Di antara banyak perbincangan soal Barbie, ada penilaian miring dari para lelaki akan film yang dianggap feminis itu. (Warner Bros. Pictures via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --
Artikel ini mengandung spoiler/beberan...
Mulai dari jelang rilis hingga sepekan lebih penayangan, Barbie sukses jadi buah bibir. Mulai dari penasaran bagaimana kisah boneka ikonis itu akan ditampilkan, hingga kaget dengan materi sosial yang diangkat Greta Gerwig.
Buah bibir itu termasuk bagaimana Barbie dipandang oleh masing-masing gender penonton. Pandangan-pandangan itu tersebar di media sosial, baik dari Indonesia hingga di Amerika Serikat.
Bagi penonton perempuan, banyak dari mereka yang merasa nostalgia, terharu, bahkan merasa terwakili dengan banyak adegan dan dialog di dalam Barbie.
Sementara itu bagi penonton laki-laki, sebagian merasa terhibur dan melihat Barbie sebagai materi hiburan menyenangkan. Namun tak sedikit yang memberikan pandangan miring bahkan menilai sebagai propaganda feminisme.
Hal itu terlihat mulai dari cerita para perempuan yang mengaku pacarnya enggan diajak tonton bareng Barbie karena menilai film itu "bikin cewek merasa enggak butuh cowok" atau omongan "cowok kok nonton Barbie".
Pengamat perfilman dan budaya populer Hikmat Darmawan menilai justru penilaian-penilaian miring terhadap Barbie dari segelintir kaum Adam membuktikan bahwa isu yang diangkat Greta Gerwig benar adanya.
Dalam Barbie, Greta menampilkan dengan kuat bagaimana gagasan patriarki yang diimpor Ken dari dunia nyata mengubah Barbieland. Para Barbie yang semula mampu menjadi apapun, malah jadi tak lebih dari pendamping Ken.
"Itu yang sekarang di media sosial di dalam dan luar negeri, itu toxic masculinity, sesuatu yang basi tapi bangkit lagi," kata Hikmat. "Apakah relasi karena harus butuh cowok atau kalaupun enggak dibutuhkan, ya terus kenapa? Itu persis isunya,"
"Kalau mereka insecure karena itu [film Barbie], justru mereka membuktikan isu di film Barbie itu benar dong," kata Hikmat.
Berkebalikan dengan omongan miring di media sosial itu, film Barbie sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan "cewek enggak butuh cowok".
Kesan miring itu mungkin muncul dari bagian awal ketika cerita berpusat pada Barbieland, ketika seluruh Barbie 'menguasai' dunia itu sementara para Ken hanya sibuk cari perhatian para Barbie.
Greta dan Noah Baumbach selaku penulis membalikkan kondisi saat Beach Ken (Ryan Gosling) pulang sendirian ke Barbieland dari dunia nyata dengan membawa pemahaman patriarki. Ken dan kaumnya kemudian 'menguasai' dunia fantasi itu.
Cerita lalu menuju keseimbangan gender saat Stereotypical Barbie (Margot Robbie) tersadarkan oleh monolog memukau dari Gloria yang diperankan oleh America Ferrera. Monolog itu berisi bagaimana rumitnya menjadi seorang perempuan dalam dunia nyata.
Dari sana, satu per satu Barbie kemudian memahami bahwa dunia mereka harus kembali direbut. Namun yang menarik, Stereotypical Barbie menyadari bahwa kemenangan para Barbie merebut kembali Barbieland dari kaum Ken tidaklah menyelesaikan masalah.
"Jika dibilang bahwa kisah film Barbie ini membuat cewek enggak butuh cowok, saya justru memiliki pandangan yang berbeda," kata produser film yang juga aktivis gender, Tunggal Pawestri, saat berkorespondensi dalam kesempatan terpisah.
"Saya malah melihat bahwa Barbie pada akhirnya harus mengakui bahwa tidak boleh hanya satu gender saja yang 'mengendalikan' semuanya," lanjutnya.
"Bahkan di dunia fantasi [Barbieland], cowok (Ken) harus dilibatkan lebih aktif dalam kehidupannya, terutama saat Barbie pada akhirnya juga setuju untuk tidak lagi melulu membuat girl's night party, 'not every night has to be girls' night'." katanya mengutip dialog dalam film itu.
Selain itu, Greta juga menampilkan bagaimana nilai feminisme yang dibawa para Barbie dengan pemahaman versi baru ini 'membebaskan' Ken dari maskulinitas toksik yang mencegah mereka menjadi dirinya sendiri.
Dalam sebuah percakapan, Stereotypical Barbie mendorong bahwa sudah waktunya Ken untuk mencari makna dirinya dan bukan hanya semata untuk menemani Barbie. Dengan kata lain, Ken is not 'just Ken'.
"Mungkin ketidaksukaan terhadap konsep feminisme, ya karena feminisme pada dasarnya menggugat banyak hal yang selama ini memberikan kenyamanan dan lebih banyak keuntungan pada satu gender saja. Sedikit saja orang biasanya mau diganggu kenyamanannya," kata Tunggal.
"Padahal mestinya feminisme itu dilihat sebagai upaya untuk membuat semua gender mendapatkan akses dan kesempatan yang setara. Tidak ada lagi satupun manusia yang dirugikan karena gendernya. Simple kan? Dan mosok sih enggak mau mendukungnya?" katanya.
Meski Greta dan Noah sudah menampilkan akhir kisah Barbie yang menyetarakan bagi kedua gender, segala omongan miring dan kebencian terhadap film ini tetap terdengar.
Hikmat Darmawan bahkan melihat lebih jauh. Meski sebenarnya pro dan kontra itu biasa, tapi omongan miring soal Barbie di dunia nyata juga membuktikan isu budaya populer yang diangkat Greta Gerwig, yakni budaya fandom toksik.
Greta dan Noah pun menggunakan fenomena itu dalam sejumlah candaan yang muncul di film Barbie. Salah satunya saat Writer Barbie (Alexandra Shipp) tersadar dari budaya patriarki.
"Ini seperti saya berada dalam sebuah mimpi ketika saya benar-benar hanyut dalam Justice League Zack Snyder's cut," kata Writer Barbie saat tersadar.
Kalimat itu merujuk pada fenomena perundungan di media sosial yang dilakukan oleh penggemar fanatik Zack Snyder untuk menekan Warner Bros merilis Justice League versi sutradara itu.
Kampanye yang sebagian besar dilakukan oleh para fandom anonim ber-ava karakter DC dan diyakini laki-laki itu berjalan dari 2019, hingga akhirnya versi Snyder rilis 2021.
Banyak orang jadi 'korban' perundungan ini, mulai dari staf dan pejabat studio, hingga James Gunn yang menerima ancaman pembunuhan kala menggarap The Suicide Squad (2021) dari sebuah akun fan ber-ava karakter Batman.
"[referensi toksik fandom] Itu sangat kekinian. Itu contoh terkini toxic fan culture. Itu bentuk terkini bukan hanya patriarki ya, tapi bahkan misoginis, benci terhadap perempuan," kata Hikmat.
Hikmat mengacu pada subkultur comicsgate yang dikenal di kalangan penggemar komik sayap-kanan alias konservatif. Penganut comicsgate menolak diversifikasi pada industri komik seperti berpusat pada perempuan, orang kulit berwarna, serta LGBT.
Comicsgate ini sendiri menular dari subkultur gamergate yang muncul sejak masa awal internet pada 2000-an. Para penganut gamergate tidak suka pada keberadaan perempuan dalam dunia gim yang dianggap mengancam eksistensi mereka.
Bukan hanya itu, para gamer laki-laki yang merasa terancam ini juga merasa tertindas dengan gamer perempuan yang lebih jago dan dinilai membuat mereka tak bisa mendapatkan kekasih perempuan.
"Itu agak terlihat di Indonesia tapi mungkin tidak, belum, seekstrem Amerika. Di Amerika lebih ekstrem, tapi kelihatan di 'ngabngab' itu, merasa harus memukul balik feminisme, menyalahkan semua hal dalam diri mereka pada feminisme," kata Hikmat.
"Kalau para 'ngabngab' dan orang konservatif itu merasa keberatan dengan film Barbie dengan alasan perempuan jadi enggak butuh laki-laki, kan itu jadi membuktikan kebenaran film tersebut." lanjutnya.
Terlepas dari pro dan kontra soal Barbie, Hikmat sendiri menilai bahwa karya Greta Gerwig ini amatlah menyenangkan meski sebelumnya terlihat 'mustahil' dibuat karena latar belakang sineasnya yang realis dalam membuat film.
Senada dengan Hikmat, Barbie juga dianggap Tunggal Pawestri sebagai film yang mampu bisa mengangkat tema-tema kekinian dengan cara "pop". Meskipun, ia skeptis Barbie bisa segera membuka pikiran laki-laki akan isu yang dihadapi perempuan "atau mendadak jadi feminis".
"Tapi ya, tonton sajalah, lalu diskusikan dengan teman perempuan dan pasanganmu. Pasti seru kan punya bahan pembicaraan." kata Tunggal.
Jakarta, CNN Indonesia --
Artikel ini mengandung spoiler/beberan...
Mulai dari jelang rilis hingga sepekan lebih penayangan, Barbie sukses jadi buah bibir. Mulai dari penasaran bagaimana kisah boneka ikonis itu akan ditampilkan, hingga kaget dengan materi sosial yang diangkat Greta Gerwig.
Buah bibir itu termasuk bagaimana Barbie dipandang oleh masing-masing gender penonton. Pandangan-pandangan itu tersebar di media sosial, baik dari Indonesia hingga di Amerika Serikat.
Bagi penonton perempuan, banyak dari mereka yang merasa nostalgia, terharu, bahkan merasa terwakili dengan banyak adegan dan dialog di dalam Barbie.
Sementara itu bagi penonton laki-laki, sebagian merasa terhibur dan melihat Barbie sebagai materi hiburan menyenangkan. Namun tak sedikit yang memberikan pandangan miring bahkan menilai sebagai propaganda feminisme.
Hal itu terlihat mulai dari cerita para perempuan yang mengaku pacarnya enggan diajak tonton bareng Barbie karena menilai film itu "bikin cewek merasa enggak butuh cowok" atau omongan "cowok kok nonton Barbie".
Pengamat perfilman dan budaya populer Hikmat Darmawan menilai justru penilaian-penilaian miring terhadap Barbie dari segelintir kaum Adam membuktikan bahwa isu yang diangkat Greta Gerwig benar adanya.
Dalam Barbie, Greta menampilkan dengan kuat bagaimana gagasan patriarki yang diimpor Ken dari dunia nyata mengubah Barbieland. Para Barbie yang semula mampu menjadi apapun, malah jadi tak lebih dari pendamping Ken.
"Itu yang sekarang di media sosial di dalam dan luar negeri, itu toxic masculinity, sesuatu yang basi tapi bangkit lagi," kata Hikmat. "Apakah relasi karena harus butuh cowok atau kalaupun enggak dibutuhkan, ya terus kenapa? Itu persis isunya,"
"Kalau mereka insecure karena itu [film Barbie], justru mereka membuktikan isu di film Barbie itu benar dong," kata Hikmat.
Berkebalikan dengan omongan miring di media sosial itu, film Barbie sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan "cewek enggak butuh cowok".
Kesan miring itu mungkin muncul dari bagian awal ketika cerita berpusat pada Barbieland, ketika seluruh Barbie 'menguasai' dunia itu sementara para Ken hanya sibuk cari perhatian para Barbie.
Greta dan Noah Baumbach selaku penulis membalikkan kondisi saat Beach Ken (Ryan Gosling) pulang sendirian ke Barbieland dari dunia nyata dengan membawa pemahaman patriarki. Ken dan kaumnya kemudian 'menguasai' dunia fantasi itu.
Cerita lalu menuju keseimbangan gender saat Stereotypical Barbie (Margot Robbie) tersadarkan oleh monolog memukau dari Gloria yang diperankan oleh America Ferrera. Monolog itu berisi bagaimana rumitnya menjadi seorang perempuan dalam dunia nyata.
Dari sana, satu per satu Barbie kemudian memahami bahwa dunia mereka harus kembali direbut. Namun yang menarik, Stereotypical Barbie menyadari bahwa kemenangan para Barbie merebut kembali Barbieland dari kaum Ken tidaklah menyelesaikan masalah.
"Jika dibilang bahwa kisah film Barbie ini membuat cewek enggak butuh cowok, saya justru memiliki pandangan yang berbeda," kata produser film yang juga aktivis gender, Tunggal Pawestri, saat berkorespondensi dalam kesempatan terpisah.
"Saya malah melihat bahwa Barbie pada akhirnya harus mengakui bahwa tidak boleh hanya satu gender saja yang 'mengendalikan' semuanya," lanjutnya.
"Bahkan di dunia fantasi [Barbieland], cowok (Ken) harus dilibatkan lebih aktif dalam kehidupannya, terutama saat Barbie pada akhirnya juga setuju untuk tidak lagi melulu membuat girl's night party, 'not every night has to be girls' night'." katanya mengutip dialog dalam film itu.
Selain itu, Greta juga menampilkan bagaimana nilai feminisme yang dibawa para Barbie dengan pemahaman versi baru ini 'membebaskan' Ken dari maskulinitas toksik yang mencegah mereka menjadi dirinya sendiri.
Dalam sebuah percakapan, Stereotypical Barbie mendorong bahwa sudah waktunya Ken untuk mencari makna dirinya dan bukan hanya semata untuk menemani Barbie. Dengan kata lain, Ken is not 'just Ken'.
Greta dan Noah Baumbach selaku penulis membalikkan kondisi saat Beach Ken (Ryan Gosling) pulang sendirian ke Barbieland dari dunia nyata dengan membawa pemahaman patriarki. (Warner Bros. Pictures)
"Mungkin ketidaksukaan terhadap konsep feminisme, ya karena feminisme pada dasarnya menggugat banyak hal yang selama ini memberikan kenyamanan dan lebih banyak keuntungan pada satu gender saja. Sedikit saja orang biasanya mau diganggu kenyamanannya," kata Tunggal.
"Padahal mestinya feminisme itu dilihat sebagai upaya untuk membuat semua gender mendapatkan akses dan kesempatan yang setara. Tidak ada lagi satupun manusia yang dirugikan karena gendernya. Simple kan? Dan mosok sih enggak mau mendukungnya?" katanya.
Meski Greta dan Noah sudah menampilkan akhir kisah Barbie yang menyetarakan bagi kedua gender, segala omongan miring dan kebencian terhadap film ini tetap terdengar.
Hikmat Darmawan bahkan melihat lebih jauh. Meski sebenarnya pro dan kontra itu biasa, tapi omongan miring soal Barbie di dunia nyata juga membuktikan isu budaya populer yang diangkat Greta Gerwig, yakni budaya fandom toksik.
Greta dan Noah pun menggunakan fenomena itu dalam sejumlah candaan yang muncul di film Barbie. Salah satunya saat Writer Barbie (Alexandra Shipp) tersadar dari budaya patriarki.
"Ini seperti saya berada dalam sebuah mimpi ketika saya benar-benar hanyut dalam Justice League Zack Snyder's cut," kata Writer Barbie saat tersadar.
Kalimat itu merujuk pada fenomena perundungan di media sosial yang dilakukan oleh penggemar fanatik Zack Snyder untuk menekan Warner Bros merilis Justice League versi sutradara itu.
Kampanye yang sebagian besar dilakukan oleh para fandom anonim ber-ava karakter DC dan diyakini laki-laki itu berjalan dari 2019, hingga akhirnya versi Snyder rilis 2021.
Banyak orang jadi 'korban' perundungan ini, mulai dari staf dan pejabat studio, hingga James Gunn yang menerima ancaman pembunuhan kala menggarap The Suicide Squad (2021) dari sebuah akun fan ber-ava karakter Batman.
"[referensi toksik fandom] Itu sangat kekinian. Itu contoh terkini toxic fan culture. Itu bentuk terkini bukan hanya patriarki ya, tapi bahkan misoginis, benci terhadap perempuan," kata Hikmat.
Hikmat mengacu pada subkultur comicsgate yang dikenal di kalangan penggemar komik sayap-kanan alias konservatif. Penganut comicsgate menolak diversifikasi pada industri komik seperti berpusat pada perempuan, orang kulit berwarna, serta LGBT.
Comicsgate ini sendiri menular dari subkultur gamergate yang muncul sejak masa awal internet pada 2000-an. Para penganut gamergate tidak suka pada keberadaan perempuan dalam dunia gim yang dianggap mengancam eksistensi mereka.
Bukan hanya itu, para gamer laki-laki yang merasa terancam ini juga merasa tertindas dengan gamer perempuan yang lebih jago dan dinilai membuat mereka tak bisa mendapatkan kekasih perempuan.
"Itu agak terlihat di Indonesia tapi mungkin tidak, belum, seekstrem Amerika. Di Amerika lebih ekstrem, tapi kelihatan di 'ngabngab' itu, merasa harus memukul balik feminisme, menyalahkan semua hal dalam diri mereka pada feminisme," kata Hikmat.
"Kalau para 'ngabngab' dan orang konservatif itu merasa keberatan dengan film Barbie dengan alasan perempuan jadi enggak butuh laki-laki, kan itu jadi membuktikan kebenaran film tersebut." lanjutnya.
Terlepas dari pro dan kontra soal Barbie, Hikmat sendiri menilai bahwa karya Greta Gerwig ini amatlah menyenangkan meski sebelumnya terlihat 'mustahil' dibuat karena latar belakang sineasnya yang realis dalam membuat film.
Senada dengan Hikmat, Barbie juga dianggap Tunggal Pawestri sebagai film yang mampu bisa mengangkat tema-tema kekinian dengan cara "pop". Meskipun, ia skeptis Barbie bisa segera membuka pikiran laki-laki akan isu yang dihadapi perempuan "atau mendadak jadi feminis".
"Tapi ya, tonton sajalah, lalu diskusikan dengan teman perempuan dan pasanganmu. Pasti seru kan punya bahan pembicaraan." kata Tunggal.