Jakarta, CNN Indonesia -- Film Barbie karya Greta Gerwig mencetak rekor baru setelah mendominasi box office di banyak negara pada pekan tayang perdana.
Film yang dibintangi Margot Robbie dan Ryan Gosling itu menorehkan pendapatan hingga US$155 juta atau sekitar Rp2,32 triliun (US$1=Rp15.030) untuk box office Amerika Utara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diberitakan Variety pada Minggu (23/7), capaian tersebut jauh melampaui proyeksi awal dengan perkiraan US$75 juta. Selain itu, Barbie juga mencetak rekor baru berkat performa impresif di bioskop pada pekan perdana tersebut.
Kendati demikian, ternyata tak banyak negara menyambut hangat film yang dipromosikan secara besar-besaran tersebut. Ada yang masih menggantungkan jadwal tayang, tapi ada pula yang sudah terang-terangan melarang penayangan film itu.
Berikut daftar negara dan wilayah yang diberitakan melarang tayang film Barbie.
[Gambas:Video CNN]
Vietnam
Vietnam melarang penayangan film Barbie buatan Warner Bros. karena menampilkan peta Laut China Selatan versi Beijing dalam salah satu adegan.
Media pemerintah Vietnam, Tuoi Tre, melaporkan peta tersebut menunjukkan "wilayah yang diklaim secara sepihak oleh China di Laut China Selatan."
"Kami tidak memberikan lisensi untuk film Amerika 'Barbie' untuk dirilis di Vietnam karena mengandung gambar yang menyinggung dari sembilan garis putus-putus," kata Kepala Departemen Sensor dan Perizinan Film Asing Vietnam, Vi Kien Thanh, kepada koran itu.
Peta dalam salah satu adegan Barbie dilaporkan memperlihatkan sembilan garis putus-putus atau nine dash-line berbentuk U melintang di Laut China Selatan.
Garis 'nine dash-line' kerap digunakan China untuk mengilustrasikan klaim teritorial di Laut China Selatan.
Sementara itu, klaim China atas lebih dari 90 persen Laut China Selatan itu tumpang tindih dengan wilayah perairan negara di Asia Tenggara termasuk Vietnam.
Meski klaim China atas Laut China Selatan telah dimentahkan Pengadilan Arbitrase Internasional pada 2016 lalu, Beijing terus menekankan pengaruhnya atas perairan tersebut dengan membangun pulau buatan hingga menempatkan instalasi militer di kawasan tersebut.
Kawasan Timur Tegah
Film Barbie dikabarkan dilarang tayang di Arab Saudi dan sejumlah negara lain di wilayah Timur Tengah.
Padahal, seperti diberitakan Cosmopolitan Middle East pada Senin (31/7) awalnya film yang dibintangi Margot Robbie dan Ryan Gosling tersebut dijadwalkan tayang 20 Juli di kawasan tersebut.
Namun, MovSto selaku jaringan bioskop terbesar dan platform entertainment di Arab Saudi mengumumkan film Barbie tidak akan tayang di beberapa negara Timur Tengah.
"Resmi: Film Barbie tidak akan tayang di Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain," cuit MovSto pada Jumat (30/7) waktu setempat.
Tak ada detail alasan di balik keputusan tidak menayangkan film yang berhasil mencetak rekor debut box office di Amerika Utara tersebut.
Menurut laporan Co-Operation of Wordwide Broadcast, kemungkinan alasan terbesar Barbie dilarang tayang di Timur Tengah adalah konten LGBTQ+ dalam film, serta nada dan pesan keseluruhan film tersebut.
Sensitivitas budaya, pertimbangan keagamaan, faktor politik dan sosial, persepsi masyarakat dan pengaruh media menjadi hal-hal utama yang membuat Barbie disebut gagal tayang di sejumlah negara wilayah Timur Tengah.
Lanjut ke sebelah...
Daftar Negara Dikabarkan Larang Barbie Tayang, Vietnam hingga Rusia
Berikut beberapa negara yang dikabarkan larang tayang Barbie, mulai dari alasan politik hingga diduga tak sesuai dengan nilai yang dijunjung. (Warner Bros. Pictures via YouTube Barbie)
Pakistan
Film Barbie sempat dilarang tayang sementara di provinsi Punjab, Pakistan, karena konten yang dianggap tidak pantas untuk disiarkan.
Menurut laporan India Today pada Minggu (23/7) lalu, gagal tayangnya Barbie di wilayah Punjab, Pakistan dikarenakan dewan sensor film Punjab tidak segera mengeluarkan No-Objection Certificate (NOC) atau sertifikat yang meloloskan tayangnya sebuah film di sana.
Beberapa bioskop besar di Lahore, ibu kota provinsi Punjab, seperti Cue Cinemas, Cine Star, dan Universal Cinemas, tidak memutar film tersebut pada pekan perdana penayangan Barbie di seluruh dunia.
Namun, sumber dari The Express Tribune menyatakan bahwa film tersebut sebenarnya tidak dilarang di provinsi Punjab dan dewan sensor telah mengeluarkan NOC pada hari Kamis, (19/7).
Dewan sensor menuntut agar beberapa kata yang dianggap mempromosikan homoseksualitas harus dipotong atau disensor. Hal itu tidak langsung disetujui HKC Entertainment, distributor lokal film Barbie di wilayah Pakistan.
[Gambas:Video CNN]
Puncaknya pada Sabtu, (22/7), seorang narasumber dari dewan sensor mengatakan bahwa distributor akhirnya setuju melakukan penyensoran sehingga Barbie bisa tayang di bioskop Pakistan, termasuk provinsi Punjab.
Namun, beberapa kawasan Pakistan masih menayangkan Barbie tanpa sensor dialog dan pemotongan adegan, seperti di wilayah Sindh dan Wilayah Ibukota Islamabad (ICT).
Rusia
Film Barbie tidak ditayangkan di Rusia karena kebijakan Warner Bros. dan studio-studio film Barat lain untuk mengembargo pasokan film mereka ke Rusia imbas invasi Ukraina pada awal 2022.
Meskipun demikian, menurut laporan Komsomolskaya Pravda, Minggu (23/7), para penggemar film Barbie tetap berusaha ambil bagian demi penayangan film tersebut.
Banyak anak muda di Moskwa dan kota-kota besar lain di Rusia memamerkan pakaian merah muda mereka di media sosial, serta memajang beberapa tempat yang juga dihias dengan properti ala Barbie.
Di seluruh Rusia, bar, kafe, dan toko roti meluncurkan acara-acara bertema Barbie dan mengadopsi gaya estetika Barbie yang serba merah muda.
Dalam laporan tersebut, beberapa bioskop di Rusia bahkan berencana memutar Barbie secara ilegal dengan menayangkan salinan bajakan berkualitas tinggi.
Namun, hubungan pemerintah Rusia dan Barbie memang telah panas sejak dulu. Pada 2002 lalu, Putin melarang Barbie beserta mainan-mainan asal Barat lainnya karena dianggap berdampak negatif pada pola pikir anak-anak Rusia.
Kementerian Pendidikan Rusia menyatakan bahwa mainan-mainan tersebut memiliki efek yang merugikan pada anak-anak dan diduga dapat membangkitkan dorongan seksual serta mendorong perilaku konsumerisme.
[Gambas:Youtube]