The Strokes di WTF 2023: Brilian tanpa Perlu Pembuktian
Mohammad Farras Fauzi | CNN Indonesia
Sabtu, 22 Jul 2023 15:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
WTF 2023 mencoba memberikan satu contoh sederhana bagi penyelenggara konser di Indonesia lainnya: konser tunggal The Strokes layak untuk digelar. (Getty Images via AFP/JASON KEMPIN)
4
WTF 2023 mencoba memberikan satu contoh sederhana bagi penyelenggara konser di Indonesia lainnya: konser tunggal The Strokes layak untuk digelar.
Jakarta, CNN Indonesia --
Penampilan pertama The Strokes di Indonesia sejak menelurkan album debut Is This It (2001) di We The Fest (WTF) 2023 pada Jumat (21/7) malam jelas jadi salah satu momen sakral bagi para penggemarnya, termasuk saya.
Kuintet rock asal New York ini naik panggung WTF 2023 kala malam sudah menyelimuti Jakarta. Mereka langsung hadir di atas panggung dengan ciri khasnya yang selama ini saya lihat di YouTube: cuek, tanpa basa-basi.
Tak perlu panjang kata The Strokes memulai penampilannya. Lagu lawas The Modern Age dari album debut berhasil membuat penonton berjingkrak kegirangan. Atmosfer nostalgia berbalut kerinduan melihat idola secara langsung di tanah Indonesia memang bagai mimpi jadi kenyataan.
The Strokes memang aslinya cuek, tapi sang vokalis, Julian Casablancas masih memberikan celetukan-celetukan sompral yang menggelitik penonton malam itu.
Lagu Bad Decisions dari album The New Abnormal (2020) yang dibawakan setelah The Modern Age membawa penonton lintas generasi yang hadir menjadi satu suhu.
Kemunculan penonton dari lintas generasi tadi malam sejatinya sebuah kewajaran. Selain penonton seperti saya yang jelang usia 30 dan dibesarkan katalog The Strokes semasa Sekolah Dasar, band ini nyatanya juga jadi idola penonton lepas remaja saat ini.
Memang, banyak penonton hanya mampu bertahan hingga lagu ke-empat atau lima. Setidaknya, sebelum lagu You Only Live Once (YOLO) dibawakan dengan meriah dan trengginas.
Track pertama dari album ketiga, First Impressions of Earth (2006), itu memang menuai atensi lebih dari pendengar baru jauh setelah dirilis, buah algoritma ajaib media sosial.
Lagu itu pun menuai sambutan meriah penonton usai interaksi yang minim, yang mana gimik antara penonton-penampil seperti yang lainnya memang tak perlu diharapkan ada di penampilan The Strokes.
Meski minim interaksi, Julian sempat mengajak penonton bermain drum untuk lagu Juicebox di tengah set. Lagu itu memang andalan The Strokes yang juga memantik hasrat penonton berjingkrak lepas tanpa arah.
Bagi saya, gimik itu cukup tak disangka untuk kelompok musik cuek macam The Strokes. Saya kira, drummer Fabrizio Moretti cuma perlu istirahat minum usai ketukan-ketukan intens nan repetitif tanpa jeda.
Namun ternyata, pola fan service serupa juga dilakukan The Strokes di pertunjukan sebelumnya, seperti di Bangkok beberapa waktu lalu. Zaman memang sudah berubah, begitupula The Strokes.
Meski punya gimik mengajak penonton, toh si penonton bernama Adam itu adalah penabuh drum dari band indie rock asal Jakarta. Sehingga, penampilannya untuk Juicebox pun teruji dan bisa bikin penonton bersemangat dan bertahan di tengah kerumunan yang cukup menyesakkan.
Setelahnya, pilihan set The Strokes cukup pintar dan meredam energi yang sudah meluap-luap. Lagu Is This It yang evergreen jadi senjata bagi masing-masing The Strokes untuk rehat sejenak.
Lanjut ke sebelah...
Selain itu, lagu title track tersebut juga sebagai sarana memperkenalkan ulang jati diri The Strokes sebagai band yang tak peduli dan pasrah, tapi punya prinsip karismatik untuk dikenang.
Lagi pula kekuatan utama The Strokes bukanlah skill set dan kemampuan teknikal dari setiap personelnya dalam memainkan instrumen, karena memang mereka enggak jago-jago banget.
The Strokes juga bukan soal Julian Casablancas semata. Keutuhan lima personel yang saling melengkapi itu membangun citra The Strokes, sehingga layak disebut sebagai salah satu band rock paling berpengaruh dua dekade terakhir.
Lewat Is This It, sisi dominan bassist Nikolai Fraiture yang kebanyakan tampak mematung di panggung jadi lebih kentara. Adalah Nikolai sosok dan nyawa penting dari tiap-tiap lagu The Strokes lewat bassline sederhana, tapi penuh kebaharuan.
Momen Is This It pula seakan jadi permulaan ulang bagi saya dan banyak penonton lain kembali merangsek ke depan dan merasakan aura magis dari The Strokes.
Set kemudian beranjak ke lagu Someday. Kini lagu itu menunjukkan kegemilangan perkawinan lick gitar catchy Albert Hammond Jr dan Nick Valensi, bersama dengan ketukan Fabrizio yang konsisten sepanjang lagu tanpa ada kesan menjemukan.
Menuju akhir penampilan, The Strokes menampilkan berbagai nomor andalan seperti Welcome to Japan, Soma, Automatic Stop, hingga Last Nite sebagai penutup awal set tadi malam.
The Strokes rampung menampilkan setlist gemilang, penampilan sesuai ekspektasi, hingga interaksi Julian dengan penonton yang berkesan. Meski jika membahas soal teknik vokal, Julian juga bukan penyanyi yang brilian.
Julian tak seprima David Bayu, tak seramah dan semeriah Tria Changcuters, atau memiliki suara lembut membius bagai Hedi Yunus. Julian tetaplah Julian. Prinsip serba cuek yang jadi fondasi ia berkarya juga dipertontonkan secara eksplisit di depan ribuan penonton WTF 2023.
Julian benar-benar tak peduli dan hanya ingin mempertontonkan musik bersama empat rekannya yang lain. Itulah kesan yang saya simpan saat melihat The Strokes secara langsung pertama kalinya di Indonesia. Bahkan mereka tak perlu pembuktian memamerkan sisi brilian yang mereka punya.
Encore dengan lagu Hard to Explain dan Reptilia juga berhasil membungkus semangat penonton sehingga jadi penutup mengesankan untuk penampilan mereka di We The Fest 2023.
Bagi penggemar setia The Strokes di Indonesia, konser ini tentu bagai mimpi jadi nyata. Meski bagi saya pribadi, panggung The Strokes akan lebih berkesan bila digelar bukan sebagai bagian dari festival populis.
Selain dari alasan sound out yang harus bersaing dengan belasan ribu penonton lalu lalang, panggung The Strokes bakal terasa optimal bila garis pembatas antara panggung dan penonton sedikit ditiadakan.
Namun setidaknya, WTF 2023 mencoba memberikan satu contoh sederhana bagi penyelenggara konser di Indonesia lainnya: konser tunggal The Strokes layak untuk digelar.
Jakarta, CNN Indonesia --
Penampilan pertama The Strokes di Indonesia sejak menelurkan album debut Is This It (2001) di We The Fest (WTF) 2023 pada Jumat (21/7) malam jelas jadi salah satu momen sakral bagi para penggemarnya, termasuk saya.
Kuintet rock asal New York ini naik panggung WTF 2023 kala malam sudah menyelimuti Jakarta. Mereka langsung hadir di atas panggung dengan ciri khasnya yang selama ini saya lihat di YouTube: cuek, tanpa basa-basi.
Tak perlu panjang kata The Strokes memulai penampilannya. Lagu lawas The Modern Age dari album debut berhasil membuat penonton berjingkrak kegirangan. Atmosfer nostalgia berbalut kerinduan melihat idola secara langsung di tanah Indonesia memang bagai mimpi jadi kenyataan.
The Strokes memang aslinya cuek, tapi sang vokalis, Julian Casablancas masih memberikan celetukan-celetukan sompral yang menggelitik penonton malam itu.
Lagu Bad Decisions dari album The New Abnormal (2020) yang dibawakan setelah The Modern Age membawa penonton lintas generasi yang hadir menjadi satu suhu.
Kemunculan penonton dari lintas generasi tadi malam sejatinya sebuah kewajaran. Selain penonton seperti saya yang jelang usia 30 dan dibesarkan katalog The Strokes semasa Sekolah Dasar, band ini nyatanya juga jadi idola penonton lepas remaja saat ini.
Memang, banyak penonton hanya mampu bertahan hingga lagu ke-empat atau lima. Setidaknya, sebelum lagu You Only Live Once (YOLO) dibawakan dengan meriah dan trengginas.
Track pertama dari album ketiga, First Impressions of Earth (2006), itu memang menuai atensi lebih dari pendengar baru jauh setelah dirilis, buah algoritma ajaib media sosial.
Lagu itu pun menuai sambutan meriah penonton usai interaksi yang minim, yang mana gimik antara penonton-penampil seperti yang lainnya memang tak perlu diharapkan ada di penampilan The Strokes.
Meski minim interaksi, Julian sempat mengajak penonton bermain drum untuk lagu Juicebox di tengah set. Lagu itu memang andalan The Strokes yang juga memantik hasrat penonton berjingkrak lepas tanpa arah.
Bagi saya, gimik itu cukup tak disangka untuk kelompok musik cuek macam The Strokes. Saya kira, drummer Fabrizio Moretti cuma perlu istirahat minum usai ketukan-ketukan intens nan repetitif tanpa jeda.
Namun ternyata, pola fan service serupa juga dilakukan The Strokes di pertunjukan sebelumnya, seperti di Bangkok beberapa waktu lalu. Zaman memang sudah berubah, begitupula The Strokes.
Meski punya gimik mengajak penonton, toh si penonton bernama Adam itu adalah penabuh drum dari band indie rock asal Jakarta. Sehingga, penampilannya untuk Juicebox pun teruji dan bisa bikin penonton bersemangat dan bertahan di tengah kerumunan yang cukup menyesakkan.
Setelahnya, pilihan set The Strokes cukup pintar dan meredam energi yang sudah meluap-luap. Lagu Is This It yang evergreen jadi senjata bagi masing-masing The Strokes untuk rehat sejenak.
Lanjut ke sebelah...
Menanti Konser Tunggal The Strokes
WTF 2023 mencoba memberikan satu contoh sederhana bagi penyelenggara konser di Indonesia lainnya: konser tunggal The Strokes layak untuk digelar. (Getty Images via AFP/MICHAEL LOCCISANO)
Selain itu, lagu title track tersebut juga sebagai sarana memperkenalkan ulang jati diri The Strokes sebagai band yang tak peduli dan pasrah, tapi punya prinsip karismatik untuk dikenang.
Lagi pula kekuatan utama The Strokes bukanlah skill set dan kemampuan teknikal dari setiap personelnya dalam memainkan instrumen, karena memang mereka enggak jago-jago banget.
The Strokes juga bukan soal Julian Casablancas semata. Keutuhan lima personel yang saling melengkapi itu membangun citra The Strokes, sehingga layak disebut sebagai salah satu band rock paling berpengaruh dua dekade terakhir.
Lewat Is This It, sisi dominan bassist Nikolai Fraiture yang kebanyakan tampak mematung di panggung jadi lebih kentara. Adalah Nikolai sosok dan nyawa penting dari tiap-tiap lagu The Strokes lewat bassline sederhana, tapi penuh kebaharuan.
Momen Is This It pula seakan jadi permulaan ulang bagi saya dan banyak penonton lain kembali merangsek ke depan dan merasakan aura magis dari The Strokes.
Set kemudian beranjak ke lagu Someday. Kini lagu itu menunjukkan kegemilangan perkawinan lick gitar catchy Albert Hammond Jr dan Nick Valensi, bersama dengan ketukan Fabrizio yang konsisten sepanjang lagu tanpa ada kesan menjemukan.
Menuju akhir penampilan, The Strokes menampilkan berbagai nomor andalan seperti Welcome to Japan, Soma, Automatic Stop, hingga Last Nite sebagai penutup awal set tadi malam.
The Strokes rampung menampilkan setlist gemilang, penampilan sesuai ekspektasi, hingga interaksi Julian dengan penonton yang berkesan. Meski jika membahas soal teknik vokal, Julian juga bukan penyanyi yang brilian.
Julian tak seprima David Bayu, tak seramah dan semeriah Tria Changcuters, atau memiliki suara lembut membius bagai Hedi Yunus. Julian tetaplah Julian. Prinsip serba cuek yang jadi fondasi ia berkarya juga dipertontonkan secara eksplisit di depan ribuan penonton WTF 2023.
Julian benar-benar tak peduli dan hanya ingin mempertontonkan musik bersama empat rekannya yang lain. Itulah kesan yang saya simpan saat melihat The Strokes secara langsung pertama kalinya di Indonesia. Bahkan mereka tak perlu pembuktian memamerkan sisi brilian yang mereka punya.
Encore dengan lagu Hard to Explain dan Reptilia juga berhasil membungkus semangat penonton sehingga jadi penutup mengesankan untuk penampilan mereka di We The Fest 2023.
Bagi penggemar setia The Strokes di Indonesia, konser ini tentu bagai mimpi jadi nyata. Meski bagi saya pribadi, panggung The Strokes akan lebih berkesan bila digelar bukan sebagai bagian dari festival populis.
Selain dari alasan sound out yang harus bersaing dengan belasan ribu penonton lalu lalang, panggung The Strokes bakal terasa optimal bila garis pembatas antara panggung dan penonton sedikit ditiadakan.
Namun setidaknya, WTF 2023 mencoba memberikan satu contoh sederhana bagi penyelenggara konser di Indonesia lainnya: konser tunggal The Strokes layak untuk digelar.