkan relasi kuasa antara dirinya dengan penggemar Slam Dunk, termasuk saya, sepanjang film berjalan. Akibatnya, saya harus rela berlapang dada untuk bersabar kisah berikutnya yang entah kapan datang.
Selain itu, The First Slam Dunk juga berhasil meramu resep dalam penyajian pertandingan olahraga dalam film dengan tepat guna, tak terlalu lama dan tak membuat penonton kewalahan.
Belum lagi elemen jenaka yang menjadi nyawa Slam Dunk, tetap hadir beriringan dengan iklim penuh haru yang membahagiakan.
Di luar urusan teknis yang memanjakan mata, Inoue juga memuaskan hasrat saya akan referensi kultural yang dulu tak kentara di produk Slam Dunk. Dalam film ini, Inoue menampilkan kesan mendalam soal isu keterbukaan dalam pola komunikasi orang Jepang era 1990-an.
Hingga akhirnya, The First Slam Dunk jelas alternatif dari waralaba Slam Dunk yang tidak akan membuat penggemar lama maupun baru merasa kewalahan untuk mengikuti alur ceritanya.
Namun bagaimana dengan nasib Hanamichi Sakuragi? Jangan khawatir. Meski Ryota Miyagi dapat giliran jadi karakter utama The First Slam Dunk, Inoue tetap memberikan porsi penting kepada Hanamichi.
Inoue memang melandaskan cerita Ryota Miyagi sebagai tulang punggung film ini. Namun ajaibnya, Hanamichi Sakuragi sebagai karakter utama tetap tidak tergantikan, meski mendapatkan porsi adegan tak sebanyak Ryota.
Ekspektasi setinggi langit sudah pasti memenuhi pikiran dan hati saya saat mendengar The First Slam Dunk tayang di Indonesia. Apalagi, kenangan serial anime Slam Dunk yang saya saksikan sedari Sekolah Dasar masih ada dalam benak, meski telah tertimbun kenangan-kenangan lainnya.
Berpuluh tahun kisah konyol Hanamichi Sakuragi membuat saya penasaran, bagaimana masa depannya dengan Shohoku? Apakah ia sungguh jadi pemain basket genius seperti yang selalu ia klaim?
Namun kreator Slam Dunk yang sekaligus jadi penulis juga sutradara The First Slam Dunk, Takehiko Inoue, lebih memilih membiarkan pertanyaan itu tetap jadi angan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inoue sungguh menampilkan kisah Ryota Miyagi alias Ryo-chan sebagai sajian utama The First Slam Dunk, sama seperti trailer yang tayang beberapa pekan sebelumnya.
Miyagi dikenal sebagai point guard alias playmaker alias pengatur serangan utama SMA Shohoku. Bocah kelas dua SMA bernomor punggung 7 itu digambarkan sebagai pemuda pendek tak banyak bicara, tapi amat tangkas dan gesit saat dribbling bola basket.
Keputusan Inoue ini sebenarnya jadi langkah berani yang patut diapresiasi. Ia memberikan ruang untuk penonton awam alias blind-watcher untuk ikut andil menikmati kisah ikonis Slam Dunk di era saat ini.
Langkah Inoue itu juga tak langsung membuat saya pesimis. Saya masih berharap Sakuragi masih 'bertanggung jawab' sebagai protagonis di film ini.
Keinginan itu sempat dijawab Inoue di menit-menit pertama adegan SMA Shohoku tanding melawan SMK Sannoh yang dianggap sebagai tim basket SMA terkuat di Jepang.
Si begundal berambut merah itu berhasil memenuhi ekspektasi penonton lewat skor perdana yang memukau untuk Shohoku.
"Buset langsung begini, nih?" adalah kalimat yang muncul pertama kali dari diri saya, tak sampai 10 menit film ini dimulai.
Nyatanya, Inoue cuma usil. Setelah adegan mengagetkan itu, kisah pilu keluarga Miyagi berlatar alam pantai Okinawa tersaji sebagai hidangan utama.
The First Slam Dunk menjadi panggung utama Miyagi untuk lebih dikenal, meski saya belum memahami alasan Inoue memilih karakter ini untuk mendapatkan porsi begitu banyak dalam film ini.
Hal itu lantaran selama ini, Ryota Miyagi dianggap sebagai karakter "oke dia keren", tanpa pernah saya sangka bisa 'naik pangkat' jadi tokoh sentral dalam film layar panjang Slam Dunk.
Inoue sekali lagi menampilkan dirinya sebagai sutradara yang tak bisa ditebak. Ia bukan hanya mengganti tokoh sentral, tetapi juga menambah teka-teki yang menambah beban pikiran penggemar Slam Dunk.
"Ini mah harus tunggu belasan tahun lagi buat nonton cerita Slam Dunk selanjutnya," gumam saya sembari menghadapi rasa love-hate relationship dengan Inoue.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: The First Slam Dunk
Review film: The First Slam Dunk jelas alternatif dari waralaba Slam Dunk yang tidak akan membuat penggemar lama maupun baru merasa kewalahan. (Tangkapan layar YouTube @ToeiAnimationjp)
Namun Inoue sudah punya 'penawar' akan rasa dongkol penonton, seperti saya. Sejak awal, ia menghadirkan pengalaman visual menarik melalui ilustrasi animasi yang jauh berbeda dibanding produk Slam Dunk lainnya.
Dalam The First Slam Dunk, Inoue menggabungkan teknologi computer-generated imagery (CGI) untuk adegan permainan basket, serta tetap memelihara ilustrasi gambar tangan 2D untuk adegan kehidupan sehari-hari.
Tak hanya itu, dengan kombinasi CGI dan 2D di tiap adegannya, maka dipastikan jika adegan permainan basket akan terasa lebih nyata di tiap adegannya.
Inoue dan tim pun mempekerjakan sederet pemain basket profesional untuk membantu mengulas permainan basket agar terasa nyata dalam bentuk animasi.
"Inoue bangke!" adalah komentar paling sering yang saya lontarkan sepanjang film berjalan.
Selama lebih dari 120 menit, mata saya begitu dimanjakan oleh sensasi sempurna dari ilustrasi yang dikerjakan oleh Inoue bersama seluruh tim animatornya.
Review film: Dengan kombinasi CGI dan 2D di tiap adegan The First Slam Dunk, maka dipastikan jika adegan permainan basket akan terasa lebih nyata di tiap adegannya. (Tangkapan layar YouTube @ToeiAnimationjp)
Inoue jelas mempermainkan relasi kuasa antara dirinya dengan penggemar Slam Dunk, termasuk saya, sepanjang film berjalan. Akibatnya, saya harus rela berlapang dada untuk bersabar kisah berikutnya yang entah kapan datang.
Selain itu, The First Slam Dunk juga berhasil meramu resep dalam penyajian pertandingan olahraga dalam film dengan tepat guna, tak terlalu lama dan tak membuat penonton kewalahan.
Belum lagi elemen jenaka yang menjadi nyawa Slam Dunk, tetap hadir beriringan dengan iklim penuh haru yang membahagiakan.
Di luar urusan teknis yang memanjakan mata, Inoue juga memuaskan hasrat saya akan referensi kultural yang dulu tak kentara di produk Slam Dunk. Dalam film ini, Inoue menampilkan kesan mendalam soal isu keterbukaan dalam pola komunikasi orang Jepang era 1990-an.
Hingga akhirnya, The First Slam Dunk jelas alternatif dari waralaba Slam Dunk yang tidak akan membuat penggemar lama maupun baru merasa kewalahan untuk mengikuti alur ceritanya.
Namun bagaimana dengan nasib Hanamichi Sakuragi? Jangan khawatir. Meski Ryota Miyagi dapat giliran jadi karakter utama The First Slam Dunk, Inoue tetap memberikan porsi penting kepada Hanamichi.
Inoue memang melandaskan cerita Ryota Miyagi sebagai tulang punggung film ini. Namun ajaibnya, Hanamichi Sakuragi sebagai karakter utama tetap tidak tergantikan, meski mendapatkan porsi adegan tak sebanyak Ryota.