Jakarta, CNN Indonesia -- Cho Sung-hyun, sutradara In the Name of God: A Holy Betrayal, mengungkapkan kultus JMS atau Providence 10 kali lebih mengerikan daripada yang ditampilkan dalam serial dokumenternya itu.
Ia mengungkapkan banyak hal mengerikan terjadi saat membuat docuseries itu, salah satunya adalah kebocoran informasi para korban yang speak up mengenai pelanggaran hukum Jeong Myeong-seok, sang pimpinan.
Tak hanya itu, tim produksi turut diikuti, diancam bahkan diretas saat membuat dokumenter mengenai kultus yang juga dikenal dengan nama Christian Gospel Mission tersebut. Hal tersebut membuatnya melakukan antisipasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya punya tongkat pertahanan dan senjata bius di mobil. Itu tidak pernah terjadi dalam 15 tahun saya sebagai produser," cerita Cho Sung-hyun seperti diberitakan Asia E beberapa waktu lalu.
Hal tersebut sejatinya sudah terlihat jelas dalam episode-episode awal In the Name of God: A Holy Betrayal yang menguak pelecehan seksual Jeong Myeong-seok.
Maple Yip, salah satu mantan pengikut JMS dan juga jadi korban pelecehan, membeberkan berulang kali diminta untuk tak buka suara mengenai hal itu. Ia juga diikuti tim JMS ketika kembali ke Korea Selatan untuk speak up.
Dalam dokumenter diperlihatkan, Maple dan tim produksi diikuti satu mobil sejak berada di bandara. Mobil yang sama bahkan parkir di depan hotel dan bisa langsung terlihat dari jendela kamar Maple.
Tim produksi sempat mengonfrontasi orang-orang yang di dalam mobil itu. Namun, mereka hanya diam sambil menyembunyikan wajah dari kamera.
Cho Sung-hyun mengungkapkan momen mengerikan lainnya yang dilakukan pengikut JMS dan tak muncul di dokumenter. Gerak-gerik para korban yang bersuara benar-benar diamati.
"Ketika kami syuting dengan seorang korban, di luar sedang hujan. Si korban lagi melihat ke luar jendela. Tiba-tiba dia dapat pesan yang isinya, 'Kamu sedang melihat ke jendela juga? Sekarang lagi hujan.' Sungguh mengerikan."
Dalam wawancara di MBC Radio, Cho Sung-hyun mengaku sudah mengganti jadwal penerbangan tiga kali karena tahu pengikut JMS akan menghalangi Maple meninggalkan Hong Kong.
Kondisi itu yang membuatnya sempat curiga ada penyusup di tim produksi serial dokumenter tersebut.
"Ada banyak situasi yang buat saya bingung bagaimana informasi bocor ke pihak lain," kata Cho Sung-hyun.
"Pernah saat menyiapkan interview dengan korban dari Australia, kami dapat pesan yang isinya, 'Jangan lakukan wawancara itu.'"
"Pesan tersebut masuk lima menit sebelum kami mulai wawancara, seolah-olah mereka tahu (yang akan dilakukan)," ucap sang sutradara.
Lanjut ke sebelah...
Sutradara Bongkar Kengerian Kultus JMS Kala Syuting In the Name of God
Sutradara Cho Sung-hyun beberkan kengerian dari kultus JMS yang ia terima saat menyiapkan In the Name of God: A Holy Betrayal. (Netflix)
Segala upaya dilakukan demi menghindari kebocoran informasi. Pada satu titik, Cho Sung-hyun mengaku memberikan informasi palsu kepada timnya demi keselamatan para korban.
Namun, ia tetap tidak mengetahui penyusup atau cara informasi yang sesungguhnya bocor ke pengikut JMS.
"Saya akhirnya berada dalam situasi mencurigai semua orang," pengakuan Cho Sung-hyun.
Di tengah semua permasalahan itu, serial dokumenter In the Name of God: A Holy Betrayal resmi tayang pada 3 Maret meski sempat terancam gagal karena digugat pengikut JMS.
Member sekte itu menilai acara tersebut bisa memengaruhi proses hukum yang sedang berlangsung. Sehingga mereka menggugat tim produksi supaya dokumenter itu tidak tayang.
[Gambas:Video CNN]
Jeong Myeong-seok saat ini kembali digugat kasus pelecehan seksual atas pengaduan korban, salah satunya Maple.
Namun, pengadilan menolak gugatan JMS dengan menyatakan BC dan Netflix tampaknya telah membuat program tersebut berdasarkan sejumlah besar materi objektif dan subjektif yang mendukung klaimnya.
Cho Sung-hyun kemudian berterima kasih kepada sekitar 200 orang yang ia temui saat buat In the Name of God: A Holy Betrayal. Seperti diberitakan YTN, pembuatan dokumenter itu nyaris dua tahun, melebihi yang ia perkirakan.
Secara khusus, ia berterima kasih kepada Kim Gyeong-cheon, mantan wakil kepala JMS, yang menceritakan seluk-beluk dan permasalahan di dalam sekte tersebut.
"Berbicara di depan kamera tanpa ada keraguan sebagai orang dalam. Saya rasa itu bentuk bertanggung jawab," tuturnya.
Begitu pula dengan Kim Do-hyeong yang bertahun-tahun menjadi aktivis anti-JMS. Dalam dokumenter, penonton bisa mengetahui bahwa Kim Do-hyeong disebut sebagai setan oleh Jeong Myeong-seok dan pengikutnya.
Ayah Kim Do-hyeong juga menjadi korban kekerasan pengikut JMS.
Cho Sung-hyun tak lupa berpesan bagi mereka yang hingga kini masih aktif di JMS dan membela pimpinannya.
"Diam tidak akan mengubah apa pun. Pura-pura buta dan seseorang akan tetap mengeksploitasimu dalam 10 tahun. Coba tanya dirimu sendiri, "Apakah dia benar-benar Mesias?' Kalau hati kecilmu bilang tidak, itu waktunya kamu buka suara."
Kisah JMS ditampilkan dalam 3 episode awal In the Name of God: A Holy Betrayal yang tayang di Netflix.