Membedah Rahasia Sandiwara Radio Tetap Bertahan Hingga Kini
CNN Indonesia
Minggu, 09 Apr 2023 16:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Sandiwara radio memiliki kekuatan tersendiri yang membuat hiburan jenis ini tak lekang oleh zaman meski teknologi kini sudah jauh berbeda. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perubahan zaman dan teknologi nyatanya tak menjadi penghalang sandiwara radio tetap bertahan hidup meski tak sehingar-bingar pada dekade '80-90-an. Bahkan,sandiwara radio mulai kembali jadi tren di era digital.
Bagi pengamat budaya populer Hikmat Darmawan, sandiwara radio memiliki kekuatan tersendiri yang membuat hiburan jenis ini tak lekang oleh zaman meski teknologi kini sudah jauh berbeda dari beberapa tahun lalu.
"Itu mitos jika ada suatu media mencuat dibicarakan seolah olah ada perilaku kanibalistik antar media," kata Hikmat saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Audio kan bisa sambil masak, nyetrika, ngangon kebo. jadi itu yang dibilang kekuatan radio," ucapnya.
Fleksibilitas medium audio ini bahkan punya rangsangan lebih jauh terhadap pendengarnya, yakni mengajak pendengar untuk menyelami imajinasi masing-masing dalam membayangkan reka adegan dari sandiwara radio.
Theatre of mind, namanya. Hanya lewat suara, intonasi, dan efek, sandiwara radio bisa membuat pendengarnya membayangkan sebuah cerita.
Kekuatan sandiwara radio ini disebut Titik Renggani dalam bukunya yang berjudul Drama Radio adalah menampilkan drama tanpa aspek gerak. Aspek yang sebelumnya justru menjadi ciri khas dari sebuah drama.
Dengan kekuatan ini, pada tahun 1938, Amerika Serikat pernah digemparkan oleh sebuah sandiwara radio berjudul The War of the Worlds. Sandiwara radio yangdigarapoleh Orson Welles dan disiarkan di CBS Radio itu disiarkan dengan durasi 60 menit per episodenya.
The War of the Worlds bercerita tentang invasi alien dari planet Mars ke Bumi. Drama ini ditayangkan laiknya berita, sehingga banyak orang yang percaya bahwa fenomena itu terjadi. Lelucon dalam sandiwara radio itu pun membuat panik pendengar di AS.
Menurut Hikmat, The War of the Worlds adalah salah satu contoh bagaimana theater of mind dalam sebuah sandiwara radio bisa menciptakan imajinasi luar biasa untuk pendengarnya. Sehingga, naskah yang baik sangat berperan pada keberlangsungan sandiwara radio.
"Seninya itu lebih bertumpu pada seni suara," kata Hikmat Darmawan.
"Makanya kemudian ketika dialihwahana ke media lain, misalnya dulu ada sandiwara yang top saat itu Saur Sepuh atau Misteri Gunung Merapi, itu jadi beda ketika difilmkan," lanjutnya.
Saur Sepuh dan Misteri Gunung Merapi adalah salah satu dari sedikit drama radio yang begitu tenar sehingga diangkat dalam gambar bergerak bertahun-tahun, bahkan sinetronnya yang kolosal juga jadi legenda tersendiri di industri hiburan Indonesia.
Dua judul drama radio itu jadi salah satu bukti keterhubungan dengan pendengar turut menjadi hal penting yang membuat sandiwara radio diterima di tengah masyarakat, terlepas dari pada zaman kapan drama itu disiarkan.
Titik menyebut dalam bukunya, bahwa ciri khas lain dari sandiwara radio adalah kentalnya unsur lokal. Hal itu membuat sebuah sandiwara bisa punya tempat tersendiri di telinga pendengarnya dan akhirnya pendengar merasa terhubung dengannya.
Lanjut ke sebelah...
Namun bukan berarti unsur lokal yang dimaksud adalah kisah kolosal. Sandiwara seperti Catatan Si Boy juga tenar dalam bentuk gambar bergerak, begitu pula kini dengan berbagai sandiwara modern soal kehidupan sehari-hari.
Kemampuan gampang diterima oleh masyarakat inilah yang sempat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk menggalakkan programnya.
Pada era Orde Baru, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sempat memproduksi sandiwara radio berjudul Butir-butir Pasir di Laut yang bercerita tentang pentingnya KB.
Sandiwara radio pun bukan hanya dibuat oleh mereka yang ada di ibu kota. Di Jawa Barat, sejumlah radio aktif membuat sandiwara, yang terkenal adalah dongeng Si Rawing yang dibawakan oleh maestro sunda Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh.
Ada juga 'Sempal Guyon Parahyangan si Kundang' yang dibawakan oleh Iwan Ardi dan Tisna Sutisna. Pada sandiwara bodor ini, Tisna memerankan 14 tokoh sekaligus dengan suara yang berbeda-beda.
Kini, di Jawa Barat bukan lagi soal drama berbahasa Sunda. Radio Ardan di Bandung saat ini punya program sandiwara radio unggulan berupa kisah horor bertajuk Nightmare Story sejak 1992 dan masih berjalan hingga kini.
Termasuk, saat gelombang digital jadi wadah hiburan audio. Semenjak internet penetrasi ke berbagai lini masyarakat pada era milenium, berbagai platform digital jadi wadah baru bagi sandiwara radio, atau yang kini beken disebut drama audio atau drama podcast.
Sebut saja seperti Mau gak Mau yang dikeluarkan oleh Podcast Rapot dan Do You See What I See (DYSWIS), sandiwara radio cerita horor yang dibuat oleh Rizky Adi Nugroho alias Mizter Popo.
Hikmat semakin yakin dengan geliat sandiwara audio saat ini, hiburan itu tak akan mati. Apalagi, di tengah makin sibuknya dunia yang mendesak orang-orang untuk multitasking, sandiwara audio masih bisa diandalkan.
Basith Patria, dosen Departemen Jurnalistik Fikom Unpad, pun berpendapat serupa. Terlebih, kata dia, karakteristik sandiwara audio tak bisa digantikan dengan visual.
"Kalau kita menyaksikan visual, misal kalo horor, wujud hantunya seragam ya, pocong-pocong semua, kuntilanak-kuntilanak semua. Tapi kalau audio theater of mind itu bisa muncul sesuai dengan pikiran setiap orang," kata Basith.
"Ketika kita mendengar karakter hantu yang ada di sandiwara radio itu maka yang muncul sesuai imajinasi masing-masing. Jadi karakter itu bisa jadi lebih kuat, karena spesifik masing-masing orang itu punya gambaran beda-beda tergantung personifikasi orang itu."
"Ciri khas theater of mind tidak bisa digantikan," tutupnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Perubahan zaman dan teknologi nyatanya tak menjadi penghalang sandiwara radio tetap bertahan hidup meski tak sehingar-bingar pada dekade '80-90-an. Bahkan,sandiwara radio mulai kembali jadi tren di era digital.
Bagi pengamat budaya populer Hikmat Darmawan, sandiwara radio memiliki kekuatan tersendiri yang membuat hiburan jenis ini tak lekang oleh zaman meski teknologi kini sudah jauh berbeda dari beberapa tahun lalu.
"Itu mitos jika ada suatu media mencuat dibicarakan seolah olah ada perilaku kanibalistik antar media," kata Hikmat saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Audio kan bisa sambil masak, nyetrika, ngangon kebo. jadi itu yang dibilang kekuatan radio," ucapnya.
Fleksibilitas medium audio ini bahkan punya rangsangan lebih jauh terhadap pendengarnya, yakni mengajak pendengar untuk menyelami imajinasi masing-masing dalam membayangkan reka adegan dari sandiwara radio.
Theatre of mind, namanya. Hanya lewat suara, intonasi, dan efek, sandiwara radio bisa membuat pendengarnya membayangkan sebuah cerita.
Kekuatan sandiwara radio ini disebut Titik Renggani dalam bukunya yang berjudul Drama Radio adalah menampilkan drama tanpa aspek gerak. Aspek yang sebelumnya justru menjadi ciri khas dari sebuah drama.
Dengan kekuatan ini, pada tahun 1938, Amerika Serikat pernah digemparkan oleh sebuah sandiwara radio berjudul The War of the Worlds. Sandiwara radio yangdigarapoleh Orson Welles dan disiarkan di CBS Radio itu disiarkan dengan durasi 60 menit per episodenya.
The War of the Worlds bercerita tentang invasi alien dari planet Mars ke Bumi. Drama ini ditayangkan laiknya berita, sehingga banyak orang yang percaya bahwa fenomena itu terjadi. Lelucon dalam sandiwara radio itu pun membuat panik pendengar di AS.
Menurut Hikmat, The War of the Worlds adalah salah satu contoh bagaimana theater of mind dalam sebuah sandiwara radio bisa menciptakan imajinasi luar biasa untuk pendengarnya. Sehingga, naskah yang baik sangat berperan pada keberlangsungan sandiwara radio.
"Seninya itu lebih bertumpu pada seni suara," kata Hikmat Darmawan.
"Makanya kemudian ketika dialihwahana ke media lain, misalnya dulu ada sandiwara yang top saat itu Saur Sepuh atau Misteri Gunung Merapi, itu jadi beda ketika difilmkan," lanjutnya.
Saur Sepuh dan Misteri Gunung Merapi adalah salah satu dari sedikit drama radio yang begitu tenar sehingga diangkat dalam gambar bergerak bertahun-tahun, bahkan sinetronnya yang kolosal juga jadi legenda tersendiri di industri hiburan Indonesia.
Dua judul drama radio itu jadi salah satu bukti keterhubungan dengan pendengar turut menjadi hal penting yang membuat sandiwara radio diterima di tengah masyarakat, terlepas dari pada zaman kapan drama itu disiarkan.
Titik menyebut dalam bukunya, bahwa ciri khas lain dari sandiwara radio adalah kentalnya unsur lokal. Hal itu membuat sebuah sandiwara bisa punya tempat tersendiri di telinga pendengarnya dan akhirnya pendengar merasa terhubung dengannya.
Lanjut ke sebelah...
'Imajinasi Masing-masing'
Ilustrasi. Sandiwara radio memiliki kekuatan tersendiri yang membuat hiburan jenis ini tak lekang oleh zaman meski teknologi kini sudah jauh berbeda. (iStockphoto)
Namun bukan berarti unsur lokal yang dimaksud adalah kisah kolosal. Sandiwara seperti Catatan Si Boy juga tenar dalam bentuk gambar bergerak, begitu pula kini dengan berbagai sandiwara modern soal kehidupan sehari-hari.
Kemampuan gampang diterima oleh masyarakat inilah yang sempat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk menggalakkan programnya.
Pada era Orde Baru, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sempat memproduksi sandiwara radio berjudul Butir-butir Pasir di Laut yang bercerita tentang pentingnya KB.
Sandiwara radio pun bukan hanya dibuat oleh mereka yang ada di ibu kota. Di Jawa Barat, sejumlah radio aktif membuat sandiwara, yang terkenal adalah dongeng Si Rawing yang dibawakan oleh maestro sunda Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh.
Ada juga 'Sempal Guyon Parahyangan si Kundang' yang dibawakan oleh Iwan Ardi dan Tisna Sutisna. Pada sandiwara bodor ini, Tisna memerankan 14 tokoh sekaligus dengan suara yang berbeda-beda.
Kini, di Jawa Barat bukan lagi soal drama berbahasa Sunda. Radio Ardan di Bandung saat ini punya program sandiwara radio unggulan berupa kisah horor bertajuk Nightmare Story sejak 1992 dan masih berjalan hingga kini.
Termasuk, saat gelombang digital jadi wadah hiburan audio. Semenjak internet penetrasi ke berbagai lini masyarakat pada era milenium, berbagai platform digital jadi wadah baru bagi sandiwara radio, atau yang kini beken disebut drama audio atau drama podcast.
Sebut saja seperti Mau gak Mau yang dikeluarkan oleh Podcast Rapot dan Do You See What I See (DYSWIS), sandiwara radio cerita horor yang dibuat oleh Rizky Adi Nugroho alias Mizter Popo.
Hikmat semakin yakin dengan geliat sandiwara audio saat ini, hiburan itu tak akan mati. Apalagi, di tengah makin sibuknya dunia yang mendesak orang-orang untuk multitasking, sandiwara audio masih bisa diandalkan.
Basith Patria, dosen Departemen Jurnalistik Fikom Unpad, pun berpendapat serupa. Terlebih, kata dia, karakteristik sandiwara audio tak bisa digantikan dengan visual.
"Kalau kita menyaksikan visual, misal kalo horor, wujud hantunya seragam ya, pocong-pocong semua, kuntilanak-kuntilanak semua. Tapi kalau audio theater of mind itu bisa muncul sesuai dengan pikiran setiap orang," kata Basith.
"Ketika kita mendengar karakter hantu yang ada di sandiwara radio itu maka yang muncul sesuai imajinasi masing-masing. Jadi karakter itu bisa jadi lebih kuat, karena spesifik masing-masing orang itu punya gambaran beda-beda tergantung personifikasi orang itu."
"Ciri khas theater of mind tidak bisa digantikan," tutupnya.